
# MENTARI POV #
Aku sudah mengemasi semua pakaianku ke dalam koper bersiap untuk pergi. Kemana tujuan ku untuk menghindar? jujur saja aku belum tahu. Akan aku pikirkan nanti. Aku keluar kamar dengan menyeret koperku. Terlihat mama dan papa juga Niar duduk disofa.
"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya mama yang langsung berdiri menghampiri ku.
Sedari perjalanan pulang dari rumah Darel, mama dan papa terus mengatakan agar aku berpikir kembali dengan keputusanku, kecuali Niar. Niar terlihat mendukung keputusanku untuk pergi jauh dari Darel. Tak terlihat keraguannya pada keputusanku diwajahnya walau secuil saja.
"Iya, ma! aku sudah memikirkannya matang-matang!" jawabku mantap seolah menyakinkan mereka bahwa aku akan baik-baik saja diluar sana. Sendirian.
"Tapi...tapi..."
"Sudahlah ma, kita hanya bisa mendukungnya! papa harap kamu baik-baik saja dimana pun kamu berada, Tari! jangan lupa hubungi kami jika kamu butuh bantuan kami! kami ini masih orang tuanmu, nak!" ucap papa yang selalu menyentuh hatiku.
Ah, bagaimana bisa aku bertemu keluarga sebaik mereka? orang asing yang mereka tampung dan anggap seperti keluarganya sendiri. Bahkan mereka sudi mengasingkan putra sulung mereka hanya untuk membelaku. Mama, papa, terimakasih atas segalanya! maaf karena aku selalu merepotkan kalian.
"Ma, pa, Niar, aku pergi dulu! sampai jumpa!" ucapku dengan lembut berpamitan kepada keluarga kedua ku.
Mereka hanya mengangguk pasrah seraya memelukku satu persatu. Aku mulai melangkahkan kaki keluar dari rumah ini. Didepan sudah ada taxi yang aku pesan tadi. Pak sopir yang melihat kedatanganku langsung sigap membawakan koperku menuju bagasi. Untuk terakhir kalinya aku berpamitan kepada mama, papa, dan juga Niar. Terlihat kekhawatiran dimata mama dan papa namun ini sudah menjadi keputusanku. Pergi. Jauh dari kota ini. Kenangan ini. Juga Darel.
Taxi mulai melaju meninggalkan rumah Daniar. Untuk sekian detik air mataku jatuh begitu saja. Tidak rela rasanya meninggalkan mereka. Andai Darel jujur padaku. Tidak akan seperti ini jadinya. Yah, aku terlampau kecewa pada suamiku lantaran dia menyembunyikan hal yang besar dariku. Sebagai seorang istri aku berhak tahu dari hal kecil sampai hal besar darinya. Tentang dia yang seorang mafia pun aku baru tahu saat diculik oleh kelompok Drago Mark.
Sesaat aku tersadar dari lamunanku saat mengingat rumah lamaku.
"Pak, bisa kita putar arah ke jalan mawar?" tanyaku.
"Baik, non!" ucap pak sopir.
Taxi pun berputar arah menuju rumah lama ku. Tidak butuh waktu lama kami pun sampai dirumahku. Ku hirup nafas dalam-dalam lalu aku hembuskan dengan kasar. Hahhhh, suasananya masih seperti dulu.
"Ini non, kopernya!" ucap pak supir menurunkan koperku.
"Terimakasih pak!" ucap ku.
Mobil taxi itu kemudian keluar dari pekarangan rumah lama ku. Sebentar. Kok ada bendera kuning di samping rumahku? ya Tuhan, itu rumah Bu Uus? apakah beliau yang meninggal?
Aku berjalan cepat menuju rumah bu Uus. Sesampainya disana banyak pelayat yang hadir memenuhi ruangan yang ditengahnya ada seorang jenazah.
"Loh, mbak Tari? kapan pulang?" tanya Ririn yang juga tetanggaku dulu.
"Barusan. Rin...itu..." ucapku ragu menunjuk ke arah jenazah yang tertutup kain jarik.
__ADS_1
"Itu bu Uus mbak." ucap Ririn pelan seolah mengerti maksud pertanyaanku.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun! kok bisa? kapan meninggalnya?" tanyaku syok.
Selama ini beliau orang yang sangat baik padaku.
"Tadi pagi kak, jam setengah satu dini hari. Meninggalnya juga tiba-tiba. Padahal baru semalam dibawa kerumah sakit karena mengeluh masuk angin eh malah pagi ini sudah tidak ada. Memang ya, umur itu tidak ada yang tahu!" ucap Ririn.
Aku dan Ririn pun ikut duduk membaca tahlil untuk almarhum bu Uus. Masih tidak percaya rasanya beliau meninggal secepat ini.
Malam harinya, Aku yang sudah puas temu kangen dengan rumah lamaku membawa koper ke depan rumah. Aku sudah memesan taxi online dari aplikasi hijau. Tidak lama berselang ada panggilan dari pemilik taxi yang aku pesan.
"Hallo, dengan nona Mentari?"
"Iya, pak! ini sudah saya tunggu didepan rumah!" ucapku.
"Maaf, non! kayaknya nggak bisa masuk soalnya jalannya ditutup hanya boleh pengendara motor yang lewat. Mungkin ada hajatan."
Ah, kenapa aku bisa lupa. Tadi pagi saat aku datang memang di jalan hendak menuju jalan raya ada ramai orang tengah memasang tenda hajatan. Duhh, kenapa bisa pelupa begini sih.
"Ah, iya pak, maaf ya saya lupa! saya saja yang kesana! tunggu sebentar pak!" ucapku membawa koper menuju jalan raya.
"Oh baik, non!" ucap pak sopir lalu panggilan pun terputus.
Tin....tin....tin....tin....
Aku menoleh ke sumber suara. Sebuah cahaya terang menyorot ke mataku hingga reflek aku langsung menutup kedua mataku dengan satu lengan.
BRUKKKK.....
Aku terpental cukup jauh ke depan. Tubuhku mulai melemas. Kesadaranku mulai hilang. Terlihat beberapa orang yang lalu lalang datang berbondong-bondong menghampiriku.
Samar-samar aku mendengar seseorang memanggil-manggil namaku. Namun terlambat. Kesadaranku sudah hilang sepenuhnya.
# AUTHOR POV #
Mentari pingsan setelah ditabrak oleh mobil yang melintas saat hendak menyebrang. Pemilik mobil itu langsung membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan.
"Dokter!!!! dokter!!!!" teriak pemilik mobil.
"Ada apa ini? apa yang terjadi?" tanya seorang dokter yang tengah berjaga malam itu.
__ADS_1
"Dia tidak sengaja tertabrak mobil saya!" ucap pria yang tinggi dan tampan itu.
"Baiklah, bawa dia keruang UGD!" ucap dokter memberi perintah kepada perawat.
Mereka mendorong brangkar menuju ruang UGD. Didalam sana, Mentari mendapat penanganan medis. Pria yang tidak sengaja menabrak Mentari itu terlihat mondar-mandir didepan pintu ruangan. Harap-harap cemas dengan keadaan Mentari.
Tidak lama berselang, dokter tadi keluar dari ruangan. Sontak saja pria itu berlari mendekat kearah dokter.
"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya pria itu.
"Alhamdulillah dia baik-baik saja. Hanya ada luka ringan di kepala, siku dan di kakinya. Saya sudah membuatkan resep untuk memulihkan lukanya ya mohon ditebus diapotek." jelas dokter itu.
"Ohh syukurlah! terimakasi, Tuhan! baik saya akan tebus nanti dok! boleh saya lihat kedalam dulu?" tanya pria itu.
"Oh silahkan!" ucap dokter itu kemudian berlalu pergi.
Pria itu langsung memasuki ruangan Mentari dan betapa terkejutnya Mentari saat melihat pria yang ada dihadapannya ini.
"Kak....kak Candra?" tanya Mentari.
********
Malam itu terasa sangat kalut bagi Darel. Darel memilih menghabiskan malamnya di bar Arul ditemani sahabatnya yang lain. Alkohol terus saja dia teguk untuk meredakan kekalutan di hatinya. Kacau. Sangat kacau perasaannya sekarang ini.
"Rel?!" panggil Rohan prihatin.
"Kenapaaa dia tegaaa meninggalkan akuuu?!!! lihat aku sekaranggg....aku kacauu tanpa diaaa...hikss...hiksss....dimana tariku sekaranggg!!!" racau Darel yang sudah mabuk berat.
"Sudah Dwi! hentikan itu! hentikan!" ucap Zanu mengambil botol alkohol dari tangan Darel namun hendak direbut kembali oleh Darel.
"Bawa saja dia keatas. Dia sudah hilang akal karena ditinggal Mentari!" ucap Arul sembari meneguk alkohol.
"Ide yang bagus!" ucap Zanu.
Zanu mulai membopong Darel. Karena Darel sedang dalam pengaruh alkohol, Darel terus meracau tentang Mentari dan kesedihannya.
"Kau kalau lagi nggak sadar gini tuh menyusahkan saja dari dulu! mana tambah berat lagi!" ucap Zanu yang kelelahan membawa tubuh Darel.
Melihat Zanu yang kesusahan, Arul, Tomi, Bagas, dan Rohan ikut membantu. Mereka mengeluarkan seluruh tenaga mereka namun masih belum cukup kuat mengangkat tubuh Darel.
"Hah...hah..hah!!! sumpah ya ni orang dikasih makan apa sih sama Mentari?! berat banget anj*r!!" keluh Arul saat sudah sampai di kamar Darel dalam bar Arul.
__ADS_1
"Tauk tuh! makan batu kali!!! makanya berat banget!" omel Tomi.
Mereka semua terlihat ngos-ngosan membawa tubuh Darel. Karena saking lelahnya, mereka memutuskan untuk tidur di ruangan itu di tempat masing-masing.