
Harri dan Laila tengah duduk berdua setelah kesibukan di toko yang ramai pembeli tadi. Mereka duduk santai di kursi pembeli, karyawan yang lain juga tengah istirahat setelah pekerjaan berat dan melelahkan tadi.
"Oh ya, aku tidak melihat anak kecil yang biasanya membersihkan disini? dia kemana?" tanya Harri disela candanya.
"Oh Iwang? Iwang bukan tukang bersih-bersih disini tuan, tapi karena bu Mentari takut Iwang tidak enak jika memberikannya uang secara cuma-cuma makanya dengan dalih bekerja seperti itulah bu Mentari membantunya." jelas Laila.
Harri mengangguk paham.
"Sebenarnya bu Mentari membantu Iwang dengan sangat ikhlas loh. Selesai melakukan pekerjaannya Iwang langsung dibayar lima ratus ribu, itupun kadang dia dibawakan kue dari toko, hemmm benar-benar manusia berhati malaikat!" jelas Laila lagi sambil menatap Langit-langit toko seolah membayangkan sebuah wajah disana.
"Oh ya, bagaimana keadaan orang tuamu?" tanya Harri.
"Baik, mereka baik kok! kadang aku juga bingung sama mereka!" ucap Laila.
"Bingung? bingung kenapa?" tanya Harri tidak mengerti.
"Iya, soalnya mereka terus menanyakan tentang tuan Harri. Padahal anak mereka kan aku, tapi aku saja tidak pernah ditanyakan keadaannya." ucap Laila.
"Hahahaha, mungkin aku sudah dianggap anak oleh mereka!" ucap Harri mengacu pada perasaan.
__ADS_1
"Sepertinya begitu!" ucap Laila.
Maksud perkataan Laila tadi adalah dia pikir Harri mengatakan bahwa dia sudah dianggap anak oleh orang tua Laila, sedangkan maksud perkataan Harri adalah mungkin Harri sudah diterima menjadi anak atau lebih tepatnya calonnya Laila.
********
Siang ini Mentari baru selesai sholat. Nyeri dibagian intimnya terasa sangat sakit bahkan dari yang sebelumnya. Awalnya Mentari pikir nyeri ini karena mau datang bulan, namun setelah dia cek dikamar mandi tadi semua baik-baik saja.
Aduh ini kenapa sih? rasanya sakit banget tapi aku nggak bulanan!!! batin Mentari sambil memegangi perutnya.
Mentari mencoba kembali ke tempat tidur. Dia berpegangan pada apapun yang bisa dia raih untuk bisa menopang tubuhnya. Sambil terus memegangi perutnya, Mentari berjalan sangat pelan.
Ya Allah, kenapa sakit banget sih??
Mentari hampir saja terjatuh karena tidak kuat merasakan sakit dibagian intimnya, namun beruntungnya Darel langsung datang dan menopang tubuh Mentari sehingga tidak terjatuh.
"Kau mau apa? sudah ku bilang tiduran saja!" omel Darel.
Mentari samar-samar mendengarkan perkataan Darel, pandangannya kini buram dan dia pingsan.
__ADS_1
"Tari? Mentari??? hei bangun!!! tari??!!! kau jangan main-main ya, ini tidak lucu???!!" ucap Darel panik.
Apa karena semalam ya dia seperti ini? batin Darel.
Segera Darel menggendong tubuh Mentari ke atas ranjang, dan menelepon Ferry untuk dipanggilkan seorang dokter.
"Semuanya baik-baik saja tuan, mungkin sakitnya nona muda karena anda terlalu agresif semalam!" ucap sang dokter ketika selesai memeriksa keadaan Mentari.
Didalam kamar itu hanya ada Darel, dokter wanita, dan Mentari yang masih pingsan sedangkan Ferry menunggu diluar kamar.
"Emm, bagaimana kau tahu kalau aku...." terpotong.
Darel yang tidak bisa melanjutkan perkataannya pun akhirnya memilih diam.
"Saya ini seorang dokter tuan, jadi saya pastinya paham hal seperti itu, apalagi saya juga sudah menikah dan memiliki anak." jelas dokter itu sambil tersenyum.
Anak? apakah nantinya aku juga akan memiliki seorang anak? batin Darel.
"Baiklah saya akan memberikan resep agar rasa nyerinya tidak terlalu terasa, tolong ditebus di apotik ya!" ucap Dokter sambil menuliskan sesuatu kemudian memberikannya kepada Darel.
__ADS_1
Darel hanya menganggukkan kepala. Dokter wanita itupun keluar dan Ferry langsung meminta ijin untuk mengantar dokter wanita itu kembali ke rumah sakit.