
πππππππ
Malam terakhir di pulau tak terjadi apapun, Air tidur lebih dulu memeluk pisangnya sedangkan Hujan menonton serial drama kesukaannya di laptop.
Ia sesekali menoleh ke arah suaminya setiap pemuda itu bergeliat, Hujan hanya bisa tersenyum saat bantal kuning milik Air sama sekali tak lepas dari pelukan sang suami.
Sebegitu gak bisa jauhnya dari pisang?
Ia meringsek membenarkan posisi tidurnya saat rasa kantuk menjalar matanya yang kini tak mampu lagi terbuka lebar.
Hujan masuk kedalam selimut dengan posisi miring menghadap Air.
Ia telusuri garis wajah pemuda tampan itu dengan jari telunjuknya, memperhatikan dengan begitu intens setiap inci dari ciptaan Tuhan yang luar biasa itu.
Tak ada cela sedikitpun, bibir merahnya kini mampu membuat Hujan bagai terbang ke ujung langit sedangkan tatap matanya sanggup membuat debaran jantungnya hampir saja ingin keluar dari dalam tubuhnya.
Apa aku mencintaimu?
Yang aku tahu, aku hanya menyukaimu!
*****
Pagi menjelang.
Usai membersihkan diri dan sarapan keduanya kembali bersiap membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang ke kota.
"Nie pisang Lo! awas ketinggalan" pesan Hujan pada suaminya yang asik dengan ponsel.
"Jangan di lempar dong, kan kasihan!" sentak Air tak suka saat si kuning di lempar meski ia mampu menangkapnya.
Hujan hanya mencebikkan bibirnya sambil menutup koper kecil miliknya.
"Yuk" ajaknya kemudian.
"Ada yang ketinggalan gak?" tanya Hujan sambil memutar Pandangan memastikan semuanya
"Ada!" jawab Air.
"Apa? cepet ambil" titah gadis itu.
Kenangan Malam pertama kita, Jan Hujan dereeeeeees!!!!!
.
__ADS_1
.
.
Hujan yang tak ingin meladeni suaminya itupun berjalan lebih dulu keluar dari kamar menuju lantai bawah.
Sudah ada satu mobil sedan mewah yang sudah menunggu mereka.
"Selamat pagi Nona muda" sapa supir tersebut.
"Selamat pagi juga, Pak" sahut Hujan dengan terbata karna ia belum terbiasa dipanggil dengan sapaan NONA MUDA.
Hujan masuk lebih dulu kedalam mobil, dan setelahnya Air pun ikut masuk setelah lebih dari sepuluh menit sang istri menunggu.
Tanpa perintah apapun sang supir langsung menjalankan mobilnya menuju bandara.
Hanya obrolan kecil yang mereka bicarakan, seputar pulau yang dalam waktu kurang dari satu jam mereka tinggalkan.
Selamat tinggal kenangan manis, berupa kehormatan yang telah kuberikan pada suamiku.
.
.
"Ay, kita pulang naek apa?" tanya Hujan.
"Delman!" jawabnya sambil terus menuntun sang istri.
Hujan yang tau jika suaminya itu hanya bergurau akhirnya memilih diam, ditanya lagi pun jawabannya tak akan beres.
"Wow..." seru Hujan saat sebuah helikopter turun perlahan di dekat mereka.
"Naik ini, Ay?" tanya Hujan lagi dengan mata menatap burung besi kecil itu dengan takjub.
"Lo mau di ekornya apa di baling-balingnya, Jan?" ejek Air sambil terkekeh.
"Gue mau di pangkuan pilotnya aja" Jawab Hujan sambil tersenyum, tanpa ia tahu pemuda di sampingnya itu sudah mengeluarkan tanduk cemburunya.
"Ngomong apa lo tadi?" tanya Air dengan menarik tangan sang istri sedikit kasar sampai tubuh Hujan hampir hilang keseimbangan.
"Yang mana?" tanya Hujan bingung, ucapan asalnya ternyata membuat sang suami marah.
__ADS_1
"Lo bilang mau duduk pangkuan pilot!" sentaknya lagi.
Hujan langsung diam, sorot mata Air terlihat penuh emosi, tak ada raut jenaka dan senyum hangat seperti biasanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Awas aja kalo sampe gue tau Lo macem-macem!
Gua gak akan izinin Lo keluar dari kamar meski hanya satu langkah, Paham!!
πππππππππππ
Wah.. bayi buaya cengengnya ngambek πππ
Siap-siap di karungin ya Jan Hujan kalo ada yang lirik π€
jiwa posesif sama cemburunya dua kali lipat dari si gajah πππππ
yang tadi komen up pas Maghrib maaf yaππ
Itu up dari setengah 5 sore ππ.
Hari ini ACC lama.
Entah bab ini, teteh up jam 19.24.
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ