
Arya termenung menatap nanar lembaran-lembaran file dihadapannya.
"A...apa...ini paman?!" tanya Arya.
Arya jelas bisa membaca isi dari file-file itu, namun otak serta hatinya menolak kebenaran tersebut.
"Kelakuan papi mu!" ucap Darel datar.
"T...tidak mungkin!!!! Ini pasti salah!!! Nggak mungkin papi seperti ini?!!!" tolak Arya.
Terlihat jelas di raut wajahnya bahwa Arya sangat marah, kecewa, dan sakit hati melihat isi file-file itu.
"Aku juga awalnya tidak percaya, tapi itu adalah faktanya. Faktanya, semua yang dia perlihatkan pada kita adalah sandiwara. Faktanya, dia sama sekali tidak mencintai ibumu, yaitu kakak ku, kak Randita. Faktanya, dia telah berselingkuh dibelakang kita semua!" jelas Darel.
"A...aku....aku tidak percaya!!!! Aku akan buktikan sendiri semua ini!!!" ucap Arya meninggalkan ruangan Darel.
Darel menatap nanar ke arah ponakannya ini. Dia sendiri juga terkejut dan tidak percaya, marah dan juga kecewa pada Rangga yang selama ini dikiranya menyayangi kakaknya karena begitu yang di perlihatkan pada orang-orang namun rupanya itu semua hanya untuk menutupi kebusukannya.
Setelah keluar dari ruangan Darel, Hyuna yang saat itu hendak mengambil air minum melihat ekspresi kesal dari wajah Arya.
"Abang!!!" panggil Hyuna menghentikan langkah Arya.
"Abang baik-baik saja? Ada apa, bang?" tanya Hyuna.
Hyuna meletakkan wadah airnya lalu menyentuh pelan lengan Arya yang berdiri memunggunginya.
"Bang..." panggil Hyuna lembut.
Srekk....
Hyuna terkejut karena Arya tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.
"Abang..." panggil Hyuna lagi namun tidak ada jawaban dari Arya.
Samar-samar Hyuna mendengar suara isakan yang diyakininya berasal dari Arya.
"Abang nangis? Ada apa bang? Nggak biasanya abang begini?" tanya Hyuna merasa khawatir dan bingung.
Sekilas, Hyuna melihat Darel yang berdiri didepan ruang kerjanya menatap ke arah mereka dengan tatapan sendu. Entahlah, namun Hyuna merasa ini ada hubungannya dengan papinya itu.
"Maaf! Abang hanya sedang capek aja!" ucap Arya melepaskan pelukannya.
"Abang kalau ada apa-apa cerita aja sama Hyuna, Hyuna bisa jadi pendengar yang baik kok dan Hyuna bakal bantu sebisa Hyuna menyelesaikan masalah abang." ucap Hyuna.
"Adik abang sudah besar yaaa!" ucap Arya tersenyum sembari mengelus rambut Hyuna.
"Abang pulang dulu ya!" ucap Arya.
Hyuna hanya terdiam ditempatnya. Meskipun Arya mencoba tersenyum, namun senyum itu terasa berbeda. Seperti ada yang tengah dia sembunyikan.
Didalam mobil Arya.
__ADS_1
"Hallo, aku butuh informasi sedetail mungkin dari dua orang, aku kirim nama dan foto mereka!" ucap Arya lalu mematikan panggilan.
Setelah mengirim dua foto ke nomor yang baru saja dia telpon, Arya pun melakukan mobilnya menuju apartemen Kaj. Sesampainya di apartemen Kaj, Kaj begitu terkejut melihat wajah berantakan sahabatnya itu.
"Kusut amat tuh muka?" tanya Kaj setelah mempersilahkan Arya masuk.
Arya terduduk lesu ke sofa mewah milik Kaj.
"Nih, minum dulu!" ucap Kaj sembari menyodorkan teh hijau hangat ke arah Arya.
"Thanks!" ucap Arya lalu meneguk teh hijau hangat itu hingga separuh gelas.
"Cerita deh sama gue, lo kenapa?" tanya Kaj.
Arya menghela nafas berat lalu perlahan mulai menceritakan semuanya yang terjadi di dalam ruangan Darel tadi. Kaj mendengarkan cerita Arya dengan sungguh-sungguh, dia juga merasa tidak percaya dan terkejut dengan cerita Arya barusan.
"Lo serius?" tanya Kaj tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya.
"Gue juga bingung! Gue mau percaya tapi rasanya nggak mungkin papi kayak gitu. Tapi bukti-bukti yang diperlihatkan paman Darel tadi juga nggak mungkin salah. Lo tau sendiri kan gimana orang-orangnya paman Darel?!" ucap Arya sendu.
"Terus langkah lo gimana sekarang?" tanya Kaj.
"Gue udah suruh orang buat cari informasi tentang itu semua. Gue masih berharap kalau semua ini cuma mimpi buruk gue!" kelakar Arya dengan tersenyum menyedihkan.
********
Pagi harinya, Hyuna mendatangi kelas Kairo berniat meminta maaf pada pemuda itu.
Kairo tersenyum ke arah Hyuna meski ujung bibirnya masih terasa nyeri akibat pukulan kemarin.
"Hyuna, kamu datang kesini?" tanya Kairo.
"Sorry!" ucap Hyuna.
"Buat?" tanya Kairo.
"Semuanya! Sorry karena kakak sama abang aku udah buat kamu luka-luka begitu!" ucap Hyuna.
"Hahaha, it's okey! Tapi kamu harus tanggung jawab yaa!" ucap Kairo sambil terkekeh gemas melihat ekspresi Hyuna.
"Iya-iya, aku bakal tanggung jawab kok! Aku bakal rawat kamu sampai sembuh, aku janji!" ucap Hyuna.
"Hmm, ide menarik! Tapi bukan itu tanggung jawab yang gue mau." ucap Kairo.
"Terus?!"
"Besok! Selama seharian full aku bakal ikutin semua kegiatan kamu, seharian!!" ucap Kairo menekankan kata terakhirnya.
"Tapi...kakak ku..." ucap Hyuna ragu.
"Ini cuma masalah kecil kok! udah biasa juga aku berantem. Tapi kalau berantem gara-gara ngajak cewek cantik jalan sih ya baru kali ini, hehe!" kelakar Kairo.
__ADS_1
"Ada-ada aja!" ucap Hyuna ketawa mendengar kata-kata Kairo.
"Kenapa ketawa? kamu emang cantik kok!" ucap Kairo.
"Kalau aku cantik pasti kak Alvaro udah terima cinta aku dari dulu kan?! Nyatanya dia udah berpuluh-puluh kali nolak aku." ucap Hyuna.
"Kamu....masih ngarepin...dia?" tanya Kairo ragu.
"Nggak! Itu dulu! Sekarang aku udah nggak mau lihat dia lagi." ucap Hyuna mantap.
"Bagus!!" gumam Kairo lirih namun masih bisa didengar Hyuna malau samar.
"Apa?!" tanya Hyuna.
"Bagus kalau kamu nggak mau lihat dia lagi. Lagian dia juga nggak pantes dapetin bidadari kayak kamu." ucap Kairo.
Entah mengapa tatapan Kairo pada Hyuna menjadi sangat sulit diartikan oleh Hyuna. Hyuna pun pamit kembali ke kelasnya karena canggung akibat tatapan Kairo padanya membuat Hyuna begitu gugup.
"Ceilahhh!!! Mangsa baru broo?!!" ucap salah seorang teman Kairo, Adam.
"Kayaknya gue beneran jatuh cinta deh sama dia!" ucap Kairo masih setia menatap ke arah pintu kelasnya walau bayangan Hyuna telah menghilang dari pandangannya.
"Lo serius?! Buaya darat berkedok kucing comel kayak lo bisa insaf juga rupanya hahahaa!!" sindir Adam.
Kairo mendengus kasar mendengar sindiran sahabat yang telah menemaninya dari kecil sampai sekarang ini. Ini adalah sisi lain seorang Kairo. Dia yang terlihat dingin dan acuh pada perempuan ternyata seorang buaya yang memiliki banyak mantan kekasih.
"Siala* lo! Temennya mau tobat malah digituin! dukung gue kek!!!" dengus Kairo kesal.
"Oke-oke!! Good job sama yang ini yaaa!" ucap Adam namun masih terkekeh.
********
Di kantor, Darel berkutat dengan laporan data keuangan perusahaan selama satu bulan. Darel dengan cermat mengamati laporan itu.
Tok...tok...tok....
"Masuk!!" ucap Darel tanpa mengalihkan pandangannya dari laporan ditangannya.
"Tuan!"
Darel mendongak, menatap bingung dua orang bawahannya yang berdiri dihadapannya. Mereka berdua tampak begitu gusar, lebih tepatnya takut. Entah apa yang akan mereka katakan hingga mereka setakut ini padanya, pikir Darel.
"Ada apa Adi?" tanya Darel menatap intens anak buah kepercayaannya itu.
"Tuan....saya..." perkataan Adi tercekat di tenggorokan.
Nakala, gadis itu melihat kegugupan dari sang kekasih mencoba menguatkan dengan menggenggam tangan Adi erat mencoba menyalurkan energi positif pada sang kekasih.
"Katakan Adi, apa yang membawamu kemari." ucap Darel.
"Tuan...saya meminta ijin untuk....." terhenti.
__ADS_1
"Menikah!" ucap Adi setelah menjeda kalimatnya beberapa saat.