Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EXTRA PART XI


__ADS_3

Hari sudah menjelang malam, belum ada tanda-tanda kedatangan dari Darel untuk menyelamatkan Hyuna. Mereka semua sudah mulai was-was.


BRAKKKKK.....


"SIAPA YANG BERNAMA HYUNAAAAA!!!" teriak Jafar penuh emosi.


Semua anak yang melihat itu merinding ketakutan. Hyuna juga sama halnya, takut.


Papi, papi dimana?? Hyuna takut, pi!! kak Iwang, kak Shaki, kak Ivan, Hyuna takuttt!!! batin Hyuna.


"Kau!!!" tunjuk Jafar kepada Hyuna membuat Hyuna semakin takut.


"Bawa anak itu kesini!!!" perintah Jafar.


Salah satu anak buah Jafar menyeret lengan Hyuna menuju kehadapan Jafar.


"Kau sudah berani yaa melawanku, bocah tengil?!!!" geram Jafar sambil mencengkram kuat rahang Hyuna membuat Hyuna meringis kesakitan.


"Lepas sepatunya!!!" perintah Jafar.


Hyuna memberontak saat sneaker miliknya hendak dilepaskan oleh anak buah Jafar.


"Sesuai informasi, tuan!! ada chip didalam sepatu ini!!" ucap salah satu anak buah Jafar yang menemukan chip di sneaker Hyuna.


PLAKKKK.....


Hyuna ditampar dengan sangat keras hingga tersungkur ke tanah. Bagian hidungnya sampai mimisan akibat tamparan keras itu.


"BERANINYA KAU MELAWANKU!!! RASAKAN INII!!!" teriak Jafar.


Jafar mulai menendang tubuh kecil Hyuna dengan sekuat tenaga. Hyuna hanya bisa meringkuk kesakitan. Jafar benar-benar seperti kesetanan, dia menendang Hyuna dengan membabi buta.


"Rasakan ini bocah tengilll!!!!" ucap Jafar ditengah tendangannya ke tubuh Hyuna.


"Hah...hah...." Jafar berhenti menendang Hyuna karena kelelahan.


"AMBILKAN CABUKKUUU!!!" perintah Jafar.


Anak buahnya dengan cepat membawakan cabuk. Jafar bersiap untuk mencabuk tubuh Hyuna. Hyuna yang masih bisa berdiri itu perlahan berjalan mundur. Rasa sakit dan memar akibat tendangan tadi saja sudah membuat tubuhnya merasakan sakit yang teramat sangat, apalagi jika dicambuk??


Cambuk itu dilayangkan ke udara, bersiap untuk mencambuk Hyuna. Hyuna menutup matanya sambil mengalihkan pandangannya, adegan yang akan terjadi cukup membuatnya ketakutan hingga tidak berani untuk membuka matanya.


Sedetik sebelum cabuk itu mengenai tubuh Hyuna, seseorang menahan cabuk itu.


"Kau?!" geram Jafar melihat siapa yang berani menahan cambuknya.


"Sudah cukup!!! aku tidak akan tinggal diam lagii!!" ucap Artha.


Hyuna yang mendengar suara Artha langsung membuka matanya menatap orang asing yang membantunya itu.

__ADS_1


"Kak Artha?!! kak, apa yang kakak lakukan??" ucap Hyuna.


"Heh, mau jadi sok pahlawan kamu yaaa?!!! oke, biar kamu saja yang merasakan cambukku!!" ucap Jafar menarik kuat cambuknya hingga menggores telapak tangan Artha.


"Akhhh!!!" teriak Artha kesakitan.


"Kak Arthaa!!!" teriak Hyuna.


Hyuna tidak lagi memperdulikan rasa sakitnya, dia berlari mendekati Artha yang meringis kesakitan akibat goresan di telapak tangannya.


"Aku baik-baik saja!" ucap Artha.


"Kau sudah cukup melewati batas!!!" ucap Hyuna menatap tajam ke arah Jafar.


Mata tajam setajam singa itu membuat Jafar merinding ketakutan.


Apa-apaan ini, kenapa aku jadi merinding begini hanya karena tatapannya?? tatapan mata itu, sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana?!! batin Jafar.


Hyuna berdiri, dia bersiap untuk melawan Jafar.


"Hei, kenapa kalian diam saja?!! tangkap bocah ituu!!" ucap Jafar.


"Baik bos!!" ucap anak buah Jafar.


Mereka bertiga berjalan menuju Hyuna yang hendak melakukan perlawanan. Satu persatu dari mereka mulai menyerang Hyuna, namun dengan mudahnya serangan mereka dipatahkan oleh Hyuna bahkan mereka sampai dibuat kelimpungan karena gerakan Hyuna yang gesit.


Jafar yang melihat anak buahnya satu persatu ditumbangkan oleh Hyuna pun semakin takut. Mau tidak mau dia harus melawan Hyuna karena anak buah terakhirnya juga telah tumbang.


"Hyunaaaa!!!" teriak Artha memperingati.


Hyuna yang mempunyai refleks bagus itu pun langsung menghindar dari serangan Jafar.


"Dasar bocah tengill!!! awas saja kau yaaa!!!" ucap Jafar semakin geram.


Jafar mengeluarkan pisaunya lalu kembali menyerang Hyuna. Hyuna hanya bisa menghindar. Tujuannya saat ini adalah bagaimana cara melumpuhkan senjata Jafar Lalu menyerangnya.


Hyuna menangkis semua serangan yang ditujukan padanya, lalu disaat yang tepat dia menendang tangan Jafar yang memegang pisau hingga pisau itu jatuh. Tidak hanya itu, Hyuna juga melakukan tendangan kuat ke area vita* Jafar hingga Jafar kesakitan sambil memegangi alat vita* nya. Kesempatan itu digunakan Hyuna untuk melakukan tendangan T pada Jafar.


Tendangan itu tepat mengenai bagian atas leher Jafar.


"Hyuna kau hebat sekalii!!!" teriak anak-anak lain saat melihat Hyuna berhasil mengalahkan Jafar dan anak buahnya.


"Hahaha...hahahaaa!!!" tawa Jafar yang terbangun sambil memegang lehernya.


"Kau kira kau sudah menang bocah kecil?!!" ucap Jafar.


"Lulaaa!!" panggil Jafar.


Hyuna terkejut saat Jafar menyebutkan nama Lula, dia pun menoleh kebelakang namun sayangnya Lula telah lebih dulu menyuntikkan obat bius ke lehernya.

__ADS_1


"AKHHH!!!" teriak Hyuna saat obat bius itu berhasil disuntikkan ke tubuhnya.


Semua anak-anak terkejut dengan apa yang mereka lihat saat ini. Rupanya Lula adalah salah satu bagian dari kelompok Jafar.


"Hyunaa!!" teriak anak-anak itu.


Artha menghampiri Hyuna yang mulai kehilangan kesadarannya. Dia menopang tubuh Hyuna agar tidak terjatuh dengan keras ke tanah.


"Lula, apa yang kau lakukan?!!" teriak Artha.


"Maaf kak, tapi ini adalah tugasku yang sebenarnya!" ucap Lula.


"Apa?!! a...apa yang kau katakan, kak Lula??" tanya Nina yang tidak kalah terkejut.


"Kalian semua memang bodo*!!! Lula ini adalah anak ku, dia sengaja aku tempatkan disini untuk memata-matai kalian. Lagi pula aku juga bisa dapat keuntungan dari tubuhnya ini!!" jelas Jafar.


"Kak, bilang kalau itu semua nggak benar!!" teriak Nina masih enggan mempercayai kata-kata Jafar.


"Maaf, tapi memang itu adanya! aku adalah anak darinya. Aku yang melaporkan semua tindakan percobaan melarikan diri kalian semua sebelum ini, termasuk saat Hyuna mengatakan ada chip yang terdapat di bawah sepatunya. Aku juga yang memberitahukan itu." jelas Lula.


"Kenapa, La?! kenapa?? kita adalah teman?? aku pikir kau salah satu bagian dari kami??" tanya Artha.


"Kenapa kakak bohongin kita semua?!! kakak tau traumanya kita, kakak tau tertekannya kita, kenapa kau memperlakukan kami seperti ini?!!" teriak Anika.


"Aku..." ucap Lula terpotong.


"Sudahlah kalian!! tidak ada untungnya juga kita marah padanya, sedari awal dia memang bukan bagian dari kita." ucap Renan.


"Sudah!!! aku muak dengan drama kalian ini!! Lula, ikat mereka semua lalu pergi ke ruanganku!" perintah Jafar.


"Baik ayah!" ucap Lula.


"Tega kau pada kami, Lula?" ucap Artha kecewa.


"Kami benar-benar kecewa padamu!" ucap Anika.


"Menyesal aku mendengarkan ucapanmu!" ucap Nina.


Semuanya menatap ke arah Lula dengan tatapan kecewa.


"Aku tidak bisa melawannya!!" ucap Lula.


"Lalu maka dari itu kau mengorbankan kami?? apa salah kami hingga harus mendapat perlakukan seperti ini dari kalian??? masa depan kami telah hancur se hancur-hancurnya karena kaliann!!! tapi aku lebih kasian padamu!" ucap Nina dengan raut wajah mengejek.


"Setidaknya kami diperlakukan seperti ini oleh orang asing, namun kau!! kau dijual oleh ayah dan ibumu sendiri!! kau tidak ada harganya dimata mereka, tidak akan ada orang tua yang rela menjual anaknya sendiri, apalagi sampai harus melayani orang-orang yang punya gangguan kejiwaan. Nasibmu jauh lebih mengenaskan dari kami semua, Lula!" ucap Nina.


"Kau lupa, Lula! kami lah yang merawat luka mu saat mereka menggores luka ditubuh mu. Kami yang mati-matian melindungi mu walau kami pun dalam posisi yang sama denganmu saat mereka mencoba melukaimu. Dan sekarang ini balasanmu?? rupa-rupanya yang kami pelihara selama ini tidak lebih dari seekor ular berbisa. Dan sekarang, ular itu telah menjadikan kami semua sebagai mangsanya!" ucap Artha.


"Aku...aku...tidak punya pilihan lain!!" ucap Lula.

__ADS_1


"Aku sudah tidak mempercayaimu lagi, Lula! pergilah kau dari hadapan kami!" ucap Wiliam.


Lula pergi dari tempat itu setelah mengikat semua tangan dan kaki anak-anak tadi. Entah mengapa perkataan Nina dan Artha membuat Lula kepikiran. Kepalanya penuh dengan perkataan mereka.


__ADS_2