Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 115


__ADS_3

Zanu langsung memeluk tubuh Daniar, begitu juga dengan Daniar. Mereka menumpahkan semuanya disana, kerinduan, kekesalan, kekhawatiran, dan cinta. Rohan mendekati Bagas setelah menaruh pistol ke sarungnya, menepuk pelan pundak Bagas seolah berkata mereka akan bahagia jika bersama dan menguatkan Bagas.


"Maafkan aku!!" ucap Zanu dengan masih memeluk Daniar.


Daniar memeluk erat tubuh Zanu sedangkan Rohan mulai mendekati Bagas yang terlihat sedang menguatkan dirinya.


Air mata Daniar terus menetes dipipinya, alasan dari air mata itu adalah Zanu. Luka yang Zanu torehkan dihatinya, Zanu pula lah yang menyembuhkan luka itu. Daniar yakin benar jika perasaannya pada Zanu tidak bertepuk sebelah tangan.


"Apa ada yang luka? apa kau baik-baik saja? aku sangat takut kehilanganmu saat aku tidak menemukanmu tadi!" ucap Zanu sambil memutar tubuh Daniar ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada luka dibadannya.


"Aku baik-baik saja! hanya saja hatiku masih sedikit sakit." ucap Daniar bertingkah seolah-olah sedang patah hati.


"Maafkan aku, aku minta maaf. Aku sangat mencintaimu! dan akan selalu begitu!" ucap Zanu kembali membawa Daniar kedalam pelukannya.


Rohan dan Bagas mengalihkan pandangannya kesisi lain. Maklumlah mereka jomblo nggak bisa melihat yang romantis-romantis dikit.


"Woii, kalau mau mesra-mesraan jangan didepan para jomblo dong! bikin iri nihhh!" canda Bagas.


Daniar langsung memberontak ingin melepaskan diri dari pelukan Zanu, namun Zanu semakin mempererat rangkulannya.


"Yeee, salah sendiri jomblo, makanya buruan cari pasangan!!" goda Zanu.


"Hemm, mentang-mentang udah baikan nih ya!!" goda Rohan.


Mereka pun bercanda bersama dan tertawa, namun Daniar justru merasa malu dengan candaan mereka.


********


Ditempat lain. Seorang nenek-nenek memasuki sebuah rumah yang sederhana. Sambil membawa sebuah mangkuk berisi ramuan ditangannya, nenek itu berjalan mendekati seorang wanita yang tengah berbaring ditempat tidur.


"Neng, minum ini dulu biar lekas pulih!" ucap si nenek.


Wanita itu dengan segera meminum obat tradisional buatan si nenek meskipun terasa sangat pahit dilidahnya.


"Dimana suami saya nek Imah?" tanya wanita itu.


"Suami neng cantik lagi diluar sama pak kades! neng cantik istirahat saja dulu lukanya masih belum kering soalnya!" ucap si nenek sambil membereskan mangkok bekas ramuan tadi.


"Saya mau kedepan dulu sebentar ya nek?" tanya wanita itu.

__ADS_1


"Emm, Biar dibantu Tuti saja neng, kasian belum sembuh benar!" ucap si nenek kemudian memanggil seorang gadis bernama Tuti.


Tuti pun membantu Wanita itu berdiri dan berjalan perlahan menuju ruang depan. Di ruang tamu, melihat istrinya berjalan dibantu dengan Tuti membuat sang suami langsung menghampirinya.


"Ngapain keluar? bukannya lukanya masih belum kering?" omel sang suami.


"Aku bosen dikamar terus, mendingan aku disini bercengkrama, mungkin aja malah bisa buat aku cepat sembuh kan?" bujuk wanita itu.


"Tari!" kesal pria itu.


Ya, wanita itu adalah Mentari. Dia dan Darel selamat dari kecelakaan pesawat beberapa hari yang lalu dan Mentari mengalami koma selama beberapa hari. Berbeda dengan Darel yang hanya mengalami luka kecil di bagian lengan kanannya, luka Mentari berada di bagian kepala sehingga membuatnya hampir kehabisan darah. Untungnya salah satu warga setempat menemukan mereka dan segera mendapatkan pertolongan meski dengan perawatan tradisional.


"Duduklah dengan nyaman disini!" ucap Darel sambil menuntun Mentari duduk dikursi.


Saat bangun dari koma, sikap Darel ke Mentari menjadi berubah. Darel yang biasanya kasar, suka ngomong seenaknya, dan dingin pada Mentari sekarang menjadi Darel yang lembut, penuh perhatian, dan terkesan seperti seorang suami sungguhan.


"Melihat kalian berdua ini, saya jadi ingat almarhum istri saya!" ucap pak kades.


"Kalau saja dia masih hidup, mungkin sifatnya seperti mbak Tari ini, persis sekali!" ucap pak kades sambil menerawang jauh masalalunya bersama mendiang sang istri.


"Sabar ya pak, semoga istri bapak mendapat tempat yang paling mulia disisi-Nya!" ucap Mentari lembut.


Baru saja hendak melangkah Darel langsung menghentikan langkah pak kades.


"Saya boleh ikut pak? itung-itung melihat-lihat desa." ucap Darel.


Mentari tidak percaya dengan pendengarannya barusan. Seorang Darel menawarkan diri untuk berkeliling desa? benarkah itu Darel suami Mentari? pikir Mentari saat itu.


"Oh, boleh-boleh! mari!" ucap pak kades senang.


Darel dan pak kades pun berangkat menuju balai desa yang letaknya tidak jauh dari rumah pak kades. Sesampainya di balai desa, para pria dewasa didesa itu sudah berkumpul.


"Selamat pagi pak kades!" sambut mereka hangat.


"Pagi, pagi! maaf saya terlambat!" ucap pak kades.


Darel juga duduk dilantai yang beralaskan tikar bersama pria desa yang lain. Perkumpulan kali ini bertujuan untuk membahas kasus penculikan anak kecil dan gadis desa yang beberapa waktu lalu sempat meresahkan warga. Darel yang sepenuhnya mengerti namun hanya mendengarkan saja.


Apa ini ada sangkut-pautnya dengan mafia itu? batin Darel.

__ADS_1


Samar-samar pak kades melirik ke arah Darel yang terlihat tengah berpikir keras.


"Nak Darel? kenapa diam saja?" tanya pak kades.


Semua mata langsung tertuju kearah Darel. Merasa jadi pusat perhatian Darel pun tersadar dari lamunannya.


"Eh, tidak pak, silahkan dilanjutkan!" ucap Darel.


"Begini saja pak, kita buat ronda saja setiap malam! mencegah hal-hal seperti ini terjadi lagi. Terakhir anaknya pak Norman juga hilang waktu main sampai maghrib tidak pulang-pulang sekalinya pulang tinggal tubuhnya saja itupun organ dalamnya hilang!" ucap seorang warga.


"Organ dalamnya hilang?" tanya Darel.


"Iya mas, kami sudah mencari bahkan sampai desa-desa sebelah tapi tidak ketemu juga, selang 3-4 hari jasadnya ditemukan tapi keadaannya mengenaskan. Karena nggak kuat akhirnya keluarga pak Norman pindah dari desa ini!" jelas warga yang lain.


Tidak salah lagi, pasti ini ulah mafia brengsek itu! batin Darel.


Tangan Darel terkepal, menahan emosi. Sebrengsek-brengseknya Darel, dia tidak pernah menganiaya anak kecil. Memang dia suka wanita ******, tapi dia tidak pernah menghilangkan nyawa orang yang menurutnya tidak bersalah.


"Pak kades, maaf sebelumnya apa saya boleh memberi saran?" tanya Darel.


"Tentu saja nak Darel, silahkan!" ucap pak kades.


"Penculik ini biasanya beraksi ketika menjelang malam. Anak-anak yang belum pulang atau menuju kerumah diwaktu itu akan sangat dengan mudah diculik, jadi sebelum malam anak-anak kalian harus sudah ada dirumah. Setiap malam lakukan ronda secara bergiliran. Dan selalu waspada terlebih jika ada orang asing yang terlihat mencurigakan mendekati anak kalian." jelas Darel.


Para warga menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan perkataan Darel. Mereka pun membentuk kelompok untuk ronda malam dan akan dimulai malam nanti. Setelah selesai mereka pun kembali kerumah masing-masing dan menceritakan hasil dari kumpulan tadi kepada istri mereka. Darel dan pak kades yang juga baru sampai dirumah langsung menuju meja makan untuk makan siang.


"Bagaimana perkumpulannya tadi pak? sudah dapat solusinya?" tanya Tuti.


Tuti adalah anak pak kades, dia baru saja berusia 16 tahun. Namun tubuhnya yang bongsor membuatnya terlihat seperti wanita berusia dua puluhan tahun.


"Alhamdulillah sudah! tadi nak Darel yang memberi saran dan semuanya juga setuju, jadi mulai malam ini kita akan bergantian ronda malam." jelas pak kades.


"Pak kades, setelah ini saya dan Mentari akan kembali ke kota. masalah ini akan saya tangani secepatnya setelah saya kembali dari kota nantinya. Sebelum itu ada hal penting yang harus saya kerjakan lebih dahulu." ucap Darel dengan wajah seriusnya.


"Loh, kenapa buru-buru sekali? nona Tari kan baru saja sembuh, lagian kondisi kalian masih tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh." ucap pak kades.


"Lebih cepat saya kembali kekota akan lebih baik pak, bapak percaya saja pada saya! saya akan kembali!" ucap Darel serius.


"Pak?!" ucap Tuti memberi isyarat.

__ADS_1


"Hemm, baiklah kalau itu sudah menjadi keputusan nak Darel. Nanti biar Tuti yang bantu mbak Tari bersiap." ucap pak kades pasrah.


__ADS_2