
ππππππππ
Hujan yang masih meringis di tuntun oleh Air menuju Brith Ball atau bola karet besar yang biasa digunakan untuk ibu hamil, Rasa panas dan nyeri di bagian pinggang membuat ia serba salah melakukan hal apapun itu, bahkan rasa tak nyaman itu tak kunjung hilang meski ia sudah memeriksa kannya kerumah sakit bersama sang suami tiga jam lalu.
"Sakit banget, Ay" rengeknya lagi dengan keringat yang sudah berkucuran di keningnya.
"Sabar sayang, belum waktunya ya"
Hujan terus memeluk pinggang sambil bersandar di perut Air yang berdiri di hadapannya menikmati rasa sakit yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya.
perasaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata karna hanya ia yang mengerti.
"Operasi aja ya, semua udah siap. Tinggal nunggu kamu bilang IYA" rayu Air lagi karna ia pun sudah sangat tak tega melihat Hujan yang merintih menahan sakit, bahkan dalam keadaan tidurpun ia masih meringis sambil mengigau.
"Aku kuat, Ay. Gak apa-apa"
Air hanya bisa membuang nafas kasar. Jika mengikuti Hari Perkiraan Hamil, atau yang biasa di sebut HPL, ini memang belum waktunya Hujan melahirkan karena masih ada tiga hari lagi untuk si jabang bayi harus bersabar berada dalam perutnya.
Tapi itu hanya taksiran dokter karna bagaimana pun Mak Othor lah yang menentukan kapan Sang Cicit Rahardian itu lahir menyambut dunia Halu.
"Aku tahu, tapi kalo udah gak kuat kamu gak harus bertahan juga."
Hujan tak menjawab, ia sedang menutup matanya sambil memutar otak untuk sedikit saja mengingat bayangan ibu kandungnya. Tapi itu memang sangat mustahil, Hujan tak bisa ingat apa-apa karna saat di tinggal kan pun usianya baru enam bulan saat itu.
__ADS_1
Cek lek..
Melisa langsung membuka pintu setelah ia mengetuk dan di persilahkan masuk oleh putranya, langkahnya begitu tergesa menghampiri sang menantu yang masih duduk diatas Brith Ball.
"Masih sakit, Nak?" tanya Melisa sambil mengusap kepala Hujan yang mengangguk pelan tanpa menjawab.
"Mah, gak bisa di apain gitu biar gak gini terus, kakak ikutan gak kuat" adu si sulung yang sebenarnya sudah ingin menangis meraung sedari tadi.
"Sabar, prosesnya memang tak mudah jika Hujan tetap memilih persalinan normal, Kita hargai keputusannya ya. Kamu dampingi terus dan gak boleh nangis" pesan Melisa seraya menghapus buliran bening di pipi anak kesayangannya.
"Iya, Mah."
"Jan, makan dulu ya sayang" tawar Melisa penuh perhatian seperti biasa.
"Makan meski sedikit ya, nanti kamu lemes kalo tiba-tiba kontraksi"
"Aku suapin ya sayang" timpal Air yang akhirnya ikut merayu, namun tetap dijawab gelengan kepala oleh Hujan yang masih merunduk lemas.
Hari ini keluarga Rahardian memang di buat panik dengan pernyataan Air jika Hujan mengalami flek saat mandi pagi tadi yang langsung di susul dengan rasa nyeri di bagian pinggang dan punggung yang panas.
Air dengan sigap menghubungi team dokter Sedangkan Reza meminta pihak Rumah sakit untuk memastikan kesiapan kamar rawat inap mewah bak hotel bintang lima itu bisa di gunakan saat kapan pun. Semua Pria itu lakukan dari sebulan lalu bahkan satu lantai Rumah sakitnya sudah di setrilkan dari satu minggu ini.
Kini semua orang sedang tak sabar menunggu hadirnya hasil garap, tanam dan siram pewaris Rahardian siapa lagi kalau bukan...
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Little Baby BEAR...
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
BerUANG π»π»π»π»
__ADS_1
like komennya yuk ramaikan.