Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 154


__ADS_3

Ceklekkkk....


Pintu dibuka dari dalam.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Darel khawatir.


"Emm, aku.....akuu!!!" bingung mau menjelaskan bagaimana.


"T...tuannn!!! Darahhh!!!" tunjuk Harri ke baju Mentari yang terkena bercak darah.


"Darah?" terkejut.


Darel melihat apa yang dilihat Harri membuat Darel semakin cemas karenanya apalagi bercak darah itu sangat banyak.


"Sayang kamu sakit? apa yang sakit ha? mau aku bawa ke dokter?" khawatir.


"Emm, tidak-tidak! tolong panggilkan salah satu pelayan wanita saja!" ucap Mentari malu.


Duh gimana nih caranya bilang sama mereka kalau ini tuh darah datang bulan!!?? bingung Mentari.


Mentari bingung dan malu untuk mengatakan bahwa dirinya sedang datang bulan.


"Apa yang kalian tunggu? cepat panggilkan dokter dan pelayan wanita kesini! CEPATTT!!!!" bentak Darel.


"Baik tuan!" ucap Adi.


Adi pergi dari kamar itu sedangkan Harri memberikan beberapa baju baru untuk Mentari gunakan. Setelah berganti pakaian, seorang pelayan wanita datang dan dari wajahnya, dia terlihat sangat gugup. Mungkin dia berpikir bahwa dia melakukan suatu kesalahan, makanya dia dipanggil secara mendadak seperti ini.


"Sayang, jangan seperti itu! kamu menakutinya!" bisik Mentari yang kini tengah duduk dipangkuan Darel.


"Emm, bisa biarkan kami berdua saja?" tanya Mentari kepada Darel.


"Tidak! kalau kamu mau mengatakan sesuatu kepadanya, aku juga harus tahu itu!" memeluk Mentari dengan erat.


Iya, iya! dasar bayi besar! manjanya melebihi bayi saja!


"Kemari lah!" ucap Mentari lembut.


"Ada apa nona?" tanya pelayan itu dengan gugup.


Mentari membisikkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh Darel dengan jelas.


"Oh baik nona saya akan belikan!" tersenyum lega.


Ah, syukurlah! ternyata hanya karena ini saja aku dipanggil!! batin pelayan itu.


"Duduk diam-diam disini! Harri, suruh mbok Tini untuk membuatkan bubur kemari!" ucap Darel.


"Baik tuan!"


Seisi rumah Darel saat itu langsung gempar karena mendengar kabar bahwa nona muda mereka mengeluarkan darah. Mereka berpikir ada penyusup yang memasuki rumah atau nona sedang sakit keras.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Harri datang bersama mbok Tini, pelayan yang ditugaskan Mentari tadi dan juga seorang dokter wanita.


Dokter wanita itu sudah mendengar penjelasan dari pelayan yang disuruh Mentari tadi bahwa Mentari sedang datang bulan saja dan bukannya ada penyakit yang serius.


"Tidak apa-apa kok tuan! ini hal yang biasa dialami setiap wanita. Setiap bulan periode setiap wanita berbeda-beda, ada yang hanya 4-5 hari, ada yang 7 hari, ada juga yang lebih dari 10 hari." jelas dokter itu setelah memeriksa keadaan Mentari.


Mentari dibuat semakin malu, karena hanya masalah kecil saja sampai melibatkan banyak orang.


"Aku tidak paham!" ucap Darel bingung.


"Heih, intinya tuan ini hal yang normal kok bagi setiap wanita!" mulai frustasi sendiri.


"Normal katamu? normal bagaimana kalau dia mengeluarkan darah sebegitu banyak!???" mulai emosi.


"Sayang, itu darah haid! aku tidak sakit kok, cuma lagi datang bulan aja!" bisik Mentari disamping telinga Darel.


"Haid? bulanan?" bingung.


"Saya kasih vitamin aja ya sama obat pengurang nyeri. Diminum rutin 3x sehari setelah makan!" ucap dokter memberikan obat.


"Saya pergi dulu ya!" ucap dokter itu lalu pergi diantar oleh Lukas.


Meskipun belum paham benar dengan penjelasan mengenai haid dan bulanan itu, Darel tetap membiarkan dokter itu pulang. Setelah itu Darel menyuapi Mentari makan bubur buatan mbok Tini dan juga beberapa potongan buah-buahan segar.


Setelah meminum obat, Darel membiarkan Mentari tidur sedangkan Darel mencari tahu sedetail mungkin tentang haid dan bulanan itu kepada mbok Tini. Dengan sabar mbok Tini memberi penjelasan kepada Darel hingga akhirnya Darel paham tentang darah haid itu.


"Kalau begitu berarti tidak bahaya kan?" tanya Darel memastikan bahwa haid ini bukanlah hal yang perlu ditakuti.


"Tuan, menurut dari yang saya cari ini wanita yang tengah haid biasanya akan disertai nyeri pada perutnya. Itu hal normal, bahkan ada yang sampai pingsan akibat tidak kuat menahan rasa sakit. Juga...." terhenti.


Darel langsung berlari menuju kamarnya setelah mendengar bahwa ada yang pingsan karena haid ini. Darel takut kalau Mentari juga merasakan sakit yang sangat hebat nanti.


"Mentari...!!!!!"


Darel melihat Mentari tidak ada diranjang. Darel terus memanggil-manggil nama Mentari dan tidak lama kemudian Mentari muncul dari dalam kamar mandi.


"Kamu tidak apa-apa? sakit tidak? kalau sakit bilang sakit!!!! jangan ditahan!!!!" frustasi sendiri.


"Aku tidak sakit kok! kamu tenang aja!" menenangkan Darel.


"Lalu kenapa kamu memegang perutmu seperti itu? kamu pasti berbohong kan?" mulai marah.


"Ya ada nyeri sedikit tapi tidak sampai sakit sekali kok!"


Darel langsung menggendong Mentari, menidurkannya di atas ranjang. Sebelumnya, Darel mengunci pintu kamar terlebih dahulu kemudian ikut berbaring disamping Mentari. Darel melingkarkan tangannya diatas perut Mentari, mengelusnya pelan.


"Apa masih sakit?" tanya Darel lembut.


"Tidak! begini sangat nyaman!" ucap Mentari.


Posisi Mentari saat ini tidur dengan membelakangi Darel sehingga Darel bisa mengelus perut Mentari dengan mudah.

__ADS_1


"Tidurlah!" ucap Darel.


********


"Daniar, kamu keruangan saya sebentar!" ucap Wisnu.


"Baik pak!" ucap Daniar formal.


Daniar mengikuti langkah Wisnu menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan Wisnu, ternyata sudah ada Nurul dan juga Zanu beserta Rohan disana.


"Loh, kok kamu bisa ada disini?" tanya Daniar kepada Zanu.


"Aku takut terjadi hal buruk padamu, makanya aku kesini!" ucap Zanu membawa Daniar kedalam pelukannya.


"Ehemmm.....ehemmmm....!!!!" Wisnu dan Rohan berdehem sedangkan Nurul tersenyum.


"Apa sih kalian ini!"


"Oh ya Daniar! Aku dengar kamu memperingati Wanda tentang pak Broto, apa itu benar?" tanya Wisnu.


"Iya, karena Zanu bilang pak Broto itu orang yang licik!" ucap Daniar.


"Kau tahu seberapa berbahayanya pak Broto itu? seharusnya kau tidak membawa dirimu dalam bahaya seperti ini!" ucap Rohan.


Rohan memberikan beberapa bukti kuat tentang kejahatan pak Broto. Ternyata selama ini selain dia menipu, pak Broto juga bersekongkol dengan salah satu kelompok mafia yang memperdagangkan anak kecil.


"Ini.....ini semua benar?" tanya Daniar tidak percaya.


"Aku juga baru tahu hal itu! jika aku tahu dari awal, tidak akan aku biarkan dia menginjakkan kakinya di perusahaan ini!" geram Wisnu.


Nurul langsung mendekati kekasihnya itu, mengelus punggung tangannya untuk menenangkan Wisnu.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Zanu.


"Tidak usah! aku yakin dia sendiri yang akan menyerahkan dirinya!" ucap Rohan percaya diri.


"Caranya?" tanya Zanu.


"Daniar!"


"Ap.....apa?" semua orang terkejut.


"Kenapa Daniar?" tanya Zanu tidak rela.


"Daniar sudah memperingati Wanda kan, dan aku yakin Wanda juga sudah memberikan informasi itu kepada Broto. Karena takut rahasianya terbongkar maka dia akan menculik Daniar!" jelas Rohan berdasarkan analisanya.


"Kita hanya perlu siaga disamping Daniar, namun tetap dalam jarak yang aman agar mereka tidak tahu bahwa kita ada disekeliling Daniar. Ketika Daniar diculik, kita akan bisa melacak lokasi mereka dari ponsel Daniar yang akan aku pasangi GPS." jelas Rohan.


"Apa tidak terlalu bahaya?" Zanu khawatir.


"Kau sendiri yang sudah menyeretnya dalam bahaya ini, maka biarkan dia masuk lebih dalam lagi!"

__ADS_1


"Tenang saja, kita akan menjaganya kok tapi dari jauh!" ucap Rohan lagi.


__ADS_2