
Candra kembali ke ruangan Mentari. Sepanjang jalannya, Candra menjadi pusat perhatian orang-orang dirumah sakit. Tubuh atletisnya, dada yang bidang, postur tubuh tinggi kekar, siapapun akan tergoda dengan makhluk ciptaan Tuhan itu. Ditambah lagi Candra mengenakan kemeja hitam yang press body dengan tiga kancing yang dibiarkan terbuka menambah kesan sexy pria itu.
"Tari!" panggil Candra ketika memasuki kamar Mentari.
Candra melihat kearah Mentari yang berada di dekat jendela memandang entah kemana. Candra mendekati wanita yang pernah menetap lama dihatinya itu.
"Tari!" panggil Candra pelan sambil mengusap lembut pucuk rambut Mentari.
"Eh, kak! udah lama?" tanya Mentari terkejut.
"Lumayan!" jawab Candra singkat.
Candra membuka lemari kecil disamping tempat tidur Mentari lalu mengambil mangkuk dan sendok untuk Mentari. Candra mulai menuangkan soto babat juga nasi yang dia beli tadi ke dalam mangkuk.
"Lihat apa yang kakak bawa!" ucap Candra menunjukkan kue matcha.
"Kue matcha!!!" ucap Mentari girang.
"Kakak masih ingat kue favoritku?" tanya Mentari menunjukkan senyumnya.
"Tentu saja!" jawab Candra setengah terkekeh.
"Cepat habiskan! kata dokter kamu boleh pulang hari ini!" ucap Candra.
Mendengar ucapan Candra, Mentari menjadi sedikit sedih. Dia belum memutuskan untuk tinggal dimana.
"Kenapa? apa ada masalah?" tanya Candra yang sebenarnya sudah tahu masalah Mentari.
"Kak, aku....aku tidak tahu mau tinggal dimana!" jawab Mentari menunduk.
"Kenapa? bukankah kata Sasa kamu sudah menikah? dimana suamimu?" tanya Candra.
"Kak, kami...kami sedang ada masalah!" ucap Mentari malu.
Dia tidak mau sebenarnya menceritakan masalah didalam rumah tangganya. Tidak baik pikirnya menyebarkan aib rumah tangganya. Namun pria dihadapannya ini sudah seperti kakaknya, dan sekarang tidak mungkin dia tidak menceritakannya kepada Candra.
"Kalau kamu belum siap bercerita kakak akan tunggu sampai kamu siap, oke!" ucap Candra mengerti.
"Makasih kak!" ucap Mentari berkaca-kaca.
Sekali lagi, dia menemukan orang baik didekatnya. Prinsipnya yang diajarkan oleh sang ayah yaitu Dunia ini penuh dengan orang baik, jika kamu tidak bisa menemukannya, maka jadilah salah satunya. Hal itu yang terus Mentari terapkan selama ini.
"Baiklah kalau begitu, kau mau tinggal denganku?" tawar Candra.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Candra mengatakannya, dia tidak ingin Mentari sendirian di dunia luar yang keras ini juga dia tidak ingin seorangpun kembali menyakiti Mentari. Lagi.
"Memangnya boleh?" tanya Mentari bersemangat.
"Tentu saja! besok kakak mau terbang ke Bali. Ada pekerjaan disana dan mengharuskan kakak menetap disana dalam waktu yang cukup lama." jelas Candra.
"Kalau tidak merepotkan, aku mau kak!" ucap Mentari.
"Ya sudah habiskan dulu sarapanmu!" ucap Candra lembut.
Mentari mengangguk patuh lalu menguapkan makanan itu kedalam mulutnya. Candra meminta ijin untuk menelepon dulu dan Mentari pun mengijinkannya.
"Hallo, Rio cancel hotel yang sudah kau pesan kemarin. Beli kan aku rumah saja. Aku akan bersama Mentari disana dan kau juga. Oh ya cari tahu semua tentang Mentari setahun ini!" perintah Candra.
"Baik tuan!" jawab Rio diseberang telepon.
Panggilan terputus, Candra kembali ke kamar Mentari dan melihat Mentari tangah meminum obatnya. Mentari sudah menyelesaikan sarapannya.
"Oh ya, baju-bajumu ditinggalkan saja dirumah. Aku akan membelikanmu yang baru!" ucap Candra.
"Eh tapi kak, nggak usah! semuanya masih baru kok belum pernah aku pakai!" ucap Mentari jujur.
Memang baju-baju yang dia bawa rata-rata belum pernah dia pakai karena biasanya pelayan Darel akan mengganti bajunya yang sudah satu atau dua kali pakai dan menggantinya dengan yang baru.
"Suamimu yang mengaturnya?" tanya Candra menaikkan salah satu alisnya dengan raut wajah yang, entahlah.
"Dia terlihat begitu perhatian denganmu! lalu kenapa dia bisa membiarkan mu, yang masih istrinya berkeliaran malam-malam membawa koper?" tanya Candra.
"Kak, jangan berbicara buruk tentang dia! bagaimana dan seperti apa dia hanya aku yang tahu." ucap Mentari sedikit kesal.
"Baiklah! kakak tidak akan mengatakan hal itu lagi!" ucap Candra mengalah.
********
Pukul satu siang, Mentari sudah diperbolehkan pulang. Kondisinya sudah mulai membaik namun lukanya masih butuh waktu untuk sembuh total.
Sesuai rencana, Candra membawa Mentari ke Bali untuk tinggal disana. Mentari meminta Candra merahasiakannya dari siapapun kalau Mentari ada bersamanya, pun dari Sasa adiknya. Candra pun menyetujuinya, yang penting bisa bersama Mentari pikirnya.
"Tuan!" sapa Rio.
Mereka sekarang sudah berada di bandara.
"Bagaimana semuanya?" tanya Candra sambil terus berjalan dan disampingnya Mentari terlihat kelelahan menyeimbangi langkah pria itu.
__ADS_1
"Sesuai perintah tuan!" ucap Rio.
"Bagus!" ucap Candra.
"Kakak!!!" panggil Mentari yang sudah tidak sanggup mengejar langkah kaki Candra.
Candra menoleh ke belakang, terlihat Mentari tengah berjongkok dengan nafas ngos-ngosan. Mungkin dia sangat kelelahan menyusulnya.
"Kenapa?" tanya Candra yang sudah berjongkok didepan Mentari.
"Capek! kakak jalannya cepat banget sih! aku kan nggak bisa nyusul kakak!" ucap Mentari terlihat menggemaskan dimata Candra.
"Berikan tanganmu!" ucap Candra masih setia berjongkok dihadapan Mentari.
Mentari dan Rio kebingungan dengan ucapan Candra. Batin Rio bosnya ini paling anti jika berdekatan dengan wanita, namun dengan wanita yang bernama Mentari ini kenapa lain?
Mentari mengikuti ucapan Candra, memberikan tangan kanannya. Tanpa terduga Candra langsung menggendongnya didepan membuat semua orang terfokuskan kepada mereka.
"Kak!! apa yang kakak lakukann?!!! turunkan akuu!!!!" teriak Mentari meminta turun.
"Katanya capek tadi, nggak bisa mengejar langkah kakak! lagian siapa suruh kamu pendek!" ucap Candra jahil.
"Aku nggak pendek yaaa! kakak aja tuh yang ketinggian!" ucap Mentari masih berada di gendongan Candra.
Banyak wanita yang iri dengan Mentari. Mereka pikir Candra dan Mentari adalah sepasang kekasih. Tidak sedikit pula dari mereka mengabadikan momen itu melalui video ataupun foto. Rio yang melihat itu mengisyaratkan kepada bawahannya untuk mengatur semuanya agar tidak ada foto ataupun video yang tersebar di sosial media.
Anak buah Rio mendekati orang-orang yang mengabadikan momen itu lalu menawarkan sejumlah besar uang agar menghapus foto/video tuan mereka. Pengunjung yang tergiur dengan sejumlah besar uang itu pun luluh dan menghapus foto/video di ponsel mereka.
Masalah foto/video sudah beres. Rio kembali menyusul tuannya memasuki pesawat pribadi milik Candra.
"Kak nggak berat?" tanya Mentari yang masih digendong Candra menuju kursinya.
Bukannya menjawab Mentari, Candra justru mendudukkan Mentari ke kursinya dengan pelan.
"Kakak!!!" panggil Mentari agak kesal karena Candra tidak menjawab pertanyaannya.
"Tidak! kamu kan kurus! makanya makan yang banyak biar agak gemuk!" ejek Candra.
"Ishh! aku udah gemuk kali kak! liat nih pipi aku kayak bakpao gini!" ucap Mentari sembari mencubit pipinya sendiri.
Tidak tahan dengan kegemasan yang dibuat Mentari, Candra menarik kedua tangan Mentari menjauhkan tangan itu dari pipinya sendiri.
"Kurang gemuk!" ejek Candra.
__ADS_1
Perkataan Candra sontak saja membuat Mentari tidak terima. Candra tidak mendengarkan Mentari dan memilih duduk di kursinya disamping Mentari. Mendengarkan wanita itu yang terus saja mengoceh tentang berat badannya dan yang lain-lain membuat Candra terkekeh gemas.
Andai hatimu itu milikku Mentari! tidak akan pernah aku sia-siakan dirimu! suamimu begitu bodoh karena sudah mencampakkan bidadari tak bersayap sepertimu! batin Candra sembari tersenyum menatap kearah Mentari yang masih saja mengoceh.