
π»π»π»π»π»π»
Air masuk kedalam kamar setelah membersihkan dirinya, ia yang hanya memakai handuk sebatas pinggang dengan rambut sedikit basah mulai kebingungan mencari bajunya.
"Jan... Jan Hujaaaaaaaan" teriaknya dari pintu kamar.
"Apa sih?"
"Baju gue mana?" tanya Air yang sudah berdecak pinggang.
"Ada dalam tas, Ay" kata gadis itu.
"Ambilin"
Hujan mendengus kesal, kemudian masuk kedalam kamar dengan sapu yang masih ada di tangannya.
Ia meraih satu kaos dan celana pendek Untuk sang suami.
"Dalem annya mana?" tanya pemuda itu bingung.
"Iya, kok gak ada sih! perasaan udah gue masukin deh" kata Hujan yang masih sibuk mencari-cari.
"Kan lucu kalo gue gak pake" Gumamnya sambil terkekeh geli.
"Gak ada, ay"
Air hanya bisa diam, lalu mengangguk kan kepalanya.
"Ya udah deh, gak ada siapa-siapa, kan?"
Air memakai bajunya setelah Hujan keluar dari kamar, gadis cantik itu kembali membereskan barang barang yang berserakan di ruang tamu.
"Makanannya udah dateng?" tanya Air tiba-tiba.
"Belum, laper ya?" Hujan balik bertanya, Air tersenyum kecil sambil berjalan semakin dekat. Ia usap buliran keringat di kening istrinya.
"Enggak, nanya aja."
"Ada yang mau gue bantuin gak?" tawar Air yang di balas gelengan kepala.
"Udah Selesai semua, besok udah ada yang ambil buat di bagi-bagi"
Belum sempat Air menjawab, obrolan mereka sudah terhenti saat terdengar suara ketukan di pagar besi.
"Pasti itu kurir, tunggu Ay"
Hujan keluar dengan sedikit berlari, ia membuka pagarnya untuk menerima dua bungkusan yang berisi makanan yang sudah ia pesan secara online
"Terimakasih"
__ADS_1
Gadis itu kembali masuk, ia mencuci tangannya lebih dulu sebelum menyiapkan makanan.
Air yang berada di sofa depan TV justru malah memperhatikan kesibukan istrinya di dapur.
"Ay, makan dulu sini" ajak Hujan dengan sedikit berteriak.
Air beranjak dari ruang tengah menuju dapur yang tak begitu luas, hanya ada peralatan seadanya disana,.jauh berbeda dengan dapur milik sang mama di apartemen yang di buat secanggih mungkin oleh Papanya yang memang sadar dengan Hoby KHUMAIRAHnya itu.
"Nasi aja sama lauk" ucap Air saat Hujan ingin menaruh sayur di piringnya.
"Sedikit aja, ya"
Pemuda itu tetap menggeleng, tak ada yang bisa merayunya sama sekali mengenai makanan, cukup nasi dan lauk yang ia santap sedari kecil.
"Lo gak doyan apa punya trauma sendiri sih sama sayur?" tanya Hujan sambil terkekeh.
"Gak enak, rasanya aneh"
Alasan yang sama yang selalu ia lontarkan dari dulu.
"Enak Ay, apalagi jagung sama wortel itu kan manis"
"Manisan juga senyum Lo, Jan Hujan"
Air tertawa sedangkan sang istri hanya tersenyum kecil, keduanya menikmati makanan sampai habis dengan di selingi obrolan kecil.
Air yang kembali masuk kedalam kamar Hujan langsung membuka laptopnya, ia mengerjakan semua tugas kuliahnya yang di kirim Bumi.
.
.
"Ay, besok berangkat bareng gak?" tanya Hujan saat masuk, ia masih berdiri di balik pintu kamarnya usai membersihkan diri.
"Iya, Gue anter Lo dulu, abis itu mau balik ke apartemen" jawabnya yang masih fokus pada layar laptopnya.
"Ngapain?" tanya Hujan, Kini ia mulai mendekat dan duduk di sisi Air dengan menarik kursi meja riasnya.
"Mau tidur, haha" jawabnya asal sambil tertawa.
"Cih, gak jelas banget" gerutu Hujan yang kemudian naik keatas tempat tidur. Tubuh lelahnya sudah sangat ingin di manjakan di kasur barunya yang begitu empuk dan nyaman.
"Lo ngerusak konsentrasi belajar gue" bisik Air yang begitu cepatnya sudah berada diatas tubuh istrinya.
"Ya ampun! gue gak ngapa-ngapain, Ay" protes Hujan, ia mulai merasakan geli saat Air terus menyesap leher jenjang.
"Yuk,. kita main-main! gada penolakan" tukasnya.
Hujan menangkup wajah tampan suaminya yang hanya berjarak kurang dari satu jengkal dari wajahnya sendiri.
__ADS_1
Kali ini memasrahkan dirinya untuk disentuh, ia biarkan sang suami bermain sesukanya di tiap inci tubuhnya yang hampir polos, satu demi satu pakaian yang dikenakannya sudah berserak di lantai, tapi tidak dengan Air, pemuda itu bahkan sudah tak memakai apapun, tubuh tinggi putihnya terpampang jelas di depan mata Hujan saat tangan lembut sang suami membuka pakaian terakhir yang menutupi dua area sensitifnya.
Hanya deru nafas berat dan lengu Han yang terdengar di dalam kamar yang temaram.
Buliran keringat menjadi saksi bagaimana pasangan halal itu terus menggali kenikmatan dunianya.
.
.
Satu hentakan terakhir menjadi tanda keduanya sedang menggapai apa yang mereka cari.
Satu rasa yang tak bisa mereka ungkapkan, pelukan yang semakin erat seakan membuktikan jika pasangan itu saling menopang rasa lelah.
"Akhirnya..." gumam Air dengan sisa nafas yang masih terengah-engah.
Hujan melirik ke arah Air, pemuda itu memejamkan matanya dengan wajah yang begitu berseri.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dasar bayi buaya cengeng... begini aja udah seneng banget kayanya!!!!!
πππππππ
Lah... kan emang maenan Cebong bin Gajah mah begitu doang πππ
Uyek uyekan di atas kasur πππ
What is uyek uyekan π€π€π€
Uletnya uget ugetan gitu ππ
Au ah.. kabooooooooooooorrrr π€£π€£π€£
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈ
__ADS_1