
Mentari, Darel, Iwang, Adi, Harri, dan Lukas berangkat ke bandara dua hari setelah Rangga menelepon meminta Darel ke Swiss untuk mengawasi proyek pembangunan cabang perusahaan yang baru. Walau dengan berat hati, Mentari tetap meneguhkan hatinya untuk selalu tersenyum seolah-olah dia ikhlas melepas suaminya jauh darinya, walaupun jauh dilubuk hatinya dia benar-benar tidak rela jika Darel meninggalkan dirinya apalagi dalam waktu yang lama.
"Jangan lupa tiap hari telfon ya, sayang!!!" rengek Darel.
Sedari tadi, Darel terus merengek agar Mentari selalu menghubunginya. Apapun aktivitas Mentari, Darel harus tau.
"Iya sayangg! kamu udah berkali-kali loh bilang kayak gitu." ucap Mentari tersenyum.
"Ishhh, kamu nih kok malah senyum sihh!!! ngejek yaa, kan aku nggak bisa jauh dari kamuuu!!!" kesal Darel.
"Aku nggak ngejek kok." ucap Mentari.
Darel pergi bersama dengan Harri. Sengaja Adi dan Lukas tidak diikutsertakan agar dia bisa menjaga istrinya selama dia pergi. Darel juga telah meminta bodyguard khusus untuk Mentari.
Sebelum pergi, Darel memeluk erat istrinya itu. Mengecupnya berkali-kali di pipi, kening, dan bibir. Tidak lupa juga dia memeluk Iwang.
"Sayang, ayah titip ibu yaa! selama ayah pergi, Iwang harus bisa jagain ibu dan calon dede bayi, okee?!" ucap Darel.
"Tenang aja, yah, Iwang pasti akan jaga ibu dan dede bayi!" jawab Iwang.
"Pintar anak ayahh!" ucap Darel mengusap pucuk rambut Iwang.
Darel juga mengecup perut Mentari yang semakin besar itu.
"Jangan nakal-nakal ya didalam perut ibu! jangan menyusahkan ibu, atau ayah akan jiwit kalian, hehehe!" canda Darel.
"Sayang!! kok gitu sihhh!" omel Mentari namun hanya dibalas kekehan kecil dari Darel.
Kalau sekali saja kamu bilang agar aku jangan pergi, maka aku tidak akan pergi!" ucap Darel menatap lekat wajah Mentari.
Mengembun. Matanya mulai mengembun.
"Jangan begitu. Aku akan baik-baik saja kok! kami akan menunggumu pulang." ucap Mentari menguatkan dirinya.
"Huftt, baiklah! aku pergi ya sayang!" ucap Darel mengecup kening Mentari begitu lama untuk terakhir kalinya.
Mereka menyesali setiap detik terakhir pertemuan mereka, sebelum akhirnya Darel akan berangkat ke Swiss. Darel berjalan lebih dulu dengan Harri yang membawakan barang-barang Darel juga barang-barangnya selama di Swiss. Darel melambaikan tangannya ke arah Mentari. Setelah Darel memasuki pesawat, air mata yang sedari tadi dia bendung akhirnya keluar juga.
Tidak apa Mentari! kamu pasti bisa! ini hanya dua bulan saja! tapi kenapa hatiku rasanya tidak rela Darel meninggalkanku?! batin Mentari menangis.
"Ibu!" panggil Iwang.
Mentari mengusap air matanya lalu menoleh ke arah putranya itu.
"Iya, nak?" tanya Mentari yang telah mensejajarkan tingginya dengan tinggi Iwang.
"Ibu jangan nangis! nanti kalau ayah tau ibu nangis, ayah pasti akan kecewa sama Iwang karena nggak bisa menjaga ibu. Terus kalau ibu nangis, nanti dede bayi juga ikutan nangis." ucap Iwang dengan polosnya.
"Enggak kok sayang! ibu nggak nangis!" ucap Mentari mencoba tersenyum.
"Disini ada Iwang, juga paman Lukas dan paman Adi! kita semua disini buat jaga ibu, ibu tenang saja yaa!" ucap Iwang lalu memeluk Mentari dengan sangat erat.
Mentari yang merasa terharu itu pun membalas memeluk putranya.
__ADS_1
"Nona, ayo kita pulang!" ajak Adi.
Begitu Mereka berbalik arah, pesawat yang di tumpangi oleh Darel telah take off.
********
Mentari duduk di sofanya dan dihadapannya kini telah berdiri seorang wanita yang terlihat sangat kaku dan sangar. Mentari tidak tahu kalau Darel meminta wanita itu untuk menjaganya selama dia di Swiss.
"Jadi, siapa namamu tadi?" tanya Mentari yang terlihat sangat pasrah dengan keputusan suaminya itu.
"Nakala, nona muda!" jawab wanita itu dengan tanpa ekspresi.
"Nakala yaa? berapa umurmu?" tanya Mentari.
"Dua puluh lima tahun, nona muda!" jawab Nakala lagi tapi tetap tanpa ekspresi.
"Baiklah, bisa kamu ceritakan sedikit mengenai kisah hidupmu?" tanya Mentari.
Nakala mengernyit heran, lalu paham maksud perkataan Mentari.
"Saya pandai bela diri, saya juga punya sabuk hitam dari salah satu perguruan silat. Saya juga bisa memanah, menembak, saya juga bisa bermain pedang!" ucap Nakala membuat Mentari tercengang.
Bukan itu yang Mentari maksudkan.
"Maksudku bukan itu, tapi keluargamu!" ucap Mentari meralat ucapannya tadi.
"Keluarga saya ada di Cina, nona! saya diminta oleh tuan muda langsung untuk menjaga anda." ucap Nakala.
"Baik nona!" ucap Adi.
Adi dan Lukas yang memang masih berdiri disana pun hendak bergerak saat Mentari meminta untuk Nakala diantar ke kamarnya.
"Maaf, nona! tapi tugas saya adalah untuk menjaga anda, bukan untuk bersantai-santai." jawab Nakala saat Mentari baru saja berdiri dari duduknya.
"Tidak apa! kamu pasti letih setelah perjalanan jauh. Istirahatlah dulu beberapa saat." ucap Mentari.
"Maaf nona, saya tidak bisa!" ucap Nakala tetap kekeh pada pendiriannya.
"Lalu bagaimana?" tanya Mentari.
"Saya akan ikut kemanapun anda pergi, walaupun ke kamar kecil sekalipun, karena itu tugas saya! silahkan anda ke kamar, nona, jika anda letih. Saya akan berjaga di luar." ucap Nakala.
Mentari tersenyum sesaat lalu berjalan menuju kamarnya diikuti Nakala dan juga Adi serta Lukas. Tidak lupa juga Mentari menengok kamar putranya untuk melihat sedang apa putranya itu. Begitu dilihatnya Iwang tengah serius belajar, Mentari pun menutup pintu kamar Iwang dengan hati-hati.
"Oh ya, kak Lukas, bisa tolong suruh mbok buatkan Iwang cemilan? sepertinya dia tengah banyak pekerjaan rumah." ucap Mentari.
"Tentu saja nona!" ucap Lukas.
"Makasih ya, kak!" ucap Mentari.
Seluruh pelayan dan penjaga disana merasa dihargai dengan sikap ramah Mentari. Mentari selalu menyelipkan kata tolong dan terimakasih di sela ucapannya. Hal itu membuat para pelayan dan penjaga disana merasa sangat tersanjung dengan kerendahan hati nona mudanya itu.
"Baiklah, ini kamarku! aku masuk dulu ya, kalau kamu letih, kamu bisa duduk atau berbaring di kamarmu disebelah sana!" tunjuk Mentari ke arah pintu untuk tamu.
__ADS_1
"Baik nona, selamat beristirahat!" ucap Nakala.
Begitu Mentari memasuki kamarnya, Nakala dan Adi terlihat saling menatap. Namun bedanya tatapan mata Adi seolah mengisyaratkan kerinduan, sedangkan Nakala hanya diam tidak bergeming.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Adi yang memberanikan diri memulai percakapan.
"Baik!" jawab Nakala acuh.
Nakala membuang pandangannya ke lain arah, atau jika tidak Adi akan tahu semuanya melalui sorot matanya. Pria di hadapannya itu terlalu peka atas apapun yang terjadi pada lawan bicaranya.
"Heh, kau tidak berubah rupanya!" ucap Adi terkekeh geli.
"Apanya yang lucu?" tanya Nakala saat Adi terkekeh geli.
"Kau! kau yang tiba-tiba menghilang dan ternyata kau berada di Cina, lalu sekarang kau tiba-tiba ada disini, dihadapan ku! apa kau tengah menyamar menjadi hantu, nona Miguela?!" tanya Adi.
Miguel. Nama kesayangan Adi pada wanita itu. Sangat jarang yang mengetahui nama itu selain orang-orang spesial dalam hidup Nakala. Semua orang tahunya dia adalah Nakala Guang Li, namun nama aslinya itu adalah Nakala Miguela Guang Li. Nakala sengaja tidak menggunakan nama Miguela, karena menurutnya nama itu tidak cocok dengan pembawaannya yang tegas. Nakala merasa nama itu terlalu kewanitaan untuk dirinya.
"Jangan panggil aku dengan nama itu!" ucap Nakala.
"Kenapa?! apa kau telah melupakan semuanya?" tanya Adi menatap tajam ke arah Nakala.
Dada Nakala berdetak sangat kencang ketika Adi mendorongnya ke dinding.
"Lepas, Adi!!!" ucap Nakala berusaha menjauh.
Namun Adi dengan sigap memblokir gerakan Nakala dengan tangannya yang berada di samping Nakala sehingga wanita itu tidak berani memberontak.
"Apa maumu?" tanya Nakala menatap tajam Adi.
"Jawaban!" jawab Adi membalas tatapan mata Nakala.
"Jawaban?!" tanya Nakala yang terlihat sudah mulai panik.
Matanya menatap ke kiri dan kekanan. Dia terlihat sangat gusar kala Adi mengucapkan kata itu. Entah mengapa Adi merasa semakin gemas dengan wanita itu hingga rasanya dia ingin memakannya saat ini juga.
"Hei! kalian sedang apa?!" tanya Lukas yang baru saja datang.
Cepat-cepat Adi dan Nakala merubah posisi mereka yang sebelumnya ambigu ke posisi yang sedikit berjarak. Lukas memicingkan matanya menatap dua orang beda gender itu.
"Apa kaliannn....saling kenal?" selidik Lukas.
*
*
*
*
*
Hai para reader, tidak kerasa sudah sampai pada akhir konflik nih!! kira-kira siapa ya Nakala/Miguela itu sebenarnya?! dan apa hubungannya dengan Adi yaa?! lalu apa yang akan dilakukan nenek Sandra selama Darel pergi?! ikuti terus cerita ini yaa😉 jangan lupa like, komen, share+tips agar author semakin semangat updatenya 🥰🥰🥰
__ADS_1