Air Hujan

Air Hujan
Gerimis


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Aktifitas harian yang selalu sama, Air ke kantor dan Hujan kuliah juga Sam yang sekolah. Mereka bertiga terus sibuk dengan tugas masing-masing dan akan berkumpul saat malam tiba.


"Hari ini dede anter sapa?" tanya Sam saat Hujan mengancingkan seragam sekolahnya usai mandi setelah drama panjang.


"Sama Moy, Moy nanti kuliah nya siang" jawab Hujan dengan tangan terus mengurus putranya sebab sangat cekatan.


"Ntal puwangnya jemput sapa?" tanya Sam lagi.


"Sama Moy juga, hari ini Dede sama Moy. Nanti pas sudah sampai rumah dan makan siang, Dede baru sama Amma dan Appa, Ok" jelas Hujan. Jadwal kuliahnya yang kadang berbeda tentu membuat bocah tampan itu bingung.


Pertanyaan yang sama memang selalu di layangkan Sam pada orangtuanya setiap pagi karna mereka akan bergantian mengantar dan menjemput si buah hati. Siapapun yang memiliki waktu luang, dialah yang menemani sang putra mahkota Rahardian.


.


.


Usai mengurus Sam, kini saatnya Hujan membangunkan suaminya. Entah jam berapa pria itu kembali ke kamarnya usai lembur di rumah. Air membawa banyak pekerjaan dari kantor sampai Hujan sedikit membantunya tapi saat Sam rewel ingin tidur ia pun meninggalkan sang suami sendiri di ruang kerja lantai bawah rumah utama.


"Kak, bangun yuk" bisik Hujan, cara yang biasanya ampuh agar Air cepat mengerjapkan mata.


"Ini udah bangun, Moy" sahutnya masih terpejam dengan tangan mengelus ekor buayanya yang sdah tegang.


"Ya udah, cepet mandi. Dede udah rapih"

__ADS_1


"Hem.."


Hanya deheman kecil yang di balas oleh si sulung Rahardian, ia benar-benar mengantuk dan belum rela melepas boneka pisangnya dalam pelukan.


Terlebih adanya sayup-sayup obrolan anak dan istrinya yang seakan seperti mendengar dongeng di telinganya.


"Kak, bangun atau aku siram!"


******


Selesai sarapan pagi, Air dan Hujan langsung mengantar anak mereka ke sekolah usai berpamitan pada Amma dan Appa. Cucu pertama laki-laki yang begitu banyak mendapatkan limpahan kasih sayang dari keluarga.


"Kakak ke kantor bareng kamu deh" ucap Air saat masuk kedalam mobil.


"Mau tidur sebentar lagi, ngantuk banget"


"Jangan numpuk kerjaan, Kak. Nanti kaya semalam" ucap Hujan mengingatkan, tanpa bersantai saja urusan kantor sudah menyita waktu dan memeras otak suaminya.


"Kemaren emang banyak banget, kakak cuma ada meeting jam dua jadi semua aman"


Hujan hanya mengangguk paham, ia percaya pada suaminya yang tentu sudah paham dan bisa mengatur waktunya sendiri.


"Ya udah, terserah kakak"


Mobil yang melesat dengan kecepatan sedang, kini berhenti di area parkir bangunan sekolah mewah bertaraf internasional. Pasangan suami isteri itu tentu langsung turun dan mengantar putra mereka sampai depan kelas.

__ADS_1


"Jangan nakal ya anak pinter" pesan Hujan setelah memberikan banyak ciuman di wajah tampan putranya.


"Iya, Moy" sahut Sam seraya melepas pelukan.


"Si ganteng gak boleh kejar ciwi ciwi terus ya, nanti kecapean" goda Air yang langsung membuat Sam merengut kesal.


"Temen pelempuannya akal Oey, suka deket deket dede mulu" balas si Tutut pada PapAynya yang terkekeh gemas.


"Iya deh iya, percaya"


Sam masuk kedalam kelas dan memulai pelajaran pertamanya saat Miss Nayra datang, Air dan Hujan pun kini kembali ke area parkir menuju mobil mereka untuk pulang.


"Yah... gerimis, Kak" ucap Hujan sambil sedikit mendongak kan kepalanya kearah langit.


.


.


.


"Kenapa? bukannya gerimis itu ade kamu?!"


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Mentang-mentang kecil aernya πŸ™„

__ADS_1


__ADS_2