
Nyonya Ardi melihat kedatangan anak dan menantunya itu langsung melepaskan pelukannya dari Randita. Juna dengan sigap langsung merentangkan tangannya memeluk sang mama.
"Kalian sudah datang? Darel mana? kok tidak sama kalian?" ucap nyonya Ardi.
"Ma, kak Darel dan kakak ipar kan....." terpotong.
Randita memberi kode kepada adik bungsunya itu untuk tidak membicarakan masalah Darel dan Mentari didepan mamanya.
"Ma, kami kesini mau menengok mama saja kok, mama udah makan?" tanya Rangga yang mengerti isyarat sang istri.
"Mama nggak mau makan, mama maunya Darel dan Mentari!" ucap nyonya Ardi.
"Ma, jangan gitu dong, Juna suapin ya?" bujuk Juna.
Juna mengambil mangkuk yang dipegang Randita dan mulai menyuapi mamanya. Nyonya Ardi pun mulai memakan makanan itu hingga pada suapan ke lima dia berhenti memakan makanan itu. Juna dan yang lain berusaha membujuk agar nyonya Ardi memakan habis makanannya, namun tidak mau. Akhirnya mereka membiarkan sang mama beristirahat dan keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Diruang tamu, Juna, Rangga, dan Randita duduk sambil memikirkan nasib sial yang tengah menimpa keluarga mereka. Sebenarnya Juna dan Rangga ingin membantu mencari Darel dan Mentari, namun dilarang oleh sang papa, tuan Ardi dan disuruh menjaga sang mama.
"Apa belum ada kabar dari papa kak?" tanya Juna pada Randita.
Randita menggelengkan kepalanya. Rangga mengerti situasi ini dan segera mengelus pundak istrinya dengan lembut seolah menguatkan sang istri.
"Apa juga belum diketahui akibat dari kecelakaan ini apa?" tanya Rangga.
"Kata papa pesawat mereka sudah hancur berkeping-keping dan kecil kemungkinan Darel dan Mentari bisa selamat, namun kalian tahu papa kan? papa pasti akan terus mencari Darel dan Mentari sampai ketemu." ucap Randita mulai berkaca-kaca.
"Apa mungkin ini ada sangkut pautnya dengan musuh kak Darel? aku dengar dari Harri beberapa hari kemarin ada orang yang sengaja meracuni toko kue kakak ipar sampai pada sakit semua. Apa mungkin mereka orang yang sama?" tanya Juna.
"Yah, aku pikir kakak tau." ucap Juna menggaruk tengkuknya.
********
__ADS_1
Disisi lain, kelompok Rohan tengah beristirahat setelah beberapa hari berkeliling hutan mencari petunjuk tentang Darel dan Mentari.
"Eh, kalian lapar tidak?" ucap Rohan memecahkan keheningan.
"Tidak!" ucap Daniar dan Zanu bersamaan.
Daniar dan Zanu saling memandang untuk beberapa saat kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Emm, ya sudah aku mau cari buah-buahan dulu siapa tahu ada yang bisa dimakan! kalian tunggu sini aja!" ucap Rohan.
Rohan sebenarnya sengaja ingin meninggalkan Daniar dan Zanu berduaan agar mereka bisa menyelesaikan permasalahan mereka yang sebenarnya hanya salah paham saja.
Cukup lama tidak ada pembicaraan antara Daniar dan Zanu hingga akhirnya Daniar tidak betah dengan kediamannya Zanu ini. Dan Daniar merasa Zanu berhutang penjelasan kepadanya.
"Bukankah ada yang harus kau katakan padaku Zanu?" ucap Daniar memecah keheningan.
__ADS_1
Daniar berbicara tanpa melihat kearah Zanu sedikitpun. Menguatkan hatinya untuk mendengar apapun jawaban dari Zanu dan Daniar sudah siap akan kemungkinan terburuk yang akan terjadi nantinya.
"Apa?" tanya Zanu seolah tidak mengerti yang dimaksud Daniar.