
π»π»π»π»
Tuh kan, dibilang jangan nengok ke belakang.
Jadinya ciuman deh!!!
"Ay.... " seru Hujan menahan malu.
"Iya sayang" jawab Air sambil menggoda, betapa bahagianya ia yang kini sudah bisa melihat Hujan kembali seperti dua tahun lalu meski belum sepenuhnya sama.
"Mau makan?"
"Aku mau kue atau donat aja" Pinta menantu Rahardian itu dalam pelukan suaminya.
"Kamu tuh udah manis makanin kue terus nanti di semutin Jan Hujan dereeeeeees" ejek Air sambil mengusap kepala istrinya.
"Aku gak laper, Ay"
"Iyalah, Sebelum aku kesini aja kamu udah makan sop pangsit sepanci, Hahahaha"
Hujan langsung mengurai pelukannnya, pipinya yang bulat semakin mengembang saat Hujan merengut kesal.
"Jangan gitu, akunya nanti pengen cium terus"
Air meraih tangan Hujan, ia raih tubuh kekasih halalnya itu untuk kembali di peluk.
Terimakasih untuk bertahan dan kuat melewati semuanya.
Lima belas menit berselang kini pesanan Nona muda istri dari direktur utama itu pun sudah terhidang di atas meja.
"Masih anget banget, Kak" kata Hujan saat ia menyentuh donat kentang yang menjadi keinginannya malam ini.
"Iya baru di bikin sama Chefnya" jawab Air sambil membuka jas hitam yang melekat di tubuhnya.
"Kenapa ya donat itu ciri khas banget tengahnya bolong, kalo gak bolong kaya bukan donat" Ucap Hujan merasa aneh sendiri.
"Karna yang full tanpa bolong itu cuma hati aku aja, Jan" kekehnya saat menjawab.
Hujan hanya mencebiikkan bibirnya yang lagi lagi kena akan rayuan suaminya.
__ADS_1
"Gombalan kamu gak ada abisnya ya, aku tuh sampe bingung"
Air tertawa menikmati raut wajah istrinya yang sangat menggemaskan.
"Gak mungkin abis selama kamu masih ada sama aku, Karna saat aku liat kamu otak aku selalu berfikir gimana caranya buat kamu bahagia meski dengan hal yang sederhana"
Hujan melempar pandangannya untuk menutupi apa yang ia rasakan saat ini, Selama proses penyembuhannya sosok Air lah yang berperan penting dalam bangkitnya Hujan dari masa masa terpuruknya. Sentuhan lembut selama mengurusnya dan juga kata-kata semangat dan cinta tak hentinya Air bisikkan setiap waktu.
"Besok ikut kakak ke kantor ya" pinta Air setelah menyesap minumannya.
"Enggak, Aku takut" tolak Hujan sambil menggeleng.
"Jan, Kamu harus keluar dari rumah. Gada yang harus di takutin lagi. Kamu harus berani buang rasa trauma itu"
Hujan tetap menggelengkan kepalanya. Selama dua tahun ini ia sama sekali tak pernah keluar dari rumah utama apapun yang terjadi, dan baru malam ini ia nekat menyusul Air ke hotel karna Hujan yang memang tak bisa jauh dari Air hingga berjam-jam lamanya.
"Kamu harus punya aktivitas lainnya, Lanjut kuliah lagi ya"
Hujan tetap menggeleng, membayangkan saja ia tak berani.
"Akun mau kuliah dirumah kaya kamu, Boleh?" pintanya sambil menunduk.
"Aku takut, Kak. Apalagi gak ada kamu" Hujan mulai panik, tangannya yang bergetar langsung di tarik oleh Air.
"Maaf sayang, maaf!" ujar Air penuh sesal yang tanpa sadar jika pembahasan malam ini justru seperti mengulik luka lama Hujan yang hampir sembuh.
"Aku takut ada orang jahat lagi, aku gak mau rasain perih dan sakit lagi" Hujan yang terisak kembali masuk kedalam dekapan suaminya.
"Ok, aku gak akan paksa kamu. Kalo kamu mau di rumah aja aku pun gak masalah asal kamu baik baik aja ya"
Hujan mengangguk di sela isak tangisnya, sedangkan Air langsung mengangkat dagu sang istri.
"Apapun pilihanmu, aku akan selalu mendukungmu" tegas Air meyakinkan pemilik hatinya.
Hujan yang merasa Air tak akan pernah meninggalkannya langsung tersenyum simpul.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Ya ampun... itu senyuman apa ubin masjid sih?
Adem banget perasaan!!!
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Rayuannya gak ada yang lebih bagus kak?
padahal sendirinya juga sama π€£π€£
receh banget sih π«π«
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1