
Saat makan malam, Shaki yang duduknya berseberangan dengan Hyuna terus menatap ke arah Hyuna. Hyuna tau apa maksud Shaki.
"Emm, papi..." panggil Hyuna pada akhirnya.
"Ya, sayang? kenapa?" tanya Darel.
"Hyuna mau ngomong sesuatu sama papi." ucap Hyuna ragu-ragu.
"Ngomong aja, sayang!" ucap Darel.
"Emm, sebelumnya Hyuna mau minta maaf sama papi." ucap Hyuna membuat semua orang menghentikan aktivitas makannya lalu menatap ke arah Hyuna.
"Princess nya uncle, ada apa?! apa ada masalah?" tanya Juna.
"Enggak uncle, semuanya baik-baik aja kok! cumaa..."
"Ayo katakan sayang! jangan takut!" ucap Darel.
"Hyuna ingin meminta papi membatalkan perjodohan Hyuna dengan kak Varo!" ucap Hyuna.
Iwang merasa bingung. Setahu dia, Hyuna sangat mencintai Alvaro. Bahkan Iwang tau betapa bahagianya Hyuna saat Darel mengatakan akan menjodohkan dia dengan Alvaro. Tapi mengapa sekarang malah Hyuna ingin membatalkan perjodohan ini?! pikir Iwang.
"Dek, apa yang kamu katakan?" tanya Iwang yang posisinya memang duduk disamping kanan Hyuna.
"Sayang, kamu serius mau membatalkan perjodohan ini?" tanya Zoe.
Naruka yang sedikit banyak paham pun memilih diam. Mungkin ini adalah jalan terbaik untuk Hyuna mengingat bagaimana Alvaro pada Hyuna.
"Hyuna sudah memikirkan semuanya aunty, kak Iwang! Hyuna serius dengan perkataan Hyuna barusan." ucap Hyuna.
"Boleh papi tau alasannya?" tanya Darel.
"Papi, Hyuna ingin menikah dengan orang yang Hyuna cintai dan yang mencintai Hyuna. Hyuna takut kalau dengan perjodohan ini salah satu atau kedua dari kami tidak saling mencintai." ucap Hyuna asal-asalan.
"Hyuna, perlu kamu ketahui, papi sama almarhumah mami kamu dulunya juga dijodohkan. Dan mereka saling mencintai pada akhirnya." ucap Juna.
"Papi, Hyuna mohon!"
"Baiklah, papi akan bicara dengan paman Zanu untuk membatalkan perjodohan ini. Papi tau itu bukan alasan kamu yang sebenarnya, tapi tak apa, papi hargai keputusan kamu!" ucap Darel.
"Makasih papi!" ucap Hyuna.
Iwang terus menatap ke arah adik perempuannya ini, walaupun bibir Hyuna tersenyum namun entah mengapa dia merasakan perih di hatinya. Lalu matanya secara tidak sengaja menatap ke arah Shaki. Dia juga tengah menatap ke arah Hyuna. Namun bedanya, tatapan mata Shaki kali ini seperti.....emm, entahlah! apa jangan-jangan Shaki tahu alasan sebenarnya Hyuna membatalkan perjodohan ini?! batin Iwang.
Kaivan yang memang kurang peka terhadap situasi itu pun memakan makanannya dengan tenang. Dia sudah jarang mengusili Hyuna, namun dia lebih sering bersama dengan Shaki walau sesekali dia juga pergi sendirian.
"Pi, aku minta uang yaa! habis ini mau ngedate!" ucap Kaivan.
Mendadak semua nya terkejut dan menatap Kaivan.
"Kamu serius, Van?!" tanya Juna.
"Emang ada cewek yang mau sama kakak?!" tanya Naruka.
__ADS_1
"Siapa wanita itu, Van?" tanya Zoe.
"Satu-satu dong kalau mau nanya! namanya Maisa, dia satu sekolah sama kita, ya kan kak!!" ucap Kaivan menyenggol lengan Shaki yang duduk di samping kirinya.
"Dan Naru! kakak mu ini tuh ganteng nya kebangetan! masak nggak ada cewek yang mau sih??" ucap Kaivan menatap Naruka.
"Yaa, aku cuma heran aja! soalnya kan kakak kalau tidur masih suka ileran!" jawab Naruka spontan.
"Eh, jangan keras-keras dong, malu tauu!!!" ucap Kaivan.
"Upss!!! maaff!" ucap Naruka menutup mulutnya.
"Ivan?!" panggil Darel.
"Ya pi?!"
"Udah papi transfer, sekalian sama uang mingguan ya! kalian juga sudah!" ucap Darel.
"Naru enggak uncle?" tanya Naruka.
"Tentu saja sudah!" ucap Darel.
"Yeyyy dapat uang jajan dari uncle Darel!!!" teriak Naruka kegirangan.
"Oh, ya hasil pemotretan tadi sekitar satu minggu lagi akan cair ke rekening kalian sekalian waktu tanggal launching nya." ucap Darel.
"Wahhh, semakin banyak nih uangku!! belum lagi nanti pasti juga dapat uang jajan dari uncle Rangga dan aunty Randita! belum lagi dari kak Arya." ucap Naruka berkhayal.
"Naru, jangan begitu!" tegur Zoe.
Setelah menyelesaikan makan malam, Hyuna langsung kembali ke kamarnya bersama Naruka.
Tok...tok...tok...
Pintu kamar Hyuna diketuk dari luar saat dia tengah asyik berbincang dengan Naruka. Naruka pun turun dari ranjang Hyuna dan membuka pintu kamar Hyuna.
"Eh, kak Iwang?! ada apa kak?" tanya Naruka.
"Em, kakak mau bicara sama Hyuna!" ucap Iwang membuat Naruka menoleh ke belakang ke arah Hyuna.
Hyuna pun merasa bingung. Dia rasa dia tidak melakukan kesalahan akhir-akhir ini.
"Kalau gitu, aku mau kebawah dulu ngambil camilan lagi!" ucap Naru beralasan.
Padahal dikamar Hyuna semuanya telah tersedia camilan dan minuman.
Setelah kepergian Naruka, Iwang memasuki kamar Hyuna lalu duduk di tepi ranjang. Lama sekali Iwang diam, dan Hyuna pun menunggu kakaknya itu untuk berbicara.
"Bisa tolong jujur sama kakak?" tanya Iwang tanpa menoleh ke arah Hyuna.
"Jujur, masalah apa kak?" tanya Hyuna.
Hyuna berpikir keras mengingat-ingat apakah dia melakukan kesalahan akhir-akhir ini, namun hasilnya nihil.
__ADS_1
"Kenapa kamu membatalkan perjodohan ini? kakak tahu sebesar apa rasa cinta kamu sama Alvaro? alasan yang kamu berikan ke ayah tadi sama sekali tidak menyenangkan hati kakak, ayah juga merasakan kalau alasan kamu itu bukanlah yang sebenarnya." ucap Iwang.
Sekarang Hyuna tahu maksud kedatangan kakaknya ini kesini menemuinya.
"Dan Shaki?! kenapa di meja makan tadi dia menatapmu begitu? apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan dari kami? Hyuna kita sudah sering membicarakan ini, jangan ada rahasia diantara kita. Kalau kamu tidak ingin memberatkan ayah dengan masalah kamu, masih ada kakak dan yang lain yang bisa menjadi rumah buat kamu. Kamu mau kakak merasa gagal terus menerus karena kamu tidak pernah mau jujur sama kakak? kakak akui kami terkadang kurang peka dengan keadaan kamu, tapi kamu bisa membaginya dengan kami, setidaknya kami tau kondisi mental kamu." jelas Iwang panjang lebar.
"Maaf kak, Hyuna nggak mau kakak merasa gagal. Tapi Hyuna masih bisa mengatasi ini." ucap Hyuna.
"Jika kamu bisa mengatasinya, tidak mungkin kamu seperti ini, dek!" ucap Iwang.
"Seperti ini kenapa?" tanya Hyuna bingung.
Dia merasa dia biasa-biasa saja, tidak ada yang berbeda.
"Wajah kamu menjadi murung, walaupun kamu tersenyum tapi kakak sakit melihatnya. Itu bukan senyum indah kamu! jangan biasakan dirimu seperti itu. Jika kamu sedih, luapkan! jika kamu marah luapkan!! kami siap mendengarkanmu!" ucap Iwang.
Hyuna. Pertahanannya akhirnya runtuh juga. Dia menangis sambil memeluk Iwang.
"Menangis lah, dek!!! menangislah sampai hatimu merasa tenang!!" ucap Iwang lembut seraya membelai rambut Hyuna.
Sudah selama hampir setengah jam Hyuna menangis didalam pelukan Iwang, sampai akhirnya isak tangis Hyuna pun mereda.
"Sudah lebih baik?" tanya Iwang.
Hyuna hanya menganggukkan kepalanya didalam pelukan Iwang.
"Kakak tidak akan bertanya lagi alasan kamu membatalkan perjodohan ini! tapi kakak mohon, jika ada apa-apa tolong beritahu kakak! kakak cemas kalau mau seperti ini!" ucap Iwang.
"Hei! kamu tau kalau kamu itu mirip sekali dengan ibu?" tanya Iwang saat melepaskan pelukannya pada Hyuna.
"Sungguh? aku rasa aku tidak seperti ibu! ibu adalah wanita yang anggun, sedangkan aku..."
"Kamu terbaik menurut versimu, dan ibu terbaik menurut versinya!"
"Kamu tau, saat kamu mengenakan dress kemarin kakak merasa melihat ibu!! kamu persis sekali dengan ibu. Matanya, postur tubuhnya, dan yang paling mirip! senyummu! persis sekali dengan ibu!" ucap Iwang.
"Tapi aku tidak sekuat ibu!" ucap Hyuna.
"Siapa bilang! kamu juga kuat sama seperti ibu! buktinya kamu bisa bertahan sampai sejauh ini! sampai di detik ini!" ucap Iwang.
"Kak, bolehkah kakak berjanji satu hal?" tanya Hyuna.
"Katakan?!"
"Apapun yang terjadi, tolong jangan sakiti kak Varo! Hyuna tidak bisa melihatnya kesakitan!" ucap Hyuna.
Iwang menautkan alisnya. Walaupun dia merasa bingung, tapi dia tetap mengiyakan perkataan Hyuna. Setelah selesai, Iwang pun keluar dari kamar Hyuna.
"Sudah selesai, kak?" tanya Naruka.
Rupanya Naruka telah berdiri di depan kamar Hyuna sedari tadi menunggu Iwang keluar.
"Maaf ya, sudah menunggu lama! iya sudah selesai!" jawab Iwang.
__ADS_1
"Kakak mau kemana?" tanya Naruka.
"Mau ke kamar." jawab Iwang berlalu pergi.