
ππππππππ
BRAAAAAAKKKKK...
Air membuka pintu kamarnya dengan keras, Ia mengernyitkan dahinya saat tak melihat istrinya di dalam.
"Jan.. Hujan!" teriaknya sambil berjalan masuk.
"Jan..dimana?"
Air menggedor pintu kamar mandi sembari terus memanggil sang istri yang ia pun tak yakin di dalam.
CEKLEK
"Jaaaaaaaaan!"
Air masuk dengan tergesa, dan hasilnya ia tetap tak menemukan sosok gadis yang selalu membuat ia merasa nyaman.
"Dimana sih?, kok gak ada!" gumamnya dengan panik.
"Kemarin ilang mainin kucing, jangan bilang kalo sekarang ilang lagi ngurusin biawak" gerutunya sambil berjalan kearah pintu.
Tok..tok..tok..
"Pah... Hujan ilang, papa...maaaah.. istri kakak ilang beneran!!!" teriakan si sulung membuat gajah yang berada di atas gunung harus turun dengan dua tanduk di kepalanya.
.
.
"Apalagi sih kak!" sentak Reza geram.
"Hujan ilang, Pah" rengek si sulung sambil menarik bathrobe yang di kenakan Reza untuk menutupi tubuh polosnya.
"Kalo ilang lapor polisi sana, bukan lapor papa"
PLAK
Satu pukulan dari KHUMAIRAHnya berhasil mendarat sempurna di lengan kanan Reza.
"Maaaaah... Hujan ilang" adunya pada Melisa.
"Gak ada di kamar?" tanya Melisa sambil mengusap pipi si sulung.
"Enggak ada, di kamar mandi juga gak ada" jelasnya panik.
Melisa dan Reza saling pandang beberapa saat di ambang pintu tepat mereka berdiri saat ini.
"Yuk kita cari ke bawah" ajak Melisa sambil menggandeng tangan si sulung.
__ADS_1
"Eh..eh.. eh...mau kemana?" tanya Reza menarik luaran piyama KHUMAIRAHnya.
"Mau kebawah, kenapa?" wanita itu balik bertanya.
"Aku gimana?, di tinggal?" cetus Reza kesal.
"Ayo, kalo mau ikut, " ajaknya juga pada sang suami.
"Enggak!"
Reza balik ke kamar sedang kan Melisa dan Air turun ke lantai satu menuju dapur, langkah keduanya benar-benar berhenti disana.
"Tuh apa?" tunjuk Melisa pada sosok gadis cantik yang sedang duduk di meja makan sendiri.
"Hujannya kakak, Mah" jawab Air pelan.
"Bukan hilang, kamunya aja yang gak nyari" kekeh Melisa sambil mencubit pipi si sulung.
Air mengusap tengkuknya lalu berjalan menghampiri Hujan setelah Melisa berpamitan untuk naik lagi ke kamarnya.
.
.
"Ngapain disini?" bisik Air yang sudah memeluk Istrinya dari samping.
"Eh..."
Namun ia langsung mengusap kepala Air yang sudah ia sandarkan di dadanya.
"Kenapa?, nyariin ya?"
"Kan udah di bilang jangan pergi, kenapa pergi!" sentaknya kesal jika ia ingat bagaimana paniknya ia tadi.
"Aku cuci baju, tadi sempet kena tumpahan air jeruk di kantin" jelas Hujan.
"Kok bisa?" tanya Air mendongakkan wajahnya.
"Gak sengaja kesenggol, Ay"
Keduanya mengobrol sebentar sampai akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar, rasa kantuk mulai mereka rasakan saat tak sengaja melihat jam sudah hampir tengah malam.
Hujan lebih dulu naik ke atas tempat tidur menunggu Air yang lebih dulu bersih-bersih di kamar mandi.
Tubuh langsingnya sudah tenggelam di balik selimut tebal yang kadang di lempar suaminya jauh-jauh jika sedang main-main.
Hal yang paling Hujan menyebalkan baginya.
...
__ADS_1
"Jan, ngerasa gak sih Bibi Lo itu horor banget?" tanya Air saat ia sudah ikut masuk kedalam selimut.
"Horor gimana?" Hujan balik bertanya.
"Ya tadi, tatapan nya itu.... ih serem!" Air menggeridikan bahunya membuat Hujan tertawa.
"Biasa aja, Ah. Lo nya aja emang dasar penakut" ejek Hujan yang sudah benar-benar bersiap untuk tidur karna Air sepertinya tak memberi kode apapun padanya, ia hanya sekedar memeluk dan menciuminya berkali-kali di bagian pucuk kepala.
"Tadi ngobrol apa sih?" tanya pemuda itu lagi, sepertinya ia dibuat penasaran sosok Bibi Nur.
"Banyak, tapi lebih ke kasih gue nasehat sih"
"Apa?, gue harap ada nasehat buat harus melayani suami yang baik ya" goda Air sambil tegelak.
"Emang gue kurang baik? gak baik aja Lo doyan banget kaya orang kelaperan gimana kalo baik!" ketus Hujan.
"Harus makin baiklah"
"Ay..." panggil Hujan sedikit mendongakkan wajahnya.
"Apa?, pengen ya?" Air justru menggoda.
Hujan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.
"Lo belom pengen punya anak?, Kita nikah udah lebih dari setahun. Tapi perasaan kok Lo gak pernah nyinggung hal ini?" tanya Hujan serius.
"Anak?" gumam Air, raut wajahnya seperti orang bingung.
Hujan mengangguk pelan, ia melihat Ekspresi datar dari suaminya.
.
.
.
.
.
.
.
"Gue mau bikin aja, jadinya kalo bisa nanti" jawabnya santai.
πππππππππ
Mau enaknya doang, repotnya nanti π€π€π€
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ