Air Hujan

Air Hujan
ababy bear 137


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Air yang akan pulang hari ini setelah tiga hari di luar kota akhirnya di jemput oleh anak istrinya di bandara karna Sam menagih janji papAynya untuk langsung jalan-jalan.


Samudera yang menunggu di mobil sudah mulai mengeluh dan merengek ingin turun.


Rasa rindu dan tak sabarnya membuat bocah menggemaskan itu memanyunkan bibirnya karna kesal.


"Sabar dong, De. Kok malah ngomel begitu sih" ujar Hujan yang tak suka dengan sikap putranya yang kini gampang marah.


"Ama banet, dede mahu alan alan ih" keluhnya lagi dengan tangan sudah melipat di dada.


"Ya nanti, tadi siapa yang mau buru-buru? kan Moy udah udah bilang nanti kesininya karna papAy datengnya masih lama" tegas Hujan.


"Yah, dede talah, map Moy" tutur Sam menunduk, ia mengaku salah karna memang ia lah yang meminta datang lebih awal padahal miMoy nya sudah jelas mengatakan jika papAy nya masih lama untuk datang.


Dua puluh lima menit berlalu, akhirnya Air datang menghampiri mobil yang di naiki anak istrinya.


"Kangen sayang sayangnya papAy" ujar Air pada Hujan dan Sam.


"Tanen papAy banak banak Oey" teriak senang si Baby Bear sambil memeluk Air dari kursi belakang.


Tak lupa juga Air mencium sekilas bibir pemilik hatinya yang amat ia rindukan itu. Ia memang selalu mengusahakan untuk tak pernah lebih dari tiga hari ke luar kota jika sedang mengurus pekerjaan berbeda dengan Langit yang selalu di temani si bungsu kapanpun dan di manapun.


"Alan alan ya, pAy" kata Sam mengingatkan, bocah itu sejak kecil memang tak pernah lupa dengan apa yang sudah di janjikan padanya, ia akan terus menagih sampai maunya terpenuhi.


"Iya, Tuuuuut" Jawab Air sambil terkekeh.


"Ma'acih banak banak, papAy. Dede tayang papAy oey"

__ADS_1


"Sama Moy, sayang gak?" protes Hujan berpura-pura merengut kesal.


"Tayang doooong" jawab Air dan Sam berbarengan sembari mencium pipi Hujan secara bersamaan.


.


.


.


Pilihan kini jatuh pada salah satu hotel milik Rahardian yang menghadap langsung ke pantai, pria tampan itu ingin tidur sejenak sebelum akhirnya ia akan memanjakan anak istrinya.


"PapAy bobo dulu ya, Satu jam aja, ok" ucap Air sampai kamar, Sam hanya mengangguk paham meski ia sedikit kecewa.


"Ntal main ya, bobo na anan ama ama, keh"


"Ok, ganteng. Dede minum susu dulu biar nanti pas main gak rewel"


Hujan mengusap kedua kepala laki-laki terbaiknya itu penuh dengan berbagai rasa dalam hatinya.


"Maafkan aku yang sering mengabaikan kalian"


Hujan duduk di sofa sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, ia yang baru tidur menjelang subuh tentu merasakan sakit di bagian Kepala dan tengkuknya yang juga terasa begitu berat.


"Moy, apa?" tanya Sam tiba-tiba.


"Loh, Moy kira dede bobo" jawab Hujan sedikit kaget.


"Nda, papAy bicik"

__ADS_1


Hujan memangku putranya sambil di peluk dengan erat, mendekap Sam kini tak lagi sama seperti saat ia bayi karna waktu yang Hujan miliki sudah berkurang banyak untuk menjaganya.


"Dede sayang, Moy gak?" tanya Hujan.


"Tayang, napa?" Sam justru balik bertanya.


"Moy kan jarang main sama dede, dede gak marah sama Moy?" kata Hujan lagi dengan perasaan bergemuruh.


"Nda, dede nda malah. Moy tekoyah bial pintel ya"


"Iya, biar dede sama paPay bangga sama Moy, maafin Moy ya. kalian segalanya buat Moy. Makasih juga ya dede udah baik sama Moy, gak rewel kalo di tinggal Moy. Dede anak baik" sambung Hujan dengan mata yang sudah merah menahan tangis.


"Moy ugha baik"


"Masa sih, siapa yang bilang Moy baik?" tanya Hujan.


.


.


.


.


.


"Kata Amma, Amma bilang dede harus jadi anak baik kalena ada culuga di kaki Moy, dede mahu iyat dong, boyeh?"


__ADS_1



__ADS_2