Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 134


__ADS_3

Lorong demi lorong dilewati Mentari. Dipikirannya ada banyak pertanyaan termasuk bagaimana dia bisa hamil. Seingatnya selama ini tidak ada kontak fisik antara dirinya dan Darel? apa Darel melakukan hal itu ketika dirinya tidak sadarkan diri?


Darel menuntun Mentari memasuki mobilnya, sedangkan Galih masih setia dibelakang mereka meskipun dadanya terasa sakit melihat Mentari dipeluk pria lain apalagi sekarang dia mengandung anak Darel.


Mentari hanya diam saja selama perjalanan, entah hal apa saja yang membuatnya kepikiran.


"Jangan sampai stress memikirkan hal yang tidak-tidak! semua terjadi begitu saja. Ingat sekarang kau sedang mengandung dan tidak baik kalau kau banyak pikiran seperti ini!" ucap Darel sembari menggenggam tangan Mentari.


"Biarkan aku tenang dulu!" menarik tangannya dari Darel.


Apa ini penyebab aku mual-mual dan tiba-tiba menginginkan sesuatu? aku....hamil? sebentar lagi aku akan menjadi ibu???


Mereka berhenti disebuah rumah mewah dan bukan kembali ke hotel itu lagi.


"Kenapa kita berhenti disini? ini bukan hotel tempatku menginap?" tanya Mentari bingung.


"Aku sudah membawa barang-barang mu kemari, selama usia kandunganmu belum bisa diajak berpergian kita akan tinggal disini!" jelas Darel.


Maksud Darel mereka akan tinggal disana beberapa hari lagi sampai Mentari pulih total. Dia juga sudah berkonsultasi kepada dokter wanita tadi, aman tidaknya jika Mentari dibawa kembali ke Indonesia. Itu sebabnya dia tidak langsung masuk ke ruangan Mentari tadi.


Mereka pun memasuki rumah dengan halamannya yang luas itu.


"Eitsss!!! orang luar dilarang masuk ya! takutnya membawa virus yang berbahaya!" ucap Darel menghentikan langkah Galih.


"Men...." terpotong.


"Sudahlah kak, aku sangat lelah sekarang. Lagi pula ini rumah Darel, aku tidak punya hak melarang ataupun memerintahkan dia siapa-siapa yang boleh masuk ke rumahnya. Itu hak dia." ucap Mentari.


"Baiklah, kalau itu yang kau inginkan!" ucap Galih meninggalkan rumah Darel.


"Bye-bye!" melambaikan tangan sembari tersenyum penuh kemenangan.


Akhirnya dia pergi juga! dasar pengganggu!


Darel berpikir dengan kepergian Galih dia dan Mentari bisa menghabiskan waktu mereka bersama. Namun nyatanya setelah Darel menceritakan kejadian malam itu, Mentari justru menyuruh Darel tidur terpisah dengannya. Awalnya Darel menolak dengan alasan keselamatan Mentari, namun karena Mentari kekeh ingin tidur terpisah dan juga memikirkan anak yang tengah dikandung Mentari akhirnya Darel pun mengalah dengan syarat dia akan tidur dikamar disamping kamar Mentari.


Sore itu cuaca terlihat mendung. Rintik hujan mulai membasahi tanah dan pepohonan. Mentari berjalan kearah jendela, menyodorkan tangannya menyentuh tetesan air hujan.


"Bagaimana aku bisa seceroboh itu? meminum minuman yang bahkan tidak pernah aku sentuh?" sesal Mentari.


Yah, akibat cemburu buta pada Darel membuat Mentari tanpa sengaja meminum alkohol dan kejadian itu pun terjadi diantara mereka hingga membuahkan janin diperut Mentari.


"Aku sangat bingung dengan semua ini! haruskah aku senang karena kau hadir ditengah-tengah kami? atau aku harus sedih karena kau hadir diwaktu yang tidak tepat?" Mentari berpikir sendiri.


"Aku masih kesal dengannya, tapi aku juga sangat mencintainya! aku seperti mayat hidup ketika jauh darinya. Namun ketika dia ada dihadapanku, hatiku kembali sakit mengingat semuanya!!"

__ADS_1


"Orang bilang seorang anak bisa menyatukan kedua orang tuanya, apakah kau juga akan melakukan hal yang sama? kau mengerti kan posisi mama? papa mu sudah melakukan kesalahan yang fatal! apa kau juga mau mama mendiamkannya saja? atau mama bisa saja tidak menerima perdamaian dari papamu?"


Mentari berbicara sendiri sembari mengelus perutnya yang rata dimana buah hatinya tumbuh disana.


Sehat-sehat ya kamu nak, mama janji akan menjagamu hingga kau lahir nanti. Dan mama pastikan akan memberi banyak kasih sayang untukmu!


Huekkk.....huekk......huekkk.....


Mentari kembali mual. Darel yang setia berada dibalik pintu kamar Mentari langsung panik ketika mendengar Mentari mual-mual.


"Mentari!!!! Mentari!!! buka pintunya, Mentari!!!!" ucap Darel sembari mengetuk-ngetuk pintu kamar namun tetap tidak ada jawaban.


"Adi, Harri, bawakan kunci cadangan sekarang!!!" teriak Darel.


Tidak lama kemudian Adi dan Harri datang dengan kunci cadangan ditangan mereka. Pelayan yang membantu pekerjaan rumah juga berbondong-bondong berlari menuju kamar Mentari takut ada apa-apa kepada nyonya muda mereka.


Begitu pintu dibuka....


"Menta....." terpotong.


"Ri?" bingung dengan situasi ini.


"Kenapa kau tidak menjawab panggilan ku tadi? apa kau tahu aku sangat mencemaskan kalian? apa....apa kau tidak bisa membukakannya sebentar saja???" emosi sendiri apalagi sekarang Mentari senyum-senyum sendiri melihat tingkah Darel.


"Lalu kenapa kau malah memegang bantal itu?"


"Ya, ini tadi terjatuh saat aku berlari jadi aku hendak mengambilnya dan meletakkannya kembali ke tempatnya."


Darel menghela nafas panjang lalu membawa Mentari ke dekapannya.


"Jangan lakukan itu lagi, lagi pula kenapa kau harus mengunci pintunya sih? kan kalau kau terjadi apa-apa aku jadi khawatir sendiri. Jangan pernah kunci pintu ini, okey!"


Mentari mengangguk patuh.


"Bi, apa yang kau masak tadi?" tanya Darel mengingat Mentari yang mengeluhkan mencium bau sebelum mual.


"Saya sedang membuat sop ayam, tuan." ucap pembantu itu.


"Baiklah, jauhkan itu dari Mentari ya. Bibi bisa menghidangkannya kepada satpam dan pelayan lain yang penting jangan hidangkan itu diatas meja. Sebagai gantinya masaklah...." berpikir.


"BBQ! aku ingin makan itu!" wajah kecil mendongak kearah Darel.


"Sepertinya nona sedang ngidam tuan." ucap bibi dan pelayan muda sembari senyum-senyum.


"Ngidam? apa itu? apa sebuah penyakit?" tanya Darel polos.

__ADS_1


********


Disisi lain Merish juga mendapat kabar tentang kehamilan Mentari dan langsung saja dia sampaikan kepada tuan Ardi.


"Permisi tuan! ada kabar bahagia dari tuan dan nona muda!" ucap Merish sopan.


"Katakan! apa Darel sudah menemukan Mentari?" tanya tuan Ardi.


Disana juga ada nyonya Ardi, dan juga Frans dan Juna. Juna dan Frans memilih menetap di Indonesia karena ingin melanjutkan perusahaan cabang keluarga Sanjaya dan untuk yang berada di negara J dia serahkan kepada sekretaris pribadinya untuk mengurus segala hal.


"Ini lebih membahagiakan dari itu tuan!" ucap Merish membuat semua orang penasaran.


Mereka semua saling bertatapan, sama halnya dengan Joni yang juga belum mengetahui berita itu.


"Nona muda sekarang tengah hamil muda, tuan!" ucap Merish.


Raut wajah semua orang langsung berubah. Aura kegembiraan menyeruak hingga tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Mereka tertawa bahagia mendengar kabar tersebut.


"Pa, kita bakal punya cucu lagi!!!!" ucap nyonya Ardi gembira.


"Merish, Joni! bagikan uang dan sembako untuk masyarakat miskin. Semua orang juga harus merasakan kebahagiaan kita menyambut penerus Sanjaya Grup!!!"


"Kita bakal jadi paman lagi, yeeeee!!!!" teriak Juna dan Frans bersamaan.


Nyonya Ardi dengan tidak sabar langsung menelepon keluarga Daniar memberitahukan hal membahagian ini kepada mereka.


********


Dirumah Daniar. Daniar yang habis keramas mengeringkan rambutnya lalu rebahan diatas ranjangnya sembari menunggu kedatangan Zanu. Saat ini Zanu sedang dalam perjalanan menuju rumah Daniar, agenda malam minggu ceritanya.


Benar saja, tidak sampai 15 menit pintu diketuk dari luar. Daniar langsung melonjak dari tempat tidur membuka pintu dan terlihatlah Zanu dengan menenteng martabak dan cemilan lainnya untuk keluarga Daniar.


"Siapa Daniar?" dari arah dapur.


"Eh, nak Zanu? kenapa berdiri saja disana? ayo duduk dulu! Tante buatkan makan malam dulu ya, sebentar lagi matang, nak Zanu makan malam bersama kami saja ya?" ucap mama Daniar.


"Emm, baiklah kalau tidak merepotkan tante!"


"Tidak kok, tidak merepotkan! justru tante malah senang karena Daniar ada yang menemani! Oh iya apa ada kabar mengenai Mentari?" tanya mama Daniar.


"Sudah tante, Mentari ada di Korea dengan pria bernama Galih. Tadi Darel langsung terbang ke Korea menemui Mentari kok, dan seharusnya Darel sudah bertemunya dengan Mentari sedari tadi." jelas Zanu.


"Om, sebenarnya suka dengan Darel. Om rasa dia bisa menjaga Mentari dan menyayangi Mentari. Buktinya selama beberapa hari ini dia dengan tanpa putus asa terus mencari keberadaan Mentari." ucap papa Daniar sembari menenteng sebuah gelas berisi kopi.


"Yah cinta sih cinta, tapi akhlaknya juga dijaga dong! masa udah punya istri masih "jajan" diluar sih!" omel Daniar.

__ADS_1


__ADS_2