
πππππππππ
" Oh, jadi Lo mau gue bukain?, bilang dong. Sini cepetan!!!"
Air mendekat kearah Hujan yang tidur menyamping, dengan bertumpu di kedua tangannya, kini ia mulai menempelkan tubuhnya setelah mengubah posisi tidur Hujan menjadi berbaring terlentang.
" Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa".β Bisiknya pelan.
"Hafalin ya, nanti kita bakal sering sering baca ini" tambahnya lagi.
Hujan mengangguk dengan mata terpejam.
Dengan perasaan takut, malu, bingung dan penasaran Air pun memberanikan diri memulainya, ia mencium pelan pipi kanan istrinya, dan perlahan menuju leher jenjang Hujan yang memang sering ia nikmati sedari sebelum menikah.
"Gak apa-apa kan sekarang?" bisiknya lagi.
"Gak apa-apa, asal pelan pelan" jawab Hujan dengan nada bergetar.
"Kelamaan, keburu tidur gue" ucapnya saat kedua wajah mereka kembali berhadapan.
matanya menatap bibir ranum sang istri yang baru dua kali ia nikmati.
Dengan niat yang mantap akhirnya bibir mereka kembali bersentuhan dengan begitu lembut, Air menyesapnya dengan pelan, mengigit kecil bibir itu agar mau sedikit terbuka.
"Ay.." desah Hujan dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa?" tanyanya pada sang istri yang di jawab gelengan kepala.
Dirasa Hujan mulai kembali tenang, iapun kembali mengulang ciumannya, kali ini tak selembut tadi karena ada perasaan yang membuat ia ingin menuntut lebih dari yang sebelumnya.
Hujan mulai melenguh saat ia kehabisan nafas, Air sama sekali tak memberinya jeda meski hanya sedetik.
"Ay..." Hujan melepas paksa ciuman mereka.
"Capek ya?" tanyanya sambil mengusap Kening sang istri yang sudah banjir oleh keringat.
"Lanjut ya, tanggung" kekehnya yang kembali menenggelamkan kepalanya di ceruk leher sang istri dengan sesekali menyesapnya lembut.
__ADS_1
De sah an Hujan membuat Air semakin berani untuk menyentuh bagian lain tubuh istrinya.
Puas di bibir dan leher, kini tangannya mulai jahil meraba perut Hujan sampai gadis itu menggelinjang kegelian.
"Jangan, Ay. Geli banget sumpah" mohon Hujan.
Air hanya tertawa kecil.
"Ini boleh pegang?" izinnya pada Hujan sambil menunjuk dua daging kenyal yang sudah ia rasakan kehangatannya kemarin malam.
"Boleh, Ay.. semua buat Lo dan hanya Sama Lo" ucap Hujan pasrah sambil tersenyum manis, rasa takutnya hilang saat sang suami menyentuhnya dengan begitu lembut.
Serasa sudah mendapat izin, kini tangan kanannya pun sudah berada diatas daging kenyal tersebut yang masih tertutup baju.
Ia hanya memegangnya tanpa melakukan hal lebih, Hujan yang tahu area sensitifnya sedang di pandangi langsung membuang muka.
"Gini doang?, kayanya enggak kan ya?" pertanyaan polos begitu saja ia lontarkan.
Dengan ragu ia mulai me re masnya sedikit, tentu itu langsung membuat Hujan reflek merintih.
"Sakit ya?"
Hujan mengangguk kecil
"Kaget aja, Ay" jawabnya pelan.
Air bangun dari posisinya, kini kedua lututnya lah yang menopang tubuh tinggi putihnya diatas tubuh hujan.
Air menarik ujung kaosnya hingga keatas sampai terlepas, lalu melemparnya ke sembarang arah.
Dada polosnya kini terpampang jelas di depan mata Hujan, gadis itu bagai tercekat.
"Buka ya?" pintanya pada sang istri sambil memegang ujung baju Hujan.
"Hem, iya"
Dengan perlahan Air menarik ujung baju istrinya, tapi baru sampai di bagia perut ia langsung menghentikan aksinya itu.
__ADS_1
"kenapa lagi?" tanya Hujan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ntar .. gue matiin lampu dulu.
Malu tau, sumpah!!!!
ππππππππππππ
Kalo gelap ntar nyasar kak..
kita yang mau nonton gak keliatan ππππππ
Aku tuh udah sedia cireng nih ππ
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈ
__ADS_1