
Beberapa karyawan mulai berdatangan. Teman-teman Daniar yang satu bagian dengannya juga mulai datang.
"Oh masuk juga kamu ternyata? aku pikir setelah hampir tiga minggu nggak masuk kantor kamu bakal keluar, atau bakal dikeluarin, hahahaha!" sindir seniornya di bagian itu.
"Maaf ya kak, tapi saya rasa nggak ada hal apapun yang mengharuskan saya keluar dari kantor ini, ataupun dikeluarkan. Lagipula saya sudah ijin kok dan memang keadaannya mendesak sekali!" balas Daniar.
Daniar pun memilih melanjutkan tugasnya tanpa melihat ekspresi seniornya yang menahan amarah padanya.
Dasar anak baru songong! liat aja apa yang bakal gue lakuin ke lo!! batin senior itu.
Senior itu bernama Wanda. Dia sudah bekerja di perusahaan Sanjaya selama hampir lima tahun. Kinerjanya juga bagus, oleh karena itu dia diangkat menjadi kepala bagian ditempat Daniar. Meskipun dia cantik tapi dia sangat sombong dan bahkan tidak jarang juga dia menyusahkan anak-anak baru dibagiannya dengan dalih dia ketua disana dan seniornya disana.
Banyak karyawan yang tidak menyukainya tapi karena posisinya tidak ada yang berani menyentuhnya. Terlebih pacar Wanda salah satu investor disini. Banyak yang bilang Wanda itu seorang pelakor, karena pacarnya lebih tua darinya. Yahh, kayak Daddy Sugar gitulah.
Senior Wanda mengepalkan tangannya menahan amarah karena kekurangajaran Daniar padanya. Seorang wanita menghampirinya dan berbisik kepadanya, sepertinya wanita itu kaki tangan senior Wanda.
"Senior, jangan bikin ulah dengan anak baru itu! senior lupa, dia kan sahabat istri tuan muda!" bisik wanita itu.
Senior Wanda menganggukkan kepalanya mengerti mengingat pernah ada dua orang karyawan yang dipecat akibat berurusan dengan istri tuan muda mereka, Darel.
"Hemm, kau benar juga! aku akan beri dia pelajaran nanti!" ucap senior Wanda.
Senior Wanda pun meninggalkan tempat itu menuju ruangannya yang hanya dibatasi sekat kaca sehingga baik dia maupun karyawan lain bisa melihat satu sama lain.
"Eh, Daniar kamu tuh hebat banget sih bisa membungkam mulut senior Wanda!" puji Icha rekan kerja Daniar.
"Iya ihh, tapi kamu harus lebih hati-hati sama senior Wanda soalnya dia paling benci ditentang kayak yang kamu lakuin barusan!" timpal Rasya yang juga rekan kerja Daniar.
Icha dan Rasya berteman baik dengan Daniar. Dari waktu Daniar pertama kali masuk kerja, mereka berdualah yang membantu Daniar hingga Daniar bisa sehebat sekarang. Mereka juga terlihat sangat akrab. Terlihat dari cara mereka memberi semangat satu sama lain, dan membantu yang lain jika ada kesulitan.
"Aku tahu bagaimana watak senior Wanda. Kalian lupa waktu pertama kali aku masuk kerja dan dia menyuruhku membuat dokumen yang buanyakk bangett??" ucap Daniar geram mengingat bagaimana senior Wanda mengerjai dirinya sewaktu pertama bekerja.
__ADS_1
"Ya sudahlah, kamu lanjutin dulu aja pekerjaan kamu, lagian tugas kamu udah menumpuk tuh hampir tiga minggu ditinggal! eh btw kemarin kamu kemana aja, kok nggak masuk kerja sampai lama banget gitu?" ucap Icha mulai kepo.
"Cha, udah dong jangan ditanya terus. Kasian Daniar nanti malah nggak selesai-selesai pekerjaannya. Nanti aja waktu makan siang kita tanya dia!" ucap Rasya.
"Emm, ya udahlah!!" ucap Icha.
Daniar hanya tersenyum mendengarkan perdebatan rekan kerjanya itu sembari melanjutkan pekerjaannya.
Duh jadi kangen Zanu deh kalau gini. Ngomong-ngomong dia lagi apa yaa??? batin Daniar sembari memikirkan Zanu.
Disisi lain, Mentari yang sudah bangun pagi itu melihat bahwa Darel sudah tidak ada di dalam kamar.
Apa dia tidur dikamar lain ya? batin Mentari.
Mentari pun memilih untuk mandi dan menuju dapur membuatkan sarapan. Para pelayan sudah melarangnya untuk tidak memasak, namun karena desakan Mentari pelayan pun tidak berani membantah.
Pukul 07.30 sarapan sudah tersusun diatas meja makan. Papa, mama, Rangga, Randita, Juna, dan Arya juga mulai berdatangan untuk sarapan pagi. Semua orang sudah berada di meja makan saat ini kecuali Darel. Mentari terlihat celingukan menanti kehadiran Darel.
"Mentari, kenapa kau tidak makan?" tanya tuan Ardi.
"Kak Darel tidak akan pulang kakak ipar, dia kan lagi ada urusan bisnis diluar kota!" ucap Juna spontan.
Mentari terkejut mendengar ucapan adik iparnya itu, bagaimana bisa Darel pergi tanpa mengatakan apapun padanya terlebih dulu?
"Sudahlah Mentari, mungkin baru 2-3 hari lagi baru Darel pulang. Mungkin karena urusannya mendadak jadi Darel tidak sempat memberitahumu!" ucap nyonya Ardi berusaha Menghibur.
"Emm, iya ma!" jawab Mentari singkat.
Terlihat jelas raut wajahnya yang kecewa saat ini. Dia istrinya Darel, tapi dia bahkan tidak berhak mengetahui apapun tentang Darel. Apakah seperti ini yang dinamakan pernikahan? dengan tidak melibatkan satu sama lain dalam segala hal? bahkan Mentari tidak pantas mengetahui dimana Darel sekarang, atau bahkan hanya sekedar pamit saja tidak.
Apa aku memang tidak penting dihidupnya? lalu kenapa dia bersikap seolah-olah menginginkan pernikahan ini? apa dia hanya bersandiwara? jika iya, apa mungkin dia mau menggendongku sejauh itu? bersikap sebaik itu ketika didesa? apa ini semua hanya sandiwaranya saja? batin Mentari.
__ADS_1
Mentari sudah tidak ***** makan saat ini, dia bahkan tidak menyentuh makanannya dan langsung pamit meninggalkan meja makan. Semua orang melihat kepergian Mentari dengan rasa kasihan.
Darel kau benar-benar keterlaluan! batin mereka.
Sesampainya dikamar, Mentari langsung merebahkan tubuhnya diranjang. Setetes air mata jatuh ke pipinya, dadanya mulai sesak, tenggorokannya terasa tercekal. kenapa Darel melakukan ini semua padanya? pikir Mentari saat itu. Guling yang berada disekitarnya juga ikut menjadi sasaran. Mentari memukul-mukul guling itu untuk meluapkan kekesalannya.
"Kau jahat Darel, kau jahatt ..hikss...hiksss.....hisss..." ucap Mentari disela tangisnya.
Disisi lain, sebenarnya Darel bukan pergi karena urusan perusahaan melainkan karena laporan dari salah satu anak buahnya jika anak pak kades telah diculik. Dengan segera setelah mendapat informasi itu, Darel beserta yang lain bergegas menuju desa itu dengan seluruh anak buahnya lengkap dengan persenjataannya.
"Apa kau sudah memberitahukannya pada Mentari?" tanya Zanu.
Saat ini Tomi, Jack, Darel dan Zanu berada dalam satu mobil. Bagaimana pun Darel dan Zanu masih bersahabat dan Zanu tentu saja mengkhawatirkan hubungan pernikahan sahabatnya itu. Zanu tahun kalau sekarang Darel mulai menyukai Mentari terbukti dari cerita Darel kemarin disaat kecelakaan pesawat.
"Iya man, kau sudah memberitahukannya pada kakak ipar?" timpal Tomi.
"Hei berhenti memanggilnya kakak ipar!!! dia bukan kakak iparmu!" bentak Darel.
Reaksi Darel tentu saja mengundang gelak tawa Zanu, Tomi dan Jack.
"Pak Salju ternyata bisa marah juga ya kalau istrinya dipanggil kakak ipar oleh sahabatnya, hahaha!" gelak Jack.
Seketika tatapan maut menatap kearah Jack dan membuat Jack langsung terbungkam.
"Tunggu dulu, jangan-jangan kau juga tidak memberitahu Mentari jika kita pergi menyelamatkan desa?" ucap Arul yang paham betul seperti apa sifat dan pemikiran Darel.
Darel terdiam sejenak, sedangkan yang lain sudah mengamatinya menebak apakah pertanyaan Zanu tadi benar atau tidak.
"Aku.....tidak... mengatakannya!" ucap Darel ragu.
"Apa? kenapa? dia istrimu, dia berhak tau dimana dan bagaimana kau saat ini, ahhh kau ini!!" ucap Tomi sedikit frustasi dengan jawaban Darel.
__ADS_1
"Aku tidak ingin dia dalam bahaya, dan aku yakin benar jika aku memberitahu Mentari kalau aku akan pergi menyelamatkan anak pak kades dia pasti akan merengek minta ikut membantu. Dan aku tidak ingin dia kenapa-kenapa." ucap Darel.
Ketika mengatakan itu terlihat jelas aura kekhawatiran diwajah Darel. Benar dia sedang jatuh cinta batin semua orang saat itu.