Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 287


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu. Hari ini adalah acara tujuh bulan Daniar. Semua persiapan dilangsungkan dirumah Daniar. Anak buah Zanu dan asistennya pun ikut membantu. Mentari hendak pergi, namun Darel melarang dengan alasan pasti ada Surti disana. Darel tidak ingin Surti mengolok-olok istrinya lagi dan mengungkapkan hal yang dapat menyakiti hati istrinya.


"Tapi, aku ingin kesana!" rengek Mentari.


Yah, sejak semalam Mentari terus merengek untuk datang kerumah Daniar.


"Sayang, aku tidak ingin kau terluka! mengertilah!" ucap Darel.


"Kalau begitu aku akan ditemani kak Lukas! kalau perlu Adi dan Harri juga! boleh yaaa!!" bujuk Mentari.


"Tidak boleh!! patuh yaa!" ucap Darel.


"Kamu jahat!!! kamu udah nggak sayang aku lagi hiks...hiks...aku kan cuma mau ke acara tujuh bulanan Daniar! aku nggak bakal makan kalau gitu!!" ucap Mentari.


"Tuh kann tuann! nona menangis lagii!! tuan sih nggak ngijinin nona pergii!" ucap Harri saat Mentari telah berlari menuju kamarnya.


Darel mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku kan begini juga demi kebaikan diaa!! emangnya salah?" tanya Darel.


"Kamu benar karena sudah berhasil melindungi dia, sayang! tapi jangan lupa, ibu hamil itu lebih sensitif. Jangan sedikit-sedikit kamu buat menangis donggg, sama aja dengan kamu menyakiti dia dan bayinya!!" ucap nyonya Ardi yang datang bersama Randita dan Arya.


"Bener tuh, ma! masa pas aku datang kesini dulu Mentari dibuat nangis gara-gara dia mau makan gado-gado langganannya tapi Darel malah menyuruh mbok buat masakin gado-gado itu. Ya jelas Mentari nggak mau makan lah, orang yang mau anaknya bukan ibunya!" ketus Randita.


"Kak, bisa nggak sih jangan jadi kompor!!" ucap Darel karena tidak mau dimarahi oleh mamanya.


"Kenapa kalau Randita jadi kompor? ihhhh, dasar anak nakal ya kamuuu!!" ucap nyonya Ardi menjewer telinga Darel.


"Aduh...aduh...aduh...ampun maa...sakittt!!!" teriak Darel kesakitan.


Nyonya Ardi pun melepaskan jewerananya dan terlihat telinga Darel memerah karenanya.


"Kalian bertiga! siapkan mobil, kita ke rumah Daniar!" perintah nyonya Ardi kepada Adi, Harri, dan Lukas.


"Sekarang, nyonya?" tanya mereka serempak.


"Nggak taun depan!! ya sekarang lahhh! pakek nanya lagiii!" ucap Randita.


"Oh ya bawa dua mobil yaa!" ucap nya lagi.


Randita dan nyonya Ardi menaiki tangga menuju kamar Darel.


Tok...tok...tok...


"Tari....sayangg!! buka pintunya, nakk! ini mama..." ucap nyonya Ardi mengertuk pintu kamar Mentari.


Ceklek....

__ADS_1


"Maa!" Mentari menangis dipelukan mertuanya.


"Husttt, jangan nangis lagi yaa! kasian bayinya nanti kalau kamu nangis! ayo siap-siap! kita kan harus pergi ke rumah Daniar!" ucap nyonya Ardi.


"Tapi, ma! Darel nggak ngijinin akuu!" ucap Mentari mencebikkan bibirnya ke bawah.


"Sudah, jangan hiraukan suamimu itu! ayo kita pergi!" ucap nyonya Ardi.


Seketika senyum mentari mengembang, lalu dengan bersemangat dia masuk ke kamar untuk berganti baju. Tidak sampai lima belas menit, Mentari kembali keluar dengan setelan sederhana namun sangat indah dipakai.


"Loh-loh-loh, kalian mau kemana?" tanya Darel.


"Ke rumah Daniar! kamu nggak tuli kan tadi mama bilang apa?" ucap nyonya Ardi.


"Tapi, maa..."


"Mama yang akan menjaga Mentari! kalau kamu nggak mau ikut, yaudah dirumah aja!! Iwanggg, nakk, ayo kita ke rumah bibi Daniarr!!" panggil nyonya Ardi.


"Sebentar, nenekk!!" ucap Iwang.


"Ehh ma, aku ikut!!!" ucap Darel yang ingin ditinggal oleh mama, kakak, istri dan anaknya.


"Tadi nggak ngebolehin, sekarang malah ikut!" cibir Mentari.


********


"Tari, kamu baru datang? aku pikir kamu nggak jadi datang!" ucap Anisa.


Baby Brian mulai aktif-aktifnya sekarang. Dia sudah mulai tengkurap dan semakin menggemaskan.


"Itu tuh, gara-gara sama Darel nggak boleh datang. Tapi akhirnya aku datang sama mama dan kak Randita. Darel juga ikut akhirnya." ucap Mentari.


Seluruh rangkaian acara telah dilaksanakan. Mereka semua kini tengah bersantai sambil menikmati makanan dan rujak yang telah dibuat.


"Tarii!!" panggil Daniar langsung memeluk Mentari.


"Aku kira kamu tidak datang!" ucap Daniar melepaskan pelukannya.


"Aku pasti datang dongg! masa sahabatku mengadakan acara penting ini aku tidak datang!" ucap Mentari.


"Tari!" panggil seseorang.


Mentari menoleh ke sumber suara itu yang berasal dari arah belakangnya.


"Kak Candra?! apa kabar??" tanya Mentari.


Sejak dia kembali kedalam pelukan Darel, Candra seolah menghindar darinya. Mentari juga tidak tahu apa penyebabnya, atau dia sebenarnya tahu hanya saja tidak yakin dengan perkiraannya. Sempat Mentari berpikir bahwa Candra juga memiliki perasaan padanya. Namun karena tidak ingi berpikiran yang tidak-tidak, Mentari membuang jauh-jauh pikiran itu dadi otaknya.

__ADS_1


"Baik! kau sendiri?" tanya Candra.


Senyum di bibirnya perlahan lenyap saat mendapati perut Mentari sudah agak membesar.


"Tari...kamu..." ucap Candra menatap ke arah perut Mentari.


Mentari mengikuti arah pandang Candra.


"Oh, Alhamdulillah iya kak! aku hamil. Baru berjalan empat bulan." ucap Mentari mengelus perutnya.


"Selamat yaa! keinginanmu telah tercapai sekarang!" ucap Candra mengusap perut Mentari dengan lembut.


Dari kejauhan, Surti yang melihat Mentari rasanya ingin mengomelinya lagi. Berhubung suaminya telah menandatangani kontrak dengan tuan Darel saja Surti memilih menjauh dari Mentari. Namun sikap iri dengkinya masih tidak bisa lepas meski dia tidak mengolok-olok langsung Mentari.


"Eh, bu! lihat deh itu, si Tari! masa ada suaminya juga mau-maunya dipegang-pegang sama cowok lain! murahan bangat!" ucap Surti pada ibu-ibu tetangga Daniar.


"Lah, itu kan Candra! mereka memang sudah akrab dari kecil, sama Daniar juga kok, tuhh!" ucap salah satu ibu-ibu menyahuti perkataan Surti.


"Lah kalau Daniar kan memang yang punya hajat! lah si Mentari, sok-sokan akrab dengan cowok lain. Atau jangan-jangan cowok itu ayah dari bayi yang dia kandung!" kompor Surti.


"Astaghfirullah hal'adzim, bu! jangan bicara yang tidak-tidak! jatuhnya fitnah nanti!" tegur salah satu ibu-ibu.


"Fitnah bagaimana? orang jelas-jelas buktinya ada didepan mata kok!" ucap Surti.


"Ehemmm!!" dehem Abdullah yang berdiri di samping Surti.


"Eh, mas!" ucap Surti salah tingkah.


"Sini, ikut aku!" ucap Abdulah menarik paksa lengan Surti.


Abdulah membawa Surti ke tempat yang sepi.


"Aduh, mas! lepas!! sakit tauu ditarik-tarik begitu!" rengek Surti saat Abdulah melepas tarikannya pada lengannya dan menimbulkan bekas merah disana.


"Kamu nih bisa nggak sih, nggak usah cari masalah!" tegur Abdulah.


"Masalah bagaimana sih? orang aku cuma ngobrol sama ibu-ibu disini kok!" ucap Surti berkilah.


"Kamu pikir aku tidak dengar tadi apa yang lain bicarakan? kalau sampai yang dengar itu adalah bawahan tuan Darel atau bahkan tuan Darel sendiri, bisa habis kita, Surr!!"


"Kamu mau semua yang kita dapatkan ini hilang begitu saja? kamu mau aku dipecat dari pekerjaan ku sekarang lalu jadi pengangguran kemudian tidak bisa menafkahimu dan anakmu yang boros ituu?!" hardik Abdulah membuat nyali Surti menciut.


Abdulah kalau sudah marah memang sangat menakutkan, maka dari itu Surti sangat takut saat suaminya memarahinya begini.


"Enggak! ya maaf! kan yang aku bilang bener, dia cewek murahan. Mau-maunya dipegang-pegang sama cowok yang bukan suaminya!" ucap Surti masih melakukan pembelaan.


"Kamu kalau sudah tahu salah, ya mengaku saja! jangan pakai pembelaan segala! sudah! aku nggak mau tahu pokoknya jangan sampai kamu bicara macam-macam lagi tentang Mentari atau kalau tidak kamu akan mendapat kemurkaanku!" ancam Abdulah lalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Apaan sih, orang aku bener kok! awas ya kamu Tari! gara-gara kamu mas Abdulah memarahiku sampai seperti ini! ku doakan hidupmu tidak akan pernah bahagia!!" ucap Surti kesal.


__ADS_2