
ππππππ
Ajak kakak buat pulang ya, aku mohon" pinta Hujan sambil menangkup kan kedua tangannya di dada.
"Iya, aku akan Coba bicara baik-baik. kamu istirahat ya" Pamit Bumi kemudian.
Pemuda itu berlalu menuruni anak tangga satu persatu menuju lantai bawah dimana orangtuanya masih ada disana.
"Mah, Pah.. kakak kerumah Oppa dulu ya, kalo kakak gak pulang paling nginep disana juga" pamitnya pada Reza dan Melisa sambil menciumi pipi mereka secara bergantian.
"Loh..loh.. kenapa pada nginep disana" protes Melisa karna tadi pun ia baru saja mendapat pesan jika si bungsu juga akan pulang kerumah utama.
Bumi terkekeh melihat wajah masam mamanya.
"Gak apa-apa, itu tandanya kita disuruh berdua, Ra" goda Reza dengan senyum jahilnya.
"Inget mantu, Pah" cetus Bumi yang langsung membawa Reza lemas memeluk istrinya.
.
.
Sepeninggal anak tengahnya kini tinggal Melisa dan Reza di ruang tengah, Si gajah mulai iseng meraba semua bagian tubuh sang istri dengan tangan dan bibirnya.
"Kamar yuk" bisik Reza yang semakin tak kuasa menahan hasratnya.
"Cebong kamu lagi berantem malah sibuk ke kamar" ketus Melisa kesal.
"Udah pada gede, biarin aja!" sahutnya santai sambil menarik tangan KHUMAIRAHnya agar cepat bangun.
"Jangan gitu, Mas. Aku kepikiran kakak kenapa sama Hujan, tadi aku abis ngobrol sama dia di taman" jelas Melisa mulai khawatir.
"Ra. sayang! Kita liat dulu apa masalah mereka, jangan dulu ikut Campur, Ok" pesan Reza yang masih memantau belum mau bertindak.
"Apa aku tanya Hujan?"
"Tanya esok hari ya," jawab Reza yang langsung mencium kening istrinya.
******
Di perjalanan menuju rumah utama, Bumi terus saja memikirkan kedua kakaknya yang tak pernah bertengkar sampai membuat kembarannya itu tak pulang begini.
__ADS_1
Ia membuang nafas kasar dan fokus pada jalan di depannya.
Tiiiin.. tiiiin...
Bumi menekan klaksonnya saat sampai di depan rumah utama, ia menunggu penjaga membuka gerbang untuknya.
Sampai di garasi ia segera turun dari mobil mewahnya untuk masuk kedalam rumah dan tak lupa juga membawa si pisang ditangannya.
"Tar gue bakal nyuruh papa buat bikinin lo kaki, jadi gak perlu anter anter Lo Mulu" dengusnya kesal sambil mencabik-cabik si pisang ditengah tangga, ia langsung naik kelantai atas karna keadaan rumah yang nampak sepi.
CEKLEK
Tanpa mengetuk pintu, Bumi Langsung membukanya dengan keras. Sudah sangat lama ia tak melakukan hal itu semenjak kakaknya menikah, Bumi tak lagi bebas keluar masuk kamar kembarannya itu.
"Kak..." panggilnya sambil melempar si bantal.
Air menoleh kemudian ia dengan sigap menerima lemparan adiknya.
"Ya ampun, Dek!" sentak Air kesal dengan kelakuan Bumi.
"Ini kalo si pisang jatoh ngusruk ngejengkang tisoledsat tijalikeuh ngajeledag, kumaha?" tanya Mak othor. Eh... π€π€
"Kakak bisa gak sih gak usah nyuruh aku buat anterin dia Mulu" ucapnya kesal sambil menunjuk bantal yang sudah dalam dekapan kakaknya.
"Mau nginep apa mau kabur?" Sindir Bumi.
"Nginep lah. kalau kabur gak akan kesini" balas Air.
"Kemana?" ejek Bumi.
"Kos'an. Hahahaha" kekeh si sulung dan ia semakin tertawa saat melihat adiknya semakin kesal.
"Pulang yuk, Kasian mama" ajak Bumi, ia memang tak tega dengan Melisa saat tahu anak kesayangannya itu tak pulang.
"Tanggung, udah malem" elak Air dengan senyum di paksakan.
"Berantem boleh, tapi jangan sampe pergi dari rumah. biasanya kakak gak begini, kan?" tanya Bumi, ia turut sedih dengan yang di alami Kakaknya itu.
Air menghela nafas beratnya kemudian membuangnya Secara kasar.
"Mau sampe kapan kakak begini?" tanya Bumi lagi.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sampe Hujan mau jujur sama semua yang udah dia
lakuin di belakang kakak.
Harusnya dia terbuka bukan disembunyiin kaya gini. Dia salah kalo ngira kakak gak tau dan gak ngerti sama aturan mainnya selama ini, kakak cuma udah capek ikutin dramanya!!!
πππππππ
Gaya Lo, kak !!! ternyata sok polos π€π€π€
Masalah ini tuh kaya bom waktu yang akhirnya meledak juga π€π€π€π€
Pulang yuk kak, gua jinjing kaya anak kucing π€
Like komen nya yuk ramai kan.
doain teteh geura cager nyah ππ.
__ADS_1
Nikmat banget nahan sakit sambil nulis π₯Ίπ₯Ί