Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 321


__ADS_3

BRAKKKK.....


"LAKUKAN SAJA OPERASINYA! DAN USAHAKAN KALAU MEREKA BEREMPAT SELAMAT ATAU JIKA TIDAK RUMAH SAKIT INI AKAN HANCUR OLEH KEMARAHAN TUAN DAREL!!!!" teriak Adi.


"B...baik tuan!" jawab dokter itu ketakutan.


Dia masuk kembali kedalam ruang pemeriksaan lalu tidak lama kemudian keluar dengan beberapa perawat yang mendorong brankar berisi Mentari. Beberapa alat terpasang ditubuh Mentari, membuat mereka terutama Daniar dan mamanya sangat bersedih.


Kaki Daniar bahkan tidak bisa menopang tubuhnya saking sedihnya. Untung saja Zanu dengan sigap memegang tubuh istrinya itu sehingga tidak sampai terjatuh dilantai. Daniar menangis didalam dekapan suaminya. Perasaannya sangat hancur. Kehamilan ini sangat dinantikan oleh Mentari, dan sekarang malah jadi seperti ini keadaannya.


Didalam ruangan operasi. Dokter kandungan yang biasa dikunjungi Mentari juga dokter bedah lainnya dan para perawat mulai melakukan operasi. Mereka telah siap dengan baju hijau khas. Peralatan untuk melakukan operasi ini juga telah lengkap dan telah disterilkan. Saat perawat hendak menyuntikkan obat bius ke tubuh Mentari, tiba-tiba saja dengan lemah Mentari memegang tangan dokter kandungan yang memang posisinya berada di dekatnya.


"To...t...tolong....se...sela..matkan....anak...ku, dokter!" ucap Mentari lirih.


Sakit yang teramat membuat Mentari tidak bisa berkata dengan lancar. Dokter dan perawat yang mendengar ucapan Mentari itupun saling menatap bingung. Kemungkinan untuk mereka berempat bisa diselamatkan hanyalah sepuluh persen saja. Hanya keajaiban dari sang Pencipta yang bisa merubah kemungkinan itu menjadi kenyataan. Mentari pun tidak sadarkan diri setelah mengucapkan hal itu. Perawat langsung menyuntikkan obat bius itu kedalam tubuh Mentari. Operasi pun berjalan dengan penuh ketegangan didalamnya. Mereka sungguh berhati-hati dalam melakukan operasi ini atau jika tidak ini akan menjadi operasi terakhir mereka disini.


********


Darel terlihat sangat pias setelah mendapatkan kabar Mentari dari Rohan tadi. Darel segera menyewa jet pribadi agar mereka bisa segera kembali ke Indonesia. Awalnya Darel akan menunggu helikopter yang sedang dalam perjalanan ke Swiss, namun karena kabar itu, Darel pun menyewa satu jet pribadi dan menyuruh helikopter itu untuk terbang balik ke Indonesia. Padahal saat itu helikopter sudah setengah perjalanan pun akhirnya putar balik.


Sepanjang penerbangan, Darel terus saja uring-uringan. Dia ingin segera sampai ke rumah sakit, menemani istrinya. Sungguh, Darel menyesal karena telah meninggalkan Mentari.


Baru saja tiba di bandara, Darel bergegas memasuki mobil sportnya bersama Harri. Mereka secepatnya pergi ke rumah sakit, namun sayangnya ditengah perjalanan mereka terjebak macet. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Darel pun memilih berlari sampai ke rumah sakit diikuti oleh Harri. Tidak dia perdulikan tatapan orang-orang yang menatapnya aneh. Darel tidak perduli. Dipikirannya saat ini hanya satu. Mentari!


********


Darel baru saja tiba di rumah sakit. Dia langsung menerobos berlari menuju ruang operasi dimana seperti yang dikabarkan oleh Adi sebelumnya.


"TARIIIIII!!!!!" teriak Darel memenuhi koridor ruang operasi.


Semua mata menatap ke arah Darel yang terlihat berkeringat karena telah berlari dalam jarak yang cukup jauh.


"DIMANA TARIKUU!!! BAGAIMANA KEADAANNYAAA?!!!" tanya Darel kepada semua orang disana.


"Dia masih ada didalam tengah dioperasi. Keadaannya sangat kritis dan kandungannya juga sangat lemah karena air ketubannya telah lama mengering." jelas Arul.


Bagai disambar petir, Darel sampai berjalan mundur, tatapannya kosong seperti orang linglung. Ditatapnya sebelah kiri yang terdapat mama Daniar juga Daniar yang menangis sesenggukan.


"Jangan!!! jangan menangis!! Tari tidak akan suka kalau kalian menangis!!! Tari akan baik-baik saja, aku yakin itu! dia wanita yang kuat!! sangat kuat!!" ucap Darel bersujud dihadapan mama Daniar sambil memegang tangannya. Wanita yang sudah dianggap Mentari sebagai mamanya itu menatap Darel dengan air mata yang masih menetes dari mata teduhnya.


"A....aku...aku mau masukk!!! aku harus menemani istriku!!! dia pasti kesakitan didalam!!" ucap Darel berdiri.


Darel hendak melangkah memasuki ruang operasi yang masih berjalan, namun langsung dihentikan oleh Tomi juga Zanu.


"LEPASS!!! AKU HARUS MASUK KEDALAMM!!! ISTRIKU MEMBUTUHKANKUU!!! LEPAS BEDEBA*!!!! LEPASKAN AKUUU!!!" teriak Darel.

__ADS_1


"Sabar, Dwi! biarkan dokter menangani Mentari agar operasi ini berjalan dengan baik, agar Mentari dan calon anakmu selamat. Salah sedikit saja, kau bisa kehilangan mereka!" ucap Zanu.


"Apa, seburuk itu kondisinya?" tanya Darel menatap Zanu pilu.


Zanu hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia tidak tega melihat Darel seperti ini. Jiwa seorang suami dan seorang ayah nya ikut tercabik. Tidak bisa Zanu bayangkan kalau yang ada didalam ruang operasi itu adalah istrinya. Waktu melahirkan putranya dulu saja, Daniar begitu kesakitan apalagi kini diposisi Mentari yang kondisinya jauh lebih parah dari Daniar saat itu.


"Darel biarkan mereka fokus untuk menyelamatkan istri dan anak-anakmu! lebih baik temui putra mu!" ucap Rohan.


"Iwang?! dimana dia?!" tanya Darel yang ingat tidak ada Iwang disini.


"Dia tengah diajak ke kantin oleh Lukas. Anak malang itu menangis terus sejak tadi sampai wajahnya pucat." ucap Rohan.


Darel langsung menuju ke kantin. Begitu sampai disana dilihatnya putranya itu tengah disuapi oleh Lukas. Namun fokus Darel adalah Iwang yang mengunyah makanannya sambil air mata yang terus menetes dari matanya.


"Nak!" panggil Darel.


"AYAHH!!!" teriak Iwang saat menoleh ke arah Darel.


Iwang berlari ke arah Darel begitu pula Darel yang berlari ke arah Iwang. Ayah dan putra itu saling berpelukan dengan sangat erat.


"Ayah, ibu, yah!!! ibuu!!!" ucap Iwang teriak.


Darel melepaskan pelukannya. Baru saja dia sadari bahwa di kepala putranya terdapat perban. Tadi, Adi dan Nakala juga ada perban, dan sekarang Iwang juga.


"Sayang, ini kenapa?" tanya Darel yang memang Darel tidak tahu semua kejadiannya.


"Karena nenek yang bermulut pedas itu, yah! dia mendorong Iwang saat Iwang mau menolong ibu. Nenek itu jahat, yah! dia narik ibu ke tangga, Iwang mau menolong ibu tapi malah didorong sampai jatuh ke tangga. Ibu juga didorong sampai jatuh dari lantai dua, yah!" cerita Iwang.


Darel tercengang dengan cerita putranya itu. Dilihatnya Lukas yang menundukkan kepala seolah membenarkan perkataan Iwang. Darel mendekati Lukas yang tidak berani menatap matanya.


"JAWAB LUKAS!! APA BENAR YANG DIKATAKAN IWANG KALAU SANDRA PENYEBAB SEMUA INI?!" tanya Darel sambil berteriak.


Untung saja saat ini kantin rumah sakit tengah sepi, jadi tidak akan ada yang terganggu dengan teriakan Darel.


"B... benar, tuan! dia dan Pretty datang kerumah sambil marah-marah karena anda telah mengambil semua aset miliknya. Bahkan kami terluka karena ingin menolong nona. Mbok Tini juga terluka karena nyo..." terpotong.


Hampir saja Lukas mengatakan kalau mbok Tini terluka karena Rumi.


"Nyo?! apa?! ngomong yang jelas!!!" bentak Darel.


"Karena ingin menolong nona juga, tuan! dia masih dirawat karena luka dikepalanya cukup serius." ucap Lukas.


Benturan yang diakibatkan oleh Rumi tadi begitu kuat hingga membuat ada penggumpalan darah didalam kepala mbok Tini. Untung saja mbok Tini segera ditangani atau jika tidak dia bisa meninggal dunia.


"Dimana wanita-wanita itu?" tanya Darel murka.

__ADS_1


"Dirumah, tuan! saya meminta anak buah saya untuk mengurung mereka agar tidak bisa lari. Kami menunggu perintah anda." ucap Lukas.


"Nak, kita kembali ke ruang operasi ya?" tanya Darel.


"Iya, ayah!" jawab Iwang.


Mereka bertiga kembali ke depan ruang operasi.


"Niar, aku titip putraku bersamamu ya!" ucap Darel meminta Daniar menjaga Iwang.


"Kau mau kemana, Rel?" tanya Tomi.


"Mengurus tungau!" jawab Darel.


Mereka paham siapa tungau yang dimaksud oleh Darel itu.


"Adi kau juga ikut aku! Harri, kau disini atau ikut?" tanya Darel.


Darel tahu Harri masih letih karena ikut berlari bersamanya tadi.


"Tentu saja ikut, tuan!" ucap Harri dengan penuh semangat.


Darel tersenyum kala mendengar jawaban Harri barusan.


"Kabari aku kalau operasinya berhasil!" ucap Darel sebelum melangkah pergi.


"Darel!" panggil papa Daniar menghentikan langkah Darel.


"Ya, pa?" tanya Darel menatap pria itu.


"Papa mau ikut!!" ucap papa Daniar.


"Pa, papa disini saja! keberadaan papa jauh lebih dibutuhkan disini. Nanti kalau Mentari susah siuman, papa bantu Darel menenangkan Tari, ya?" ucap Darel.


Papa Daniar menimbang-nimbang keputusannya. Akhirnya papa Daniar pun memilih untuk tetap tinggal dirumah sakit.


Darel bergerak menuju rumahnya dengan dua mobil yang dipakai Adi dan Lukas tadi yang memang masih terparkir di parkiran rumah sakit.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Duh jadi makin deg-degan nih!!! kira-kira gimana ya reaksi Darel saat tahu mamanya terlibat dalam penganiayaan terhadap istrinya? apa yang akan dilakukan Darel kepada Sandra dan juga Prerty ya?! ikuti terus ceritanya, jangan lupa like, komen, share+tips agar author semakin semangat updatenya 🥰🥰🥰


__ADS_2