Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 311


__ADS_3

Mentari tengah asyik memilah baju-baju mungil untuk ponakannya. Dia ditemani Darel, Iwang Adi dan Harri, juga Lukas dan Amira membeli semua perlengkapan bayi itu. Hubungan antara Lukas dan Amira telah lebih membaik, walaupun tidak sehangat dahulu. Namun setidaknya mereka sudah lebih banyak bercakap sekarang. Amira menyadari, cintanya pada Lukas masih lebih besar daripada rasa kecewanya pada pria itu.


Terbukti selama Lukas di rumah sakit, Amira juga merasakan sakitnya walaupun bukan dia yang terluka. Amira juga diperbolehkan oleh Darel untuk membeli barang-barang kebutuhan untuk anak-anak di panti.


"Sayang, ini bagus nggak?" tanya Mentari sambil menunjukkan sebuah baju bayi berwarna biru muda yang sangat menarik perhatiannya.


"Ambil saja!" ucap Darel.


Terhitung sudah lebih dari dua puluh baju bayi dengan berbagai model dan warna yang berada di keranjang belanja Mentari. Keranjang itu didorong oleh Adi.


Adi sangat kesusahan mengimbangi gerak langkah Mentari padahal dia tengah hamil besar apalagi janinnya lebih dari satu, namun Mentari sama sekali tidak merasa letih. Mentari memasuki semua toko pakaian anak-anak dan memilih baju-baju yang indah dimatanya untuk keponakannya yang baru. Mentari sungguh senang dengan kehadiran anggota baru di keluarganya ini.


"Nona, tunggu dulu!" teriak Adi saat Mentari berjalan dengan cepat didepannya.


"Ayolah Adi! masa kamu kalah sama aku yang lagi hamil besar ini?!!" ejek Mentari membuat semua orang tertawa.


"Hahaha, kamu benar sekali sayang! Adi tampaknya telah semakin tua makanya dia mudah lelah!" ejek Darel.


"Hahahaha, bujang lapukkk!!" ejek Harri yang tertawa paling keras dari yang lainnya.


Sementara dibagian paling belakang, Lukas dan Amira tidak menghiraukan candaan orang-orang dihadapannya. Mereka asyik dengan pembicaraan mereka sendiri.


********


Ding....dong....ding....dongg....


Terdengar suara bel berbunyi.


"Biar saya saja bi!" ucap nyonya Ardi yang kebetulan hendak membuka pintu.


"Baik, nya!" ucap bibi.


Nyonya Ardi membuka pintu itu. Dia tampak terkejut saat mendapati siapa yang datang bertamu ke rumahnya.

__ADS_1


"Bibi?!" nyonya Ardi terkejut.


"Ohh, bagus yaa! kalian ini sudah tidak menganggap aku keluarga atau bagaimana?! kenapa Ardi meninggal aku tidak diberi kabar sama sekali?! bahkan sudah satu bulan meninggalnya Ardi dan aku baru tahu?!" cerca wanita tua dengan dress selutut itu.


Penampilannya nampak modis walaupun masih ada beberapa garis halus di area wajahnya. Nyonya Ardi tampak kikuk karena dia tidak menyangka bibinya ini akan datang kesini.


"Ayo masuk dulu, bi!" ajak nyonya Ardi.


"Oh ya, telpon Darel suruh kesini! dia menikah saja aku juga tidak diberi tahu! dasar keluarga nggak punya adab!" sindir wanita itu yang berjalan didepan nyonya Ardi.


Pak Joni yang berdiri tidak jauh dari sana langsung dihampiri oleh nyonya Ardi.


"Pak, tolong telepon Darel, suruh kesini, sekarang!" perintah nyonya Ardi.


"B...baik nyonya! tapi apa ini bagus? nyonya kan tahu sendiri kalau nyonya Sandra itu seperti apa? nanti nona Mentari...." pak Joni tidak berani melanjutkan perkataannya.


"Sudah, panggilkan saja dulu! daripada dia makin marah nanti!" ucap nyonya Ardi lalu berjalan meninggalkan pak Joni menyusul nyonya Sandra.


"Bibi mau minum apa?" tawar nyonya Ardi.


"Maaf, bi, tadi aku suruh pak Joni buat telepon Darel untuk kesini. Jadi nggak sempet nawarin minum." ucap nyonya Ardi.


"Alah, alesan! oh ya, apa si Darel jadi nikah sama Pretty?! mana coba lihat foto pernikahannya?!" ucap Sandra dengan senyum sumringah.


Sandra tidak tahu kalau Darel menikah dengan Mentari. Secara dia tidak terlalu mengikuti berita sehingga baru mengetahuinya.


"Emm...itu..." nyonya Ardi terbata.


"Kenapa?! mana coba lihat fotonya!!!"


Dengan terpaksa nyonya Ardi menunjukkan foto pernikahan Darel dengan Mentari yang masih ada di ponselnya. Sandra begitu terkejut saat mengetahui bahwa wanita yang dinikahi Darel bukanlah Pretty melainkan orang lain.


"Apa-apaan ini?!!! siapa wanita ini?! pasti dia pelakor dalam hubungan Darel dan Pretty kan?! iya kann?!!" teriak Sandra marah.

__ADS_1


"Bi, tenang dulu! Mentari bukan wanita seperti itu kok, Ardi sendiri yang menjodohkan mereka! lagian Pretty itu bukan wanita yang baik, bi! aku jauh lebih setuju Darel menikah dengan Mentari daripada Pretty!!" ucap nyonya Ardi.


"Jadi nama pelakor itu Mentari?! bawa!! bawa dia kesini!!! aku nggak terima ada pelakor dalam keluarga ku!!" ucap Sandra dengan sombongnya.


"Mentari bukan pelakor, bi!! dia bukan pelakor!! berhenti mengatainya pelakor!!!" ucap nyonya Ardi ikut emosi.


"Ini!!! ini!!! kamu bahkan berani membentak aku demi membela pelakor itu?!! bagus sekali kamu, Rumi!!" ucap Sandra melotot ke arah nyonya Ardi.


"Bukan begitu, bi... aku cuma..."


"Halah!! sudah jelas dia itu membawa pengaruh buruk buat keluarga ini!!! bagus an juga Pretty yang jadi istri Darel!! wanita itu kelihatan kampungan!! beda sama Pretty yang berkelas, berpendidikan!! pasti wanita itu bukan dari kalangan kita!!" maki Sandra.


Nyonya Ardi sebenarnya sangat geram saat Sandra mengatai menantunya. Dia tidak terima. Tapi mulut wanita yang dia panggil bibi itu sangat lah pintar membolak-balik kan keadaan. Jika dia sudah menyukai sesuatu, maka dia harus mendapatkannya, begitu pula sebaliknya. Seolah dunia ini harus berputar mengelilingi dirinya dan mengikuti semua kehendaknya. Nyonya Ardi tidak menyukai sikap bibinya itu, tapi jika dia membantah, pasti Sandra akan mengira itu pengaruh buruk dari Mentari dan semakin membenci menantunya.


Tari, tolong kuatlah menghadapi bibi Sandra!! Tuhan! tolong kuatkan menantuku! batin nyonya Ardi.


********


Kini, Darel, Mentari, Iwang, Adi, Harri, Lukas dan Amira telah berada dirumah utama. Darel nampak khawatir karena sekali lagi prediksi Adi terbukti benar terjadi. Nenek kecilnya ini benar-benar kembali ke Indonesia. Jujur, dari awal Darel tidak menyukai tatapan mata tajam nenek kecilnya itu terhadap istrinya. Jika itu orang lain yang menatap istrinya seperti itu, sudah Darel pastikan bahwa itu adalah hari terakhir orang itu melihat indahnya dunia, entah nyawa atau mata yang hilang.


"Oh, jadi ini pelakor itu?! sampai dimana pendidikanmu? kuliah jurusan apa dan di universitas mana? apa pekerjaanmu? jangan-jangan kau hanya tinggal meminta uang dari Darel saja?! atau kau menikahi Darel hanya ingin uangnya saja?!" tanya Sandra menatap tajam ke arah Mentari.


Mentari tidak merasa tersinggung dengan pertanyaan Sandra, justru Darel dan nyonya Ardi lah yang merasa tersinggung mendengar pertanyaan yang dilontarkan untuk Mentari itu.


"Saya tidak berkuliah, nek! saya memiliki toko kue milik saya sendiri. Penghasilannya juga lumayan." jawab Mentari seramah mungkin.


"Tidak kuliah?! hahahahaaa!!! Rumi....Rumi...begini kah menantu yang kau carikan untuk putramu?! seleranya turun drastis rupanya?!! Pretty masih sangat jauh jika dibandingkan dengan wanita ini! kau bahkan tidak layak dijadikan pembantu dirumah kami, bagaimana bisa Darel mau menikahi wanita miskin sepertimu?! pasti kau telah berlalu curang kan untuk mendapatkan dirinya?!!" ucap Sandra dengan tajamnya setajam pedang.


"Cukup bii!!! apa maksud bibi dengan membandingkan Mentari dengan Pretty?! bibi memang benar, bahwa mereka sangat jauh! ibarat Mentari di bulan, Pretty di dasar tanah, sangat jauh perbedaannya. Ibarat Mentari malaikat dan Pretty adalah iblis yang sangat jahat dan licik!!"


Darel sudah tidak bisa mengontrol emosinya. Dia tidak akan terima jika istrinya direndahkan.


"Sayang, sudah! jangan emosi! ayo duduk!" ajak Mentari.

__ADS_1


Darel yang masih marah itupun mendadak hilang amarahnya saat Mentari menggenggam tangannya seolah menyalurkan energi positif kedalam dirinya. Benar perkataannya, Mentari adalah malaikat yang mampu mengalirkan energi positif pada siapapun yang berada didekatnya. Hanya mereka-mereka yang mempunyai hati yang baik lah yang bisa melihat ketulusan Mentari. Begitu beruntungnya Darel bisa memiliki Mentari.


__ADS_2