
ππππππππ
"Ya elah ini yang ngitung duit gakan kelar-kelar sih, Jan!" Cetus Air yang melihat Hujan masih sibuk menghitung lembaran demi lembaran pecahan merah dan biru di tangannya.
"Empat puluh pintu, Ay" kekehnya dengan semangat.
"Lima pintu ya yang kosong" sambungnya lagi.
Air hanya mengangguk mengiyakan dan tak ambil pusing, berapapun kos'annya yang terisi ia tak pernah mau tau yang penting uang kumpul setiap bulan.
"Amplopnya mana ya, Ay" tanya Hujan menanyakan kertas putih yang seingat Hujan sudah di siapkan dari rumah.
"Coba cari pelan-pelan, sayang"
Hujan membuka tasnya dan mengeluarkan isinya yang hanya ada ponsel dan dompet juga kacamata. Ia yang sudah memiliki wajah cantik alami tak pernah membawa alat make-up apapun jika sedang bepergian.
"Gak ada, Ay" ucapnya memastikan jika ia tak menemukan benda yang dicari.
"Coba di dashboard" titah pria tampan itu.
Hujan membukanya dan hasilnya tetap sama, tak ada apapun disana.
"Terpaksa harus beli dong?"
"Ya udah, nanti mampir ke minimarket buat beli amplopnya" ujar Air sambil mengusap kepala Hujan.
Air terus memutar stir mobilnya dengan kecepatan sedang, sampai akhirnya ia menepi di salah satu minimarket berlogo lebah merah kuning. AplaMart.
"Kamu tunggu disini ya, aku aja yang masuk. Kamu mau beli apa?" tanya Air.
"Wafer rasa jeruk" pintanya.
__ADS_1
Air yang hanya mengernyitkan dahinya bingung.
"Emang ada? yang rasa jeruk itu bukannya lotion anti nyumak?" seru Air meyakinkan apa yang di inginkan istrinya itu.
Hujan hanya tersenyum lebar sampai deretan giginya semuat terlihat.
"Haha,, Aku bercanda Aer Galon!" kekeh Hujan.
.
.
.
Hujan yang tinggal didalam mobil langsung menyodorkan tangan saat Air datang dengan baberapa bungkus plastik berukuran besar.
"Kok banyak banget?" tanya Hujan saat sang suami meletakkan semua belanjaannya ke kursi belakang.
"Sekalian, takut kamu laper"
"Kita, Air Hujan" jawab si tampan yang langsung mencium bibir istri tercintanya.
Hujan yang masih memegang lembaran uang ditangannnya masih begitu antusias sambil senyum senyum membuat Air menggelengkan kepalanya.
"Ngidam tuh aneh aneh aja, sih Yang. Ngidam malak kos-kosan tiap bulan. Itu duit di cium cium terus, di itung lagi di itung lagi gada berentinya" ujar Air yang tak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang selalu ingin memegang uang banyak pemberian orang lain.
"Seneng aku tuh, Ay" jawabnya sambil meletakkan gepokan uang didadanya lalu tertawa.
"Hadeuh, tar ke tukang parkir deh aku guyur kamu pake duit logam, mau?" cetus Air yang begitu gemas dengan ekspresi sang istri bagai baru melihat uang banyak.
"Jahat kamu, kak" dengus Hujan dengan mimik wajah yang di buat kesal namun keduanya malah tertawa bersama.
__ADS_1
"Ya udah cepet pisahin, masuk masukin ke amplop. nanti kamu tandain mana buat Masjid, anak yatim, janda juga anak-anak jalanan. Ini sebentar lagi kita nyampe ke kolong jembatan" titah Air seperti biasanya, jika dulu jatah kos-kosan untuk istrinya berbeda dengan sekarang yang di alihkan semua untuk sedekah ke yang lebih membutuhkan karna kini ia sudah memiliki gaji yang jauh lebih besar. Dan itu pun atas persetujuan sang istri tentunya.
"Udah semua, Ay" kata Hujan saat beberapa amplop sudah ia isi sesuai target pada siapa uang itu akan di berikan.
"Sisanya segitu?" tanya Air.
"Iya, apa mau di abisin semua?" Hujan balik bertanya.
"Kamu udah puas belok cium duitnya?" goda Air sambil tertawa.
.
.
.
.
.
.
.
Belom, aku mau ke Bank..
mau cium sama pegang yang lebih banyak lagi, Boleh?
π»π»π»π»π»π»π»π»
Fix cuma ada di novel gua ya ini ngidam cium duit banyak π€£π€£
__ADS_1
Kalian jangan ngikutin di dunia nyata.. karna susah dapetin yang kaya kakak Ay πππ
like komennya yuk ramaikan.