
"Kalian, cepat bawa gadis itu!!!" perintah Jafar kepada anak buahnya.
"Tidak!!! aku mohon jangan lagii!!! aku mohonnn!!!! jangannn!!!" teriak gadis itu menangis.
"Ayo cepat!!!!" paksa anak buah Jafar.
Gadis itu dibawa ke ruangan yang tidak jauh dari tempat itu. Tempat biasa tuan Roy, nama pria asing itu menghabiskan waktunya kepada gadis-gadis yang ada disini.
Sebagai informasi, Jafar bekerja menc***k anak-anak terutama gadis muda. Selain untuk memperkerjakan mereka, para gadis itu juga dituntut untuk melayani na**u bejat "klien" Jafar yang notabenenya adalah seorang ped**l. Tidak jarang juga bocah laki-laki yang ada disini ikut menjadi sasaran na**u bejat itu. Ada beberapa "klien" Jafar, salah satunya tuan Roy ini.
Raungan dan tangisan gadis yang dibawa tadi terdengar hingga seolah memenuhi ruangan itu. Hyuna yang baru mendengar itu merinding ketakutan. Sedangkan yang lain sudah meringkuk ketakutan saling memeluk satu sama lain.
Teriakan itu semakin menjadi-jadi selama hampir satu jam lamanya hingga akhirnya tuan Roy keluar sembari merapikan pakaiannya.
"Dia selalu nikmat!!" ucap tua Roy kepada Jafar dan Rumini, istrinya.
"Tentu saja! dia selalu menjadi favorit anda selama satu bulan ini!!" ucap Jafar tersenyum manis.
"Bagus!! ini imbalanmu!!" ucap tuan Roy sembari memberikan amplop coklat berisi uang tunai.
Jafar dan Rumini menerima uang itu dengan mata berbinar. Selalunya memang seperti itu. Tuan Roy akan membayar atas kenikmatan yang dapatkan dari anak-anak yang ada ditempat Jafar.
"Kalian selalu tahu apa yang aku mau, aku puas dengan produk dari kalian!!" ucap tuan Roy.
"Tentu saja, tuan!! anda kan salah satu klien utama disini!" ucap Jafar.
"Aku pergi dulu, masih ada urusan!" ucap tuan Roy.
"Baik-baik tuan!! kalian, urus gadis itu!!" ucap Jafar pada anak buahnya.
"Baik tuan!" jawab ketiga anak buah Jafar.
Jafar dan Rumini mengantarkan tuan Roy sementara tiga anak buah Jafar menggotong tubuh gadis tadi yang terlihat sangat lemas. Banyak bekas merah-merah di lengan dan kaki gadis itu, padahal sebelumnya tidak ada. Dan juga bekas merah di leher gadis itu.
__ADS_1
"Urus teman kalian ini!!" ucap anak buah Jafar.
"Nina!!! Nina, kamu baik-baik saja??" tanya Lula.
Di tempat ini ada sepuluh orang anak, lima diantaranya adalah anak perempuan dan lima lagi laki-laki. Lula berusia sebelas tahun, Nina dan Anika berusia sepuluh tahun, dan terakhir Nini berusia delapan tahun. Sedangkan anak laki-laki bernama Artha berusia tiga belas tahun, Renan berusia sepuluh tahun. Juna, William, dan Etnes yang berusia sembilan tahun.
"Sakitt, kakk!!! capekkk!!!" tangis Nina didalam pelukan Lula.
Hyuna yang belum mengerti hal yang terjadi itu hanya menatap dalam diam. Sedangkan anak laki-laki itu menatap sedih kearah Nina. Nina memang gadis yang paling sering mendapatkan perlakukan seperti ini. Biasanya dalam satu minggu ada dua atau tiga "klien" Jafar yang datang, dan biasanya mereka memilih Nina, walau tidak jarang mereka memilih yang lain. Bahkan bentuk tubuh Nina banyak mengalami perubahan, terutama di bagian payu****.
"Nina kamu harus sabar!! kita pasti bisa keluar!! sabar yaa!" hibur Anika.
Dia juga sama menangisnya seperti yang lain.
"Sampai kapan, Anika?? sampai kita mati baru kita bebas?? aku bahkan lebih memilih mati daripada harus diperlakukan seperti ini!!" ucap Nina.
"Nina, kau tidak boleh mengatakan itu!! kita pasti keluar!! kamu percaya kan padaku?" tanya Lula.
"Percuma kak!! kalaupun kita keluar, belum tentu kita diterima dengan baik di masyarakat. Kita sudah tidak suci, kak!!! kita kotorrr!!!! masyarakat sangat kejam kepada wanita yang kotor, walaupun ini bukan salah kita!!! aku mau mati aja kak, aku mau matii!!!" tangis Nina pecah.
Bukan karena pakaiannya mereka dijadikan korban pemerkos**n, melainkan ceteknya otak pelaku. mau setertutup apapun pakaian yang dikenakan, kalau dasarnya pelaku itu tidak punya otak tetap saja terjadi. Mau seterbuka apapun baju wanita, jika para pelaku memiliki otak dan iman tetap tidak akan terjadi.
Korban tidak selalu seorang wanita, pria juga bisa menjadi korban kekerasan. Jadi stop menyalahkan pakaian korban atas bejatnya tindakan pelaku. Korban seperti itu harunya mendapat dukungan dari masyarakat agar bisa sembuh dari trauma yang mungkin dialami oleh korban, bukan malah membully korban dengan mengatakan hal-hal yang menyakitkan yang membuat korban semakin trauma dan tertekan.
"Nina...." Lula bahkan sampai kehilangan kata-kata karena perkataan Nina.
"Kak..." Hyuna mulai berbicara.
Semua mata menatap ke arah Hyuna. Walau canggung, Hyuna mulai melepaskan sneaker kanannya, lalu menunjukkan chip yang ada di sana.
"Hyuna, apa itu?" tanya Anika.
"Ini alat GPS, papiku yang meletakkannya disini agar saat aku ada masalah dia bisa langsung tahu posisiku. Aku sudah menekan tombolnya, seharusnya papiku sudah menerima sinyal dari GPS ini. Semoga saja papiku bisa segera datang dan menyelamatkan kita semua!" jelas Hyuna.
__ADS_1
"Hyuna, benar ini GPS?" tanya Artha.
"Benar kak." ucap Hyuna.
"Hyuna kamu penyelamat kami!!! Nina, kamu dengar itu?!! kita akan segera keluar dari neraka ini!!!" ucap Anika.
"Hyuna, kau adalah malaikat kamii!!" ucap Nina.
Mereka berlima berpelukan karena saking senangnya.
"Kak, boleh aku bertanya?" tanya Hyuna melepaskan pelukannya.
"Boleh!" ucap Lula.
"Apa kalian semua mengalami ini?" tanya Hyuna.
Mereka semua diam seribu bahasa.
"Kak??"
"Hyuna, kami semua telah mengalaminya, semuanya!" ucap Juna.
"Bahkan tidak jarang luka sabuk mereka sampai bernana* ditubuh kami. Tidak ada yang mengobati luka kami, jadi kami mau tidak mau membiarkan luka-luka itu hingga sembuh sendiri." tambah William.
"Sakit, perih, apalagi mereka tidak akan puas kalau kita belum sampai mau pingsan. Capek!" keluh Lula.
"Sudah berapa lama kalian disini?" tanya Hyuna.
"Paling lama kak Artha, dia sudah hampir empat bulan disini. Kami hanya bisa berharap setiap harinya agar bisa keluar dari tempat ini. Kadang saat sedang mengemis, kami meminta tolong secara diam-diam kepada orang-orang di lampu merah. Namun tidak pernah berhasil." cerita Anika.
"Pernah hampir berhasil, namun pak Jafar sangat cerdik jadi kami tidak jadi diselamatkan. Malahan kami yang mendapat amukan pak Jafar dan bu Rumini setelah sampai disini. Kami disiksa, dan tidak diberi makan selama hampir satu minggu. Banyak dari kami yang tidak kuat bertahan hingga kini menyisakan kami." cerita Lula.
"Sekarang kalian tenang saja, papi pasti akan datang menjemput kita. Papiku orang yang hebat kok!" ucap Hyuna.
__ADS_1
"Terimakasih, Hyuna! setidaknya kau membawa angin sejuk pada kami." ucap Nina.