
ππππππππππ
"Hai.. jejeran para mantan patah hati" sapa Air saat masuk kedalam gudang bekas di pinggiran kota yang tentunya jauh dari pemukiman warga.
Vika, Melan dan Sarah menatap penuh amarah dan takut kearah Air yang berdiri di hadapan mereka dengan tangan ia lipat di dada.
"Abang iket mereka kenapa kaya tolong sih! " protes Ay saat memperhatikan tiga wanita di depannya itu.
"Lontong kak" jelas Langit yang kesal karna ia diminta ikut oleh si sulung.
"Tapi lucu sih, kaya pocong masih di idup sebelum di bungkus kain putih" cetus Bumi menimpali.
"Jangan ngadi ngadi ya ngomongin setan disini!" sentak Air, lalu ia menggeser langkahnya kearah Langit.
Bumi tersenyum kecut Sambil menarik kursi, ia duduk di atasnya setelah melirik kearah jam di pergelangan tangannya yang hampir masuk tengah malam.
Tiga wanita yang di ikat di seluruh tubuhnya itu terus meronta ingin di lepaskan, Mulutnya yang di lakban tentu tak bisa mengeluarkan suara apapun.
"Hem... Hem.. Hem.. Hem. Berisik lo pada!" ejek Air sembari melangkah mendekat.
"Lo yang udah potong rambut Istri gue kan?," tunjuk Air pada Melan, salah satu mantanya yang sebenarnya sama sekali tak di ingat olehnya.
"Mau lo potong model apapun, Hujan tuh tetep cantik. Gak kaya lo! Mau rambut lo selurus jan tol begini tetep aja kan gak pernah bikin gue jatuh cinta" ledek Air seraya menarik rambut panjang Melan, gadis biadab itu sampai meringis kesakitan.
Air juga mengusap kedua alis Melan yang terukir kecoklatan di atas kedua matanya yang sedang mangalirkan air mata.
"Ini alis apa cerulit sih?, gini amat bentuknya!"
"Hujan tuh gak perlu di ukir pake spidol kaya Lo gini juga alisnya udah bagus, Woy!!" ucapnya dengan bangga di sela tawa sumbang yang menggema ke seisi gudang, Air mencoba terus menutupi rasa sedihnya meski jauh didasar hatinya begitu perih jika mengingat kondisi sang istri saat ini yang begitu sangat memprihatinkan.
__ADS_1
"Nanti gue botakin juga ya, biar lo bisa liat tuyul disini" kekeh pemuda tampan itu.
Langit dan Bumi yang duduk berdampingan hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil menahan kantuk.
Sedangkan Air terus melangkah menghampiri Sarah.
"Lo siapa sih?, Emang kita kenal sampe pacaran?" tanya Air dengan raut wajah kebingungan.
Sarah menggelengkan kepalanya sambil meronta.
"Kalo gak kenal dan gak pernah pacaran terus lo mau apa ikutan nyiksa Hujan? Sakit jiwa nih cewe!" sentak Air kesal sambil mencengkram wajah Sarah yang tak terlalu cantik.
"Apa?, mau gue gampar biar makin jelek, hah?" tawarnya tak main-main.
Air yang sudah melayangkan tangan langsung mengurungkan niatnya karna sebenarnya ia masih belum tega menyakiti fisik seorang wanita, dan itu adalah pesan yang selalu papanya katakan.
Sarah langsung menjerit histeris, ia tak bisa membayangkan jika Air benar-benar melakukan hal itu padanya.
Air meninggalkan Sarah dan Melan karna kini ia sedang berjalan menuju Vika, gadis yang paling parah menyiksa Istrinya. bukan hanya tubuh yang di rusaknya tapi juga mental Hujan yang kini terancam karna kelakuan biadabnya.
"Hai, Vik" sapa Air.
"Ada masalah yang emang belom kita selesaikan. Diantara pacar gue, gue akui lo yang paling perhatian sama gue, lo yang gak pernah marah sama gue padahal jelas gue gak pernah perduli sama lo. Tapi apa gue harus pertahanin lo yang jelas udah gak perawan?, kasian banget perjaka gue dapet lawan bekasan kaya lo" ejek Air yang memang tahu betapa bebasnya pergaulan Mantanya itu.
Vika menatap nyalang ke arah Air, ia tak menyangka jika pemuda tampan di hadapannya itu tahu jika selama ini ia tak suci lagi.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sadis banget lo ya.. udah ngerusak lahan maen gue!!!
ππππππππππ
Kapan nyiksanya kak π₯±π₯±π₯±
Udah abis ketoprak sebungkus malah ngelawak ππ
like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1