
πππππ
"Emang bisa masak nongol di dapur?" goda Air yang mengangetkan istrinya yang sibuk memilih bahan makanan di lemari pendingin.
Air langsung memutar tubuh Hujan kemudian
me lu mat habis bibir ranum itu.
"Gue tuh harus kuat, Ay.. di godain Lo itu kan bikin lemes" kekeh Hujan setelah ia melepas ciumannya.
"Di kasih enak protes mulu"
Air berlalu ke sofa meninggalkan Hujan yang entah ia akan membuat apa untuk mereka makan, mengingat hari ini hari terakhir mereka liburan karna sore nanti keduanya akan kembali pulang ke kota.
Sepuluh hari sudah cukup bagi mereka benar-benar hidup berdua tanpa ada pengganggu sama sekali termasuk dering telepon, Air memanfaatkan waktu yang ia miliki bersama sang istri sebaik mungkin seakan ia tak bisa lagi bertemu Hujan esok hari.
"Ay, pake sayur dikit ya" teriak gadis halalnya dari dapur.
"Enggak" jawab Air cepat.
Ia menggerutu kesal Karna Hujan sering kali memaksanya untuk sedikit makan sayur padahal itu adalah hal yang paling ia benci sedari kecil bahkan mungkin sebelum ia lahir.
Lima menit kemudian Hujan datang dengan nampan di tangannya, ada dia mangkuk besar yang terlihat kepulan asap di atasnya.
"Bikin apa sih, heboh banget?" tanya Air yang memang belum tahu apa yanh di masak sang istri.
"Masak mie, hahaha" ia menjawab dengan gelak tawa.
"Nih makan, wajib abisin" titah Hujan dengan sangat memaksa.
Air meraih mangkuk tersebut dan mulai menyicipinya.
"Lo bikinnya pake apa, Jan?" tanya Air sambil mengunyah suapan pertamanya.
"Pake kerja keras dan tekad juga niat yang kuat" kekehnya lagi, ia masih ragu dengan rasa masakannya.
__ADS_1
"Pake cinta gak?" goda Air.
"Pake dong, gak liat itu telornya bentuk lope, haha"
"Pantes Enak!"
Hujan tersenyum simpul, apapun yang mereka lakukan meski itu hal biasa tapi entah kenapa semuanya terasa indah, jika Hujan bisa memohon terkadang ia ingin waktu untuk lambat berjalan.
Ia akan mengabadikan semua momen kebersamaan mereka selama lebih dari enam bulan menikah.
Kebersamaan singkat memang, tapi serasa dunia hanya milik mereka berdua.
Usai menikmati mie yang sebenarnya Rasanya biasa saja, mereka pun mulai membersihkan diri kemudian berkemas barang-barang termasuk si pisang yang tak boleh tertinggal sama sekali.
"Sepuluh hari cepet ya, Ay. padahal cuma kasur sumur dapur" ucap Hujan saat ia duduk di kursi meja rias.
Hujan menatap tubuh tinggi putih Suaminya dari pantulan cermin sedang memainkan ponselnya.
"Hem, mang Lo mau ngapain lagi?"
"Enggak, begini juga gue udah bahagia, Ay" jawab Hujan meski dengan rasa malu yang luar biasa.
"Bilang apa, tadi?" tanya Air.
"Gue bahagia, Ay" balas Hujan yakin.
"Jangan pergi, janji ya?" pinta pemuda itu yang kini sudah meletakan dagunya di bahu sang istri.
"Hem, iya"
"Janji pokoknya gak boleh kemana-mana, gue gak mau kangen" lirih Air begitu berharap mereka akan Selalu bersama.
"Iya, Airnya Hujan" kekeh Gadis itu sambil mengelus pipi suaminya.
Keduanya kembali berciuman sebelum benar-benar pergi meninggalkan rumah menuju mobil yang akan mengantar mereka ke kota, ke apartemen orangtuanya yang sudah sangat merindukan Air dan Hujan.
"Foto dulu ah, buat kenangan" ucap Hujan sambil mengeluarkan ponselnya.
"Genit banget dah sumpah!" ejek Air sambil mencibir.
__ADS_1
"Bodo amat, sirik ya gak gue ajak foto?" Hujan tak kalah mengejek suaminya yang mulai memasang wajah masam.
"Jan, Lo tau gak?"
"Gue tau juga bakal pura-pura gak tau, Ay"
"Nyebelin!" dengus Air kesal.
"Udah cepet, Lo mau tebak-tebakan apa?" tanya Hujan.
"Apa persamaan Lo sama Mangga?"
"Hem apa ya?, gue mau pasrah deh biar seru" ejek Hujan sambil terkekeh.
.
.
.
.
.
.
.
.
Persamaan Lo sama Mangga itu ...
Kalian sama-sama HARUM dan MANIS!!!
Gue keresekin ya kak π€π€π€
Demen banget modus, gue Curiga Lo reinkarnasi alm Sapri ππ
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ