
Tuan Ardi dan Joni membawa Frans masuk kedalam rumah.
"Ma, coba lihat siapa yang datang berkunjung!" ucap tuan Ardi pada nyonya Ardi yang sedang duduk sambil menikmati secangkir teh dan biskuit.
Nyonya Ardi mendongakkan kepalanya, melihat pria muda yang datang bersama suami dan pengawalnya.
"Siapa dia?" tanya nyonya Ardi bangkit dari sofa.
Apa semua orang sudah melupakanku!! batin Frans.
"Dia Frisu, nyonya!" ucap Joni sambil tersenyum sumringah.
"Frisuu?" mengingat-ingat nama itu.
"Frisu...Frisuuu...!" mencoba mengingatnya lebih keras.
"Frisu anak dari sahabatmu Malha itu loh,ma!" ucap tuan Ardi membantu ingatan istrinya.
"Oh ya, Malha! kau Frisu kecil kita dulu? wahhh sudah besar ya kau sekarang!" ucap nyonya Ardi mengingat nama sahabatnya yang tidak lain adalah adik dari Joni.
"Hahaha, iya tante aku sudah sangat besar sekarang!" ucap Frans sambil menunjukkan otot lengannya.
Tuan Ardi, nyonya Ardi dan Joni tertawa melihat tingkah Frans.
"Kau duduklah dulu, biar aku ambilkan cemilan untukmu, ya!" ucap nyonya Ardi.
"Haa boleh juga Tante, kebetulan aku juga lapar ,hehehe!" ucap Frisu tidak sungkan.
"Baiklah,.kalian duduk dulu!" ucap nyonya Ardi kemudian menuju dapur.
"Katakan Frisu, apa yang membawamu kemari? bagaimana kabar orang tua mu dinegara K?" tanya tuan Ardi sambil duduk disofa.
"Mereka sangat baik paman. Aku disuruh datang untuk memenuhi panggilan kalian. Orang tuaku bilang mereka tidak akan bisa datang saat pertunangan Darel tapi mereka mengusahakan datang saat pernikahannya." jelas Frans.
"Mereka itu selalu saja begitu! apa sangat sibuk sampai datang sebentar saja tidak bisa? lagi pula jarak antara pertunangan dengan pernikahan kan 1 bulan!" ucap tuan Ardi sedikit kesal.
"Sudah lah pa, kau sendiri kan juga punya kesibukan jadi maklumi saja hal itu! masih untung kan mereka mengirim Frans datang untuk menggantikan mereka." ucap nyonya Ardi yang datang dari arah dapur bersama seorang pelayan yang membawa beberapa makanan kering dan minuman.
"Hais, ya sudah lah!" ucap tuan Ardi mengalah, tidak ingin membantah omongan istri tersayangnya.
Romantis sekali mereka! batin Frans seakan meleleh dengan perlakuan yang diberikan sepasang pasutri itu.
"Oh ya, om, tante apa Darel dan wanita itu udah saling kenal? karena kita semua kan tahu sifat Darel bagaimana." tanya Frans sambil meminum kopinya.
"Darel sudah mengenal wanita itu kok. Kami semua bahkan juga heran darimana mereka bisa ketemu, bahkan Mentari juga mengenal Adi dan Harri loh!" ucap nyonya Ardi.
Calon istri Darel juga mengenal Adi dan Harri? siapa sebenarnya wanita itu? batin Frans penasaran.
"Apa semua persiapan pertunangan mereka sudah siap? maksudku apa yang perlu aku bantu?" tanya Frans.
"Tidak perlu, semuanya sudah siap, bahkan acara pernikahan juga sudah siap. Tinggal menunggu waktu saja!" ucap tuan Ardi datar.
__ADS_1
"Bukankah acara pertunangannya kurang 10 hari lagi? apa Darel dan calon istrinya tahu hal ini?" tanya Frans lagi.
"Tidak!" ucap Joni dan tuan Ardi bersamaan.
Apa? bagaimana bisa?
"Kenapa?" tanya Frans semakin penasaran.
"Kau ini cerewet sekali! sudah diam dan nikmati saja tontonannya!" ucap tuan Ardi yang mulai jengkel dengan pertanyaan Frans yang tidak ada habisnya.
"Pa, jangan galak-galak gitu dong!" ucap nyonya Ardi pada suaminya.
"Begini lo, Fris. Kami akan bilang pada mereka saat waktunya sudah mepet kemungkinan 5 atau 4 hari sebelum pertunangan, biar Mentari sendiri juga tidak tertekan dengan acara ini kalau kita bicarakan sekarang!" jelas nyonya Ardi.
Frans tidak bertanya lagi. Dia memilih diam dan menikmati minumannya.
********
Darel sampai dihalaman rumah Mentari. Mentari langsung turun dan hendak memasuki rumahnya tanpa mengatakan apapun pada Darel.
"Apa kau tidak mau mengatakan sesuatu?" teriak Darel yang ikut keluar dari mobilnya.
Mentari berbalik dan menatap Darel.
"Maaf?" tanya Mentari tidak mengerti.
"Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" ucap Darel mengulang perkataannya.
"Terimakasih telah menolongku semalam!" ucap Mentari yang mengingat kejadian semalam.
Cara Darel menyelamatkan kehormatannya, memberinya rasa aman, Mentari dapat melihat sisi lain dari Darel yang dia kenal dengan pria dingin dan sombong.
"Hah, kau baru ingat rupanya!" ucap Darel bernada mengejek.
"Kau masih sangat menjengkelkan rupanya! sudah aku bilang hilangkan dulu sifat dinginku itu baru kau bisa menikmati dunia ini!" ucap Mentari yang melihat wajah tanpa ekspresi milik Darel.
"Kau harus lebih banyak berlatih tersenyum lagi, biar orang tidak takut melihat wajahmu yang sudah seperti mayat hidup itu!" ucap Mentari.
Darel tersenyum mendengar ejekan Mentari. Entah mengapa ada sesuatu yang lucu saat Mentari mengucapkan kalimat itu.
Dia itu sangat polos! gaya bicaranya itu, sangat menggemaskan! batin Darel.
"Hei, jangan tersenyum begitu jika tidak orang akan menganggapmu seorang psikopat!" ucap Mentari yang melihat senyuman Darel.
Darel, meskipun sedang tersenyum namun senyumannya itu sama menakutkannya dengan tatapannya. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan wajah datar dan senyuman membunuh untuk menakuti musuh-musuhnya, makanya senyum itu terlihat menakutkan.
"Kau bilang aku harus berlatih tersenyum, lalu bagaimana caranya aku berlatih kalau kau juga tidak mengijinkan ku tersenyum?!" ucap Darel datar.
"Haah, benar juga ya!" ucap Mentari mengingat perkataannya barusan.
"Begini saja, ubah cara tersenyum mu itu kalau tidak semua orang akan menjauhimu karena senyummu itu!" ucap Mentari.
__ADS_1
Perkataan Mentari menjadi dejavu bagi Darel.
Apa dia juga meninggalkan ku karena senyumanku ini? batin Darel.
"Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu, bye-bye!" ucap Mentari berjalan memasuki rumahnya.
Darel masih setia menunggu didepan rumah Mentari sampai wanita itu benar-benar masuk kedalam rumah. Dia pun melajukan mobil menuju bar milik Arul.
********
Pagi itu Arul, Tomi, dan Zanu bangun tidur ketika matahari sudah tinggi. Mereka merasa pusing akibat terlalu banyak minum alkohol semalam. Bagas dan Rohan sudah pulang semalam dan membiarkan ketiga sahabatnya itu berada disana.
"Kalian sudah bangun?" ucap Jack yang baru datang sambil membawa air lemon pesanan Bagas.
"Ini minumlah dulu, jika tidak tuan dokter akan menghukum ku nanti!" ucap Jack lagi sambil menuangkan air lemon itu kedalam gelas dan memberikannya pada mereka bertiga masing-masing.
Arul, Tomi, dan Zanu meminum air yang dibawa Jack dan rasa pusing di kepala mereka perlahan berkurang.
"Arulll!!!" teriak Darel dari luar bar.
Zanu tahu persis suara siapa yang berteriak itu. Dia mulai kebingungan karena takut Darel membenci keberadaannya disini.
Dwi?! bagaimana ini? batin Zanu.
"Ar...." ucap Darel terhenti.
Darel sudah memasuki bar dan melihat seseorang yang dia tahu persis siapa itu.
Kenapa harus ada dia juga disini?!! siall, harusnya aku tahu hal ini!! batin Darel kesal.
"Aku pergi dulu!" ucap Zanu tiba-tiba.
Darel hanya diam ditempatnya, Zanu yang ingin pergi melewati tubuh Darel dengan begitu saja.
Hentikan dia, Darel! perbaiki hubunganmu dengannya sekarang! batin Arul dan Tomi.
"Tunggu, Zen!" ucap Darel tanpa berbalik menghadap Zanu.
Zanu hampir sampai dipintu keluar ketika Darel menghentikan langkahnya.
"A...ada apa?" tanya Zanu menatap punggung Darel.
Tahan aku Dwi, aku mohon!
"Tetaplah disini!" ucap Darel yang kemudian langsung duduk dikursi favoritnya.
Zanu masih diam, menelaah perkataan Darel tadi.
"Apa kau tidak dengar? tetaplah disini!" ucap Darel mengulangi perkataannya.
Kau masih sama seperti dulu, Dwi. Dari luar kau terlihat acuh dan tidak peduli, tapi didalam dirimu kau sangat perhatian! terimakasih, Dwi!
__ADS_1