
Rama melemparkan tubuh Naruka keatas tempat tidur yang sebelumnya telah dia pesan di bar itu. Bar tersebut memang memfasilitasi kamar bagi para pengunjung. Rama sendiri menyewa kamar VIP.
"Nggak sabar banget gue!!!" gumam Rama sembari menindi* tubuh Naruka.
Rama dengan paksa menciu* bibi* Naruka. Awalnya Naruka menolak namun karena efek obat perangsa** yang diberikan pada minumannya tadi membuatnya kehilangan kendali. Ciuma* itu semakin lama semakin liar. Suhu didalam ruangan ber AC itu kini menjadi panas karenanya.
Rama melepaskan tautan bibi* mereka lalu melepaskan kemejanya juga celana yang dia kenakan hingga kini dia hanya mengenakan boxer. Rama juga melepaskan kain dari tubuh Naruka. Rama sengaja menyentuhkan kulitnya pada kulit Naruka sehingga membuat Naruka semakin tidak terkendali. Suara-suara indah yang dikeluarkan Naruka saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Rama semakin membuat Rama tidak tahan untuk menyantap makan malamnya kali ini.
Dok....dok....dok....
"Sia*!!!! Siapa sih ganggu aja!!!!" maki Rama kesal.
Rama baru saja ingin memulai aksinya ketika pintu kamarnya diketuk dengan cukup keras.
"Siap...." terhenti.
"Tuan muda?" tanya Rama terkejut.
"Ternyata itu beneran lo? Kok lo bisa ada disini?! Bukannya harusnya lo lembur di kantor papa?!" tanya pemuda yang di panggil tuan muda oleh Rama.
"S...saya sedang suntuk tuan, butuh hiburan." ucap Rama sedikit gugup.
"Gue tau lo sama siapa didalam. Dan kalau sampai papa tahu kelakuan lo, lo bisa tebak apa yang bakal dia lakuin?" tanya pemuda itu sedikit mengancam.
"M...maaf tuan muda! S....saya salah! Tolong jangan beritahu tuan Zanu tentang hal ini." mohon Rama.
Alvaro. Pemuda itu menatap intens ke arah bawahan papanya itu. Rama sendiri bekerja di perusahaan Zanu sebagai kepala divisi bagian pemasaran. Alvaro juga mengenal Rama karena Alvaro kini tengah magang di perusahaan Zanu sebagai bawahan Rama. Namun karena seluruh perusahaan tahu siapa Alvaro sebenarnya, Rama pun tidak berani macam-macam kepadanya.
Alvaro sendiri sebenarnya dia datang bersama temannya. Dia kesini untuk sekedar mencari hiburan dari aktifitas kantor namun dia justru tidak sengaja melihat Rama membawa seorang gadis yang terlihat telah mabuk kedalam kamar ini.
"Sekarang lo pergi dari sini, atau lo mau, jabatan lo saat ini terancam?!" tanya Alvaro.
"Jangan tuan muda! Saya....saya pergi sekarang!" ucap Rama.
Rama masuk kedalam kamar mengambil celana dan kemejanya lalu membawanya keluar tanpa mengenakannya lebih dulu. Rama walaupun usianya masih sekitar tiga puluh tahun, namun pekerjaannya dalam perusahaan terbilang cukup bagus. Zanu bahkan selalu memuji pekerjaan Rama dan meminta Alvaro bisa mencontoh keahlian Rama.
Ketika Alvaro hendak pergi, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"T....to..tolong...."
Alvaro menoleh. Menatap ke arah tempat tidur dimana seorang gadis terlihat gelisah.
"Sial!!! Pasti dia memasukkan obat perangsa** kedalam minuman gadis malang itu!" ucap Alvaro.
Alvaro mendekat ke arah ranjang. Ketika dirinya tahu siapa gadis itu, matanya langsung membelalak terkejut.
"Naru?!!!" syok Alvaro.
"Kakk....to...longg....akhhh....." ucap Naruka disertai desah**.
__ADS_1
Nafs* Naruka semakin tinggi membuat tubuhnya berkeringat dingin. Dia juga semakin merasa gelisah dan bagian inti tubuhnya yang terasa sangat gatal. Alvaro menelan salivanya sendiri karena saat ini bagian atas Naruka terbuka membuat Alvaro bisa melihat dengan jelas dada berisi gadis itu. Berulang kali Alvaro menelan salivanya, namun dia langsung menggelengkan kepalanya.
"Sadar Varo!!! Dia itu sepupunya Hyuna!!!! Lo nggak boleh sentuh dia!!!" ucap Alvaro memperingati dirinya.
Naruka justru bangun dari tidurnya dan langsung memeluk Alvaro dan langsung membangunkan bagian inti Alvaro.
"Kaa..." ucap Naruka dengan bibir bergetar menahan nafsunya.
Alvaro gelap mata. Fokusnya terlalih pada bibir merekah itu. Dia ingin mencium bibi* itu, **********, dan buah dad* itu. Alvaro ingin meremasnya sekarang juga.
Cup....
Naruka menempelkan bibirnya ke bibir Alvaro. Dalam pengaruh obat ditambah efek minuman alkohol tadi membuat Naruka tidak bisa berpikir jernih. Yang dia butuhkan sekarang adalah kepuasan nafs*nya. Dan Alvaro yang ada disana pun menjadi sasaran nafs* Naruka. Naruka tidak perduli lagi pada siapa dia berciuman. Naruka kalah dari nafsunya.
Alvaro terkejut dengan keberanian Naruka. Entah Naruka sadar atau tidak bahwa yang saat ini dia cium adalah dirinya. Namun bagian inti Alvaro semakin mengeras membuatnya semakin sesak didalam sangkarnya meminta untuk segera dibebaskan.
Ciuma* yang diberikan Naruka berubah menjadi lumata* dan semakin lama semakin liar dan penuh nafs*. Alvaro sudah tidak perduli lagi bahwa dia tengah berciuma* dengan Naruka. Dimatanya sekarang, Naruka adalah wanita dewasa yang haus akan belaian. Alvaro mendorong tubuh Naruka dengan kuat sampai Naruka terjatuh telentan* di atas ranjang. Tatapannya yang sayu semakin menambah nafsu birah* Alvaro.
Alvaro berjalan menuju pintu kamar lalu menutupnya. Tidak lupa juga dia mengunci pintu itu lalu menatap kearah Naruka yang saat ini tengah meremas payudar* nya sendiri. Alvaro mendekat, lalu menyentuhkan tangannya di dad* Naruka yang seketika membuat Naruka mengeran*.
"A...aku....ti...dak...tahan...akhhh.." erang Naruka.
Naruka menarik tangan Alvaro sehingga membuat Alvaro jatuh dan menindi* tubuh Naruka. Naruka membalik tubuh Alvaro hingga sekarang posisinya berbalik menjadi Naruka yang menindi* tubuh Alvaro.
"Naru, apa yang kau lakukan...." panik Alvaro.
"Akh...Naru...." erang Alvaro.
"Sudah cukupp!!!!" teriak Alvaro yang langsung membalik tubuh Naruka sehingga dia kembali menindi* tubuh Naruka.
"Lo yang mancing gue Naru! Gue laki-laki normal yang akan tergoda dengan tubu* **** lo!" ucap Alvaro.
Alvaro mendaratkan bibi* hangatnya ke bibi* Naruka, meluma*nya dan menggigi* kecil bibir Naruka. Naruka juga melakukan hal yang sama hingga sampai beberapa menit mereka saling meluma* sampai akhirnya lumayan Alvaro turun ke leher jenjang Naruka. Naruka mendesa* menikmati ciuman Alvaro dilehernya lalu turun di dad*nya dan bermain cukup lama disana.
"Siap-siap, Naru!!! Gue akan buat lo merasakan kenikmatan yang lo tunggu-tunggu!!" bisik Alvaro.
Alvaro melepaskan seluruh bajunya juga baju Naruka hingga kini keduanya telanjan* bulat. Setelah melakukan pemanasan, Alvaro memposisikan pusakanya tepat didepan goa milik Naruka.
"Akh....sa...kit!!!!" teriak Naruka saat Alvaro berhasil menembus inti tubuhnya.
Alvaro menghentikan aktivitasnya sebentar lalu bermain dengan dad* Naruka sampai Naruka kembali rileks kemudian Alvaro memulai memompa tubuhnya.
Penyatuan itu berlangsung cukup lama sampai keduanya benar-benar kelelahan. Alvaro tanpa sadar tertidur di samping Naruka dengan posisi inti tubuh mereka masih menyatu. Selama penyatuan tadi, Alvaro mengeluarkan laharnya didalam tubuh Naruka dengan sangat banyak. Terhitung Alvaro telah mencapai empat kali puncak kenikmatannya dan semuanya dikeluarkan didalam tubuh Naruka.
**********
Pagi harinya, Naruka mengerjakan mata. Kepalanya pusing dan tubuhnya terasa sakit semua. Naruka masih belum sadar bahwa dia dan Alvaro baru saja melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan.
"Akh...." Naruka meringis kesakitan di bagian inti tubuhnya.
__ADS_1
Naruka syok saat melihat ke arah sampingnya. Alvaro?! Kenapa dia bisa ada disini bersama Alvaro?! Dan bajunya?! dimana bajunya?! Kenapa dia bisa telanjan* seperti ini?! Pikir Naruka.
Karena merasa ada pergerakan, Alvaro pun membuka matanya.
"Lo udah bangun?!!" tanya Alvaro langsung terduduk.
"Kak...ki...kita..." terhenti.
"Ya!" jawab Alvaro singkat seolah mengerti apa yang ingin Naruka katakan.
Seketika air mata Naruka jatuh ke pipinya. Walaupun selama ini dia sering having se* namun itu hanya sebatas menggunakan tangan dan bibir Naruka. Dia menjaga kesuciannya selama ini, sampai detik ini, Alvaro merenggut hal yang dia jaga dalam waktu beberapa jam saja.
"Kak, kok lo tega sih sama gue?! Lo kok bisa-bisanya nyentuh gue?! Gue udah kayak adik lo sendiri!!!" ucap Naruka terisak.
Hancur. Itulah yang menggambarkan Naruka saat ini.
"Lo yang mancing gue, Naru! Lo pikir gue yang laki-laki normal ini liat gadis telanjan* dada didepan gue terus rayu-rayu gue, gimana gue nggak terpancing?! Lagian lo ngapain ada di tempat kayak gini sampai-sampai lo ketemu sama Rama?! Asal lo tau, dia yang udah bikin lo minum minuman yang dicampur obat perangsan* tau nggak!! Jadi jangan salahin gue!!!" ucap Alvaro.
Rama. Ya, Naruka ingat semalam dia berkenalan dengan seorang pria bernama Rama. Naruka mengutuk dirinya sendiri karena dengan bodohnya dia menerima minuman dari pria asing.
"Ini!" ucap Alvaro memberi Naruka sebuah kartu.
"Apa ini?!" tanya Naruka.
"Didalam kartu itu ada yang sebesar lima miliar. Itu tabungan pribadi gue sendiri. Anggap aja kejadian ini nggak pernah terjadi!" ucap Alvaro dengan entengnya.
Plak!!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Alvaro.
"BAJINGA* LO KAK!!!!" teriak Naruka.
"Lo kira gue apaan?! Pelacu*?! Setelah lo puas dengan tubuh gue terus lo bayar gue gitu?!!! Ambil uang lo gue nggak butuh!!!" ucap Naruka emosi lalu melemparkan kartu itu ke arah Alvaro.
Naruka turun dari ranjang, melilitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya lalu memungut pakaiannya yang berserakan di lantai. Sambil menahan perih di bagian intinya, Naruka berjalan menuju kamar mandi. Alvaro bingung dengan sikap Naruka barusan. Harusnya Naruka senang karena setidaknya dia bertanggungjawab dengan memberinya uang, namun Naruka justru marah padanya.
Mengalihkan pandangannya dari pintu kamar mandi yang tertutup, fokus Alvaro teralihkan kala melihat bercak darah yang telah mengering diatas ranjang.
"Dia masih perawa*?! Varo, apa yang udah lo lakuin?!" lirih Alvaro.
Alvaro tampak cemas, karena dia baru sadar bahwa saat pelepasan tadi dia mengeluarkannya didalam. Alvaro takut kalau sampai Naruka hamil.
"Tapi masa iya sekali main langsung jadi?!" lirih Alvaro.
"Ah, nggak mungkin lah!!" gumam Alvaro menepis kemungkinan buruk dari otaknya.
Alvaro berjalan memungut pakaiannya lalu mengenakannya tanpa bersih-bersih terlebih dahulu. Tidak lupa sebelum meninggalkan kamar, Alvaro meletakkan kartu yang tadi dia berikan pada Naruka diatas laci kamar.
"Gue harap setelah ini kita nggak ketemu lagi, Naru!" gumam Alvaro setelah meninggalkan kamar.
__ADS_1