Air Hujan

Air Hujan
Abang Abang


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Belum masuk udah nangis!" kekeh Air yang tak kuat lagi menahan gemas pada anak semata wayangnya itu.


Perkara anak kucing berpelukan benar-benar membuat Sam sedih, ia membayangkan itu bagai Tutut dan Gajah. Dua hal yang tak terpisahkan sama sekali.


"Ya udah yuk, kita masuk ya. Kasihan kucingnya mau bobo" ajak Hujan yang hanya dibalas anggukan oleh Sam. Bocah laki laki yang masih terisak itupun di gendong oleh Air untuk di bawa masuk kedalam rumah melewati Bunda yang yang berdiri di ambang pintu.


Kini semuanya berada diruang tengah dengan Sam berada di pangkuan Hujan, wanita cantik yang masih nampak khawatir itu masih terus menenangkan sang putra dalam dekapannya.


"Udah dong, nanti kucingnya kebersikan denger dede nangis loh"


"Tapi dede sedih, tucing besalnya peluk peluk tucing tecil kaya Appa peluk dede. Sama banet Moy" ucapnya di sela isak tangis.


"Dasar Tutut Gajah!" timpal Air di belakang punggung istrinya.


Bunda yang sedari tadi duduk di antara mereka akhirnya bangun menyiapkan makan siang bersama. Ia yang sudah selesai memasak hanya tinggal menghidangkannya saja di meja makan.

__ADS_1


"Kita makan yuk, Bunda masak ikan kecil kecil loh" ajak wanita baya berkaca mata saat ia kembali ke ruang tengah.


"Itan tecil yang lucu na kaya dede?" balas Sam yang langsung membuat semuanya tertawa termasuk Bunda yang jarang sekali mengekspresikan dirinya semenjak menjadi korban pemerkosaan.


Hujan bangun dari duduk setelah Sam di gendong oleh Air, si tampan yang kini memerah matanya itu pun enggan berjalan karna drama manja tingkat dewa sudah di mulai.


Samudera di dudukkan di kursi khusus untuknya yang lebih tinggi agar nyaman saat makan. Ia yang senang bukan kepalang langsung menarik piring berisi ikan teri dan kacang, di nikmatinya makanan tersebut sambil mengoceh lucu seakan lupa dengan tangisannya barusan.


"Mau nambah?" tawar Hujan saat piring makan putranya kosong tak bersisa.


"Nda"


"Nda, dede nda kenyang. Dede mahu nungguin abang es nanti" Hujan dan Bunda lalu saling pandang tapi sedetik kemudian mereka baru ingat jika Sang putra mahkota Rahardian sangat senang dengan es bubur sumsum yang setiap jam dua siang lewat di depan rumah Bunda. Ia tak pernah melewatinya sama sekali.


"oh, ya udah. Gak apa-apa, itu juga nanti bikin kenyang kok." sahut Bunda yang juga di iyakan oleh Hujan.


Air yang biasanya makan berkali kali pun ini malah ikut menggeser piringnya sampai Hujan yang melihat cukup aneh.

__ADS_1


"Kenapa? mau ikutan nungguin bubur sumsum juga?" tanya Hujan sambil tersenyum menggoda.


"Apa aja, nanti semua yang lewat kakak berentiin" Jawabnya sambil tertawa.


Bunda yang tinggal di kawasan perumahan biasa tentu menjadi nilai plus untuk Air dan Hujan yang hobby sekali menikmati jajanan pinggir jalan. Karna di rumah utama tentu mereka tak akan pernah mendapat kan yang seperti itu.


Hujan yang mencibir langsung membantu Bunda membereskan meja makan, sedangkan kedua lelaki kesayangannya kini kembali ke teras depan.


Diatas kursi kayu, Sam dan Air duduk berdua berdampingan dengan mata melihat kearah jalan yang cukup ramai lalu lalang orang orang yang lewat. Ada saja beberapa yang menoleh sambil tersenyum ada juga yang lewat dengan acuh dan tak jarang pula yang menatap mereka dengan sorot mata takjub.


"Eh, dede mau kemana lagi?" tanya Air saat putranya berjalan kearah samping rumah.


.


.


Dede mahu ajakin tucing tungguin abang abang..

__ADS_1



__ADS_2