Air Hujan

Air Hujan
bab 81


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚



"Mandi terakhir ya, Ay" pinta Hujan pada suaminya saat mereka selesai membersihkan diri usai main-main yang entah yang keberapa kalinya di lakukan pasangan itu.


"Terus besok kita gak mandi, gitu?' goda Air sambil mencium pipi Hujan yang masih harum bau sabun.


"Mandi biasa, jangan mandi luar biasa terus" ketusnya sambil meronta ingin di lepaskan karna ia sudah berasa bagian milik suaminya sudah memberi sinyal tak beres.


"Mau kemana sih!" sentak Air kesal saat Hujan menghindar.


"BAHAYA" kekehnya sambil menjauh.


Air yang tak berhasil menarik tangan istrinya hanya bisa tertawa gemas saat Hujan menggodanya sambil menjulurkan lidah.


"Dih, ngajakin perang, Sini kalo berani"


"Gak mau, tar yang ada main lagi" sahut Hujan, Jika saja ia bisa mengeluh tentu ia ingin mengatakan tubuhnya begitu sakit bagai remuk seluruh tulangnya.


Tapi hanya itu yang bisa ia berikan pada Air yang selalu senang setiap bermain dengannya.


"Tebakan yuk, udah lama gak tebak-tebakan"


"Tapi pake baju dulu, gue gak percaya soalnya sama Lo" ejek Hujan sambil menarik tangan Air.


"Ribet, yang kalah kan buka baju jadi pake ini aja, tinggal tarik talinya, gini nih"


Air dengan jahilnya menarik tali bathrobe yang di kenakan Hujan, terlihatlah kini tubuh polos bagian depan sang istri tepat di depan matanya.


"Hahaha, kan.. kan.. dia mulai geleng-geleng nyariin pintu kebonnya" ucap Air sambil mengelus miliknya sendiri


Hujan buru-buru membalikkan tubuhnya lalu bergegas berjalan ke arah lemari sambil menalikan lagi bathrobenya, hatinya kini sedang menggerutu kesal.


Punya laki begitu musibah apa berkah ya?


*****


Saat pagi sampai petang kedua pasangan suami istri itu selalu menghabiskan waktu dirumah dengan banyak aktivitas yang mereka lakukan, masak bersama, bercanda, nonton film dan tentunya main-main hal yang menyenangkan.


Dan jika malam tiba, barulah keduanya keluar rumah meski hanya berjalan jalan menikmati angin sambil minum es atau jajanan lainnnya.


"Kapan pulang, Ay?" tanya Hujan.

__ADS_1


"Lusa, kenapa?" Air balik bertanya sebelum ia memasukan bola-bola ikan ke mulutnya.


"Gak apa-apa, udah kangen aja sama Semuanya. Lagian kenapa harus tanpa ponsel sih!" dengusnya kesal saat Air selalu saja menyembunyikan ponselnya jika sedang berdua.


"Quality time Jan Hujan dereeeeeees"


"Quality time kalo sehari, lah ini udah seminggu disini Aer kobokan, eh salah. Aer comberan" ejek Hujan sambil terkekeh.


"Air zam-zam gue mah, Woy" Protes suaminya yang tak terima di ejek.


Keduanya kembali menikmati malam mereka sambil berjalan bergandengan tangan, hanya ada perasaan senang dan bahagia yang dirasa di hati masing-masing.


Rasa yang belum mereka ungkap kan Secara terang-terangan melalui lisan.


"Mau jajan apa lagi?, jalannya jangan jauh-jauh"


Hujan langsung menarik tangan Suaminya, ia mengajak Air untuk menyebrang jalan.


"Mau apa?" tanya Air.


"Mau itu, boleh ya" pintanya sambil menunjuk pedagang kembang gula di pinggir jalan.


"Udah gue bilang, jangan beli yang manis, Jan" tolak Air tapi masih berjalan di belakang istrinya.


"Nanti Lo makin manis, gue nya bisa diabetes" keluh Air masih tak suka dengan pilihan istrinya.


"Lah, bisa begitu" gumam Hujan sambil memilih mana yang mau ia beli.


Pilihan jatuh pada warna merah muda, belum di makan tapi dari bentuk dan harumnya sudah sangat jelas jika makanan itu begitu manis.


"Sakit gigi awas Lo ya!" ancam Air.


Hujan hanya tersenyum, ia nikmati kembang gulanya sendiri walau ia telah memaksa dan merayu Air untuk menikmatinya tapi pemuda itu tetap menutup mulutnya.


"Cari minum yuk"


Keduanya langsung memasuki kedai minuman yang tak jauh dari tempat mereka tadi membeli kembang gula. Air segera memesan dua minuman es kelapa muda asli untuk ia dan sang istri


"Ini kelapa bulet banget ya" kata Hujan sambil menyeruput isinya.


"Iya kaya kepala Lo!" cetus Air dengan senyum jahilnya.


"Dih, enak aja. beda dong" protes Hujan.

__ADS_1


"Iya.. iya beda!" balas Air sambil mengangguk pasrah


"Lo mau tau gak perbedaannya, antara Lo sama Nih kepala?" tanya Air.


"Kelapa, Ay..."


"Nah iya dah itu, kepala" ucapnya lagi masih salah.


"Apa?" tanya Hujan, ia enggan meneruskan kesalahan Air yang memang Sudah sulit di luruskan dari dulu.


.


.


.


.


.


.


.


Kalo kepala jatohnya ketanah..


sedangkan Lo jatohnya ke hati gue!!


πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰πŸŽ‰


Noh Ngomong aja belom bener, trs kalian udah pada nyuruh si Hujan hamil..??


Ogah Amat 🀭🀭🀭


kacau tar tuh anak punya bapak begitu πŸ˜‚πŸ˜‚


Siapa ntar yang repot?


pasti gue lah 😭😭😭😭😭😭😭


#AmbuOthorπŸ™„πŸ˜“πŸ˜“


Like komen nya yuk ramai kan β™₯️

__ADS_1


__ADS_2