Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 275


__ADS_3

Angel tiba disebuah rumah. Rumah yang tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil. mobil merah milik Angel memasuki pekarangan rumah itu.


"Angel? kamu sudah selesai?" tanya Vian.


Ya, itu adalah rumah peninggalan nenek mereka. Ayah dan ibu Angel sudah berpisah dari saat Angel berumur tujuh belas tahun. Angel ikut ibunya sedangkan Vian ikut ayahnya. Rumah yang Angel katakan tidak pernah menjadi rumah. Baginya, rumahnya adalah sebelum kedua orang tuanya berpisah. Sedangkan rumah yang setiap hari dia huni bersama ibu dan ayah tirinya adalah tempat untuk bersinggah saja.


"Kak!" lirih Angel.


"Kakak tau! maafkan ayah ya?!" ucap Vian.


Dia kesal dengan sang ayah tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tiga hari lagi yaa?!" lirih Angel lagi.


Isak tangis terdengar oleh Vian. Dia tahu kalau adiknya ini tengah menangis dengan posisi menunduk agar tidak ada yang melihat air matanya yang keluar. Angel dan Vian hanya korban keegoisan orang tua mereka. Mereka juga berhak bahagia. Namun rasanya kata itu sangat jauh dari mereka berdua.


"Sepertinya Tuhan sangat sayang pada kita ya kak? sampai-sampai ujiannya datang dengan bertubi-tubi seperti ini!" ucap Angel masih dengan suara serak khas orang habis menangis.


"Sabar ya, kita lalui semuanya sama-sama! Kaka yakin kita juga akan mendapatkan kebahagiaan kita!" ucap Vian mengusap lembut pucuk rambut Angel.


"Hai gadis manis!!" sapa seorang pria berumur kurang lebih enam puluh tahun.


Angel yang terkejut langsung berdiri menghadap pria itu sedangkan Vian menarik lengan adiknya agar berdiri dibelakangnya. Pria itu datang bersama tiga orang anak buahnya. Warna baju yang dia pakai penuh warna membuatnya terlihat kuno sekali. Lehernya dipenuhi oleh kalung mas besar dan banyak. Tangan kanan dan kirinya juga memakai gelang mas yang sangat banyak. begitu pula jari tangannya, setiap jari memakai satu buah cincin akik yang juga sangat besar.


"Mau apa kalian kemari?" tanya Vian merentangkan tangannya melindungi adiknya.


"Sabar dong calon kakak ipar ku yang ganteng!! aku kesini kan cuma mau ngapel sama calon istriku!" ucap pria itu dengan genitnya menatap ke arah Angel yang berdiri di belakang Vian.


"Kami tidak butuh kau, cepat pergi dari rumahku!!" usir Vian.


"Eittss! jangan marah-marah dong kakak ipar ku, atau kau mau ayahmu aku penjarakan sekaligus kau harus membayar hutangnya hari ini juga?? hemm?" ancam pria itu.


Vian diam saja. Hutang yang ayahnya lakukan kepada pria ini sangat banyak. Dia tidak sanggup membayarnya hari ini meskipun dia mengutang sekalipun.


Tuan Rusdi, salah satu lintah darat yang terkenal di lingkungan tempat tinggal Vian dan Angel. Dia terkenal biaa meminjamkan uang dengan cepat namun dengan bunga pinjaman yang terbilang besar. Entah mendapat bisikan setan darimana ayah mereka bisa sampai berhutang kepada pria seperti tuan Rusdi ini.

__ADS_1


"Nah, diam kan? makanya jangan melawan! Jok, berikan bingkisannya kepada calon istriku ini!" perintah tuan Rusdi kepada salah satu anak buahnya.


Anak buah pak Rusdi yang bernama Joko berjalan menuju Vian lalu memberikan bingkisan berwarna merah itu.


"Apa ini?" tanya Vian dengan suara yang sedikit meninggi.


"Baju pernikahan! pernikahannya aku Majukan hingga besok malam. Jadi pakai gaun itu saat ijab qobul besok." ucap tuan Rusdi.


Vian dan Angel sama-sama terkejut karena tuan Rusdi memajukan tanggal pernikahan tanpa persetujuan mereka. Setidaknya Angel butuh waktu untuk bisa menata hatinya untuk menerima takdirnya selama dua hari sebelum menikah.


"Jangan lupa dandan yang cantik ya besok malam yaa cantikk!!" ucap tuan Rusdi hendak menoel dagu Angel namun Angel segera memalingkan wajahnya.


"Tidak apa! tunggu saja kau besok malam, akan aku beri pelajaran!" ucapnya.


"Ayo kita pergi dari sini!" perintah tuan Rusdi.


Mereka pun pergi dari rumah Angel. Angel menangis didalam pelukan sang kakak. Nasibnya begitu buruk hingga harus menikahi aki-aki. Bahkan dia dipaksa harus rela menjadi istri tuan Rusdi yang ke enam.


********


Sepanjang hari ini Darel disibukkan dengan ngidam istrinya yang aneh-aneh. Sejak pagi dirinya harus kesana kemari untuk memenuhi kebutuhan ngidam istrinya. Mulai dari minta mangga muda, tapi harus yang dipetik sendiri oleh Darel. Lalu mau Darel jadi tukang ojek selama setengah hari. Belum lagi Darel harus memasak makan siang buat semua pekerja yang ada dirumah.


Darel yang tidak terlalu mahir memasak pun hanya bisa menyajikan ayam goreng yang gosong di salah satu sisinya dan juga sayur asem yang sangat asem. Karena ini permintaan dari nona mereka, mereka pun hanya bisa pasrah saat memasukkan makanan itu kedalam perut mereka.


"Iya, sayang! ini kebabnya!" ucap Darel dengan keringat yang mengucur deras di wajahnya.


"Asikkk, kebabb!!!" teriak Mentari kegirangan.


Satu gigitan, dua gigitan, tiga gigitan, dan empat gigitan.


"Nah! aku udah kenyang!" ucap Mentari dengan mulut penuh kebab.


Mentari menyodorkan kebab yang baru dia makan empat gigitan itu kepada Darel. Darel mendesah kasar dengan tingkah istrinya itu.


"Sayang kok nggak dihabisin sih kebabnya? aku capek loh ngantri tadi belinya!" keluh Darel.

__ADS_1


Mentari menurunkan tangannya dengan perlahan. Air matanya mulai menggenang disudut matanya. Dia mulai menangis.


"Kamu marah yaa karena aku nggak habisin kebabnya?!!! aku banyak maunya yaaa!!!" teriak Mentari sambil menangis membuat Adi, Harri, Lukas, dan mbok Tini yang berada didekat mereka menutup telinga saking kencangnya tangisan Mentari begitu juga dengan Darel.


"Enggak kok sayang!! mana kebabnya biar aku yang habiskan yaa!! mana-mana kebabnya!!" ucap Darel meraih kebab di tangan Mentari lalu mulai memakannya.


"Enak kan?" tanya Mentari yang telah berhenti menangis.


"Enak! eeennnakkk bangett! sampek mau meninggal rasanya!" ucap Darel sambil terus mengunyah kebab yang ada di mulutnya.


"Mbok, ambilkan nasi dong! kayaknya Darel laper banget tuh!" ucap Mentari membuat Darel reflek melotot kearahnya.


"Kenapa? aku salah ngomong yaaa?" tanya Mentari kembali menangis.


"Ehh, enggak sayang!! enggak kok, kamu nggak salah!! mbokkk cepat ambilkan saya nasi!!! yang banyak yaaa!" perintah Darel.


"B....baik tuan!" ucap mbok Tini lalu berlari menuju dapur untuk mengambilkan nasi.


"Hehe, tuh udah diambilin sama mbok! udah ya nangisnya, nanti jadi jelek loh!" ucap Darel dengan niat ingin menghibur.


"Oh jadi aku jelek kalau lagi nangis? aku tuh kayak gini juga gara-gara hamil anak kamu ya!!! kamu mah enak cuma numpang benih doang!!" ucap Mentari marah.


"Alamakkkk, salah ngomong lagi akuuu!!!" teriak Darel frustasi.


"Tuan ini nasinya!!" ucap mbok Tini membawakan sepiring nasi.


"Dah mbok nggak usah!! bawa aja kembali nasinya! udah sana kalian pergi! pergi-pergi!!" usir Mentari lalu menuju depan televisi.


Darel, mbok Tini, Adi, Harri dan Lukas dengan seksama menatap ke arah Mentari. Mereka membentuk garis miring dengan mbok Tini dibagian paling belakang. Mereka melongo karena tingkah aneh Mentari selama hamil yang membuat mereka kelimpungan.


"Sabar ya tuan! baru jalan dua bulan ini! masih ada enam tujuh bulan lagi!" ucap mbok Tini lirih.


"Duhh, mending melawan musuh deh kalau tau gini daripada melayani wanita hamil!" gerutu Darel.


"Iya tuan! kami nggak punya istri aja ikutan repot juga!" timpal Hari.

__ADS_1


__ADS_2