
"Siall!!! tidak, aku tidak terima kalau kau menikah secara terpaksa Mentari! kau wanita yang baik, dan kau pantas mendapatkan pria yang baik juga!!! akhhh, sial... sial....sial... kenapa tidak dari dulu aku mengungkapkan perasaanku kepadanya, kenapa??!!!!" teriak Galih didalam mobilnya sambil memukul-mukul setir mobil.
Tidak Mentari, selagi aku masih hidup tidak akan aku biarkan siapapun mendekati atau bahkan menyakitimu! termasuk orang yang menjadi suamimu! batin Galih. batin Galih.
Galih sampai di apartemen miliknya dengan perasaan kalut. Entah bagaimana tapi dia merasa sangat marah, kecewa, dan tidak percaya kalau Mentari menikah dengan Darel, pria yang baru saja dia temui hari ini.
"Siallll!!!!" teriak Galih sambil membuang benda-benda disekitarnya.
"Kenapa Tari, kenapa!!!!! kenapa kau malah menikah dengan pria itu??? apa kau diperas olehnya? apa kau jadi materialistis karena dia orang kaya raya?" teriak Galih terdengar frustasi.
Aku tidak rela ada yang menyentuhmu Tari, sampai kapanpun kau hanya akan jadi milik ku, hanya milikku! batin Galih.
Galih mengacak-acak rambutnya kasar. Wajah yang biasanya terlihat ceria dan bersahabat itu kini terlihat berantakan dan sendu.
"Aku akan merebut mu kembali kepelukanku Mentari! aku janji akan mengeluarkan mu dari penjara pernikahan itu!" ucap Galih sendu.
********
Disisi lain Bagas baru saja menyuapi Anisa. Angel yang sedari tadi terus mengawasi mereka akhirnya memilih keluar dari ruangan itu karena tidak mau menjadi obat nyamuk antara rekannya dan sahabat lamanya itu.
"Gas, apa kau sudah memberitahu pada yang lain?" tanya Anisa dengan suara yang masih lemah.
Bagas tau maksud dari pertanyaan Anisa barusan adalah Arul.
"Belum, tapi aku akan...." terpotong.
"Jangan, Gas! aku mohon! jangan beritahu dia, aku....aku tidak mau dia melihat kondisiku yang seperti ini!" ucap Anisa sendu.
Air mata mulai membasahi pipi Anisa. Bagas merasa tidak tega melihat sahabatnya sejak kecil ini terbaring lemah, dan lebih menyedihkan lagi dia tidak bisa melakukan apapun untuk mengobati penyakit Anisa.
"Maafkan aku!" ucap Bagas tertunduk lesu.
"Tidak, Gas, jangan minta maaf. Kau tidak salah!" ucap Anisa mengusap air mata di pipinya.
__ADS_1
"Harusnya aku tahu perasaanmu padanya waktu itu, aku...aku terlalu bodoh untuk melihat sikap berbedamu terhadap Arul!" ucap Bagas merutuki kebodohannya.
"Gas, cinta tidak bisa dipaksa, cinta juga tidak bisa diprediksi pada siapa dia akan berlabuh. Dulu aku mungkin sakit hati karena perbuatannya. Tapi....aku...aku ikhlas, terlebih penyakitku ini lama-lama akan menggerogoti tubuhku bukan?" ucap Anisa yang benar-benar terlihat tegar dimata Bagas.
Bagas tahu, meski saat ini sahabat kecilnya itu tersenyum, ceria namun didalam diri Anisa dia sangat amat bersedih karena penyakit yang belum ada penawarnya itu.
Tanpa diduga air mata mengalir dipipi Bagas. Pertahanannya untuk tidak menangis roboh dan meloloskan setitik air mata dan dengan cepat Bagas mengusapnya agar Anisa tidak ikut bersedih.
"Aku janji akan melakukan apapun untuk kesembuhanmu! berapapun akan aku keluarkan bahkan seluruh kekayaanku pun akan aku korbankan asalkan kau sembuh!" ucap Bagas bersungguh-sungguh sambil meraup wajah Anisa.
"Gas, aku yakin akan sembuh! kau percayalah padaku!" ucap Anisa masih terdengar membujuk agar Bagas tidak khawatir kepadanya.
"Aku keluar dulu sebentar, nanti aku akan kembali lagi kesini." ucap Bagas lembut.
Anisa membalas dengan anggukan kepala. Bagas pun keluar dari ruangan Anisa. Namun tanpa disadari Bagas dan Anisa, Angel sedari tadi menguping pembicaraan mereka hingga saat Bagas keluar ruangan tubuhnya menabrak tubuh Angel yang tengah berdiri didepan pintu.
"Angel? bukankah kau sudah pergi dari tadi?" tanya Bagas.
"Ah, itu...emmm...ak...aku cuma.. oh ya ada pasien yang harus kau periksa!" ucap Angel mengalihkan topik.
Eh? kok aku sih yang disalahin? batin Angel.
*******
Hari itu sesuai perintah Darel, Jack melacak keberadaan kelompok Drago Mark. Bukan tanpa sebab sebenarnya, hal itu Darel lakukan karena mungkin saja mereka akan menyerang keluarganya saat Darel tengah berbulan madu.
"Tuan, sepertinya aku lebih curiga pada orang yang ada luka dipipinya itu!" ucap Jack disela-sela tugasnya.
"Sudah diam! Darel tidak ingin informasi tentang orang itu, cari saja siapa dalang dari penyerangan markas Darel waktu itu!" ucap Tomi sambil meminum alkohol ditangannya.
Tomi pun ingat bahwa beberapa saat yang lalu Bagas mengiriminya pesan singkat namun belum sempat dia baca. Tomi pun merogoh saku celananya dan membuka aplikasi hijau mencari nama Bagas.
"Apa!!???" teriak Tomi dengan raut wajah terkejut.
__ADS_1
Jack yang saat itu tengah serius dengan alat retasannya ikut terkejut mendengar teriakan Tomi yang tiba-tiba.
"Ada apa tuan? apa tuan salju sedang dalam masalah? ayo kita ke Paris sekarang!" ucap Jack.
"Paris palamu itu, lihat ini!" ucap Tomi memberikan ponselnya kepada Jack.
"Siapa itu Anisa tuan?" tanya Jack menatap tuannya itu.
"Panjang ceritanya, kau cepat hubungi Arul dan meminta bertemu dirumah sakit Darel sekarang! ayo!" ucap Tomi sambil bergegas keluar markasnya.
Jack yang masih bingung pun hanya menuruti perintah tuannya ini. Dia dengan secepat kilat langsung menghubungi Arul yang saat itu tengah berada dijalan bersama Adi dan Harri.
Arul memang ditugaskan untuk menemani Adi dan Harri untuk mengintai Drago Mark sama seperti pimpinan kelompok Darel yang lain. Kelompok Drago Mark tidak bisa Darel anggap remeh terlebih kebrutalannya sudah terdengar diseluruh dunia bawah.
"Hallo, ada apa?" tanya Arul yang tengah duduk disamping kemudi.
"Tuan, segera ke rumah sakit tuan salju sekarang juga! kami juga sedang menuju kesana!" ucap Jack langsung memutuskan panggilannya.
"Hei, ada apa emangnya? hallo? dasar kau bocah tengik katakan dulu alasannya!" ucap Arul emosi.
"Ada apa tuan?" tanya Adi yang duduk dikursi belakang.
"Kita kerumah sakit milik Darel sekarang! entah apa yang dilakukan Tomi sampai Jack menyuruh kita datang kesana sekarang juga!" ucap Arul sambil memasukkan ponselnya dalam saku.
Mobil yang ditumpangi mereka bertiga pun memutar arah menuju rumah sakit Darel. Hampir satu jam perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpangi mereka bertiga sampai dirumah sakit Darel. Diluar rumah sakit sudah ada Tomi dan Jack yang menunggu sedari tadi.
"Ada apa ini? kenapa Jack meneleponku dan menyuruhku kemari segera? apa semuanya baik-baik saja?" tanya Arul setelah keluar dari mobil diikuti Adi dan Harri.
"Kau lihatlah sendiri didalam!" ucap Tomi.
Mereka pun mengikuti langkah kaki Tomi hingga berhenti disebuah kamar VVIP. Arul yang saat itu masih tidak mengerti pun dibuat bertanya-tanya.
Siapa yang sakit? bukankah Darel sedang bulan madu? batin Arul penasaran.
__ADS_1
Tomi membuka pintu ruang perawatan itu, dan betapa Arul terkejut saat melihat orang yang tangah berbaring diruangan tersebut dengan alat bantu memenuhi tubuh wanita itu.
"Dia!!???"