
"Eh tuan kapan anda seperti tuan besar?" tanya anak buah Jack.
Jack yang saat itu tengah membayangkan saat-saat indah dirinya bersama wanita idamannya yang belum berjumpa langsung buyar begitu mendengar pertanyaan anak buahnya.
"Heh, diam lah kau ini! berisik sekali!!!" maki Jack.
Shiren dan Tomi melanjutkan malam pertama menjadi pacaran dengan berdansa diiringi musik romantis yang juga sudah di persiapkan Tomi sebelumnya.
"Bolehkan aku berdansa denganmu?" tanya Tomi.
"Tapi....tapi aku tidak bisa berdansa!" malu-malu.
"Tidak apa, ikuti saja gerakanku!" ucap Tomi mengulurkan tangannya.
Shiren dengan ragu menyambut lembut tangan Tomi. Tomi meletakkan tangan Shiren dipundaknya dan Tomi melingkarkan tangannya di pinggul Shiren. Langkah demi langkah, mereka pun mulai berdansa meski masih kaku.
"Aku benar-benar jatuh cinta padamu Shiren!" berbisik disamping telinga Shiren membuat Shiren bergidik ngeri.
"Jangan begitu! kau membuatku maluu!" ucap Shiren lirih sembari menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
"Hei, jangan sembunyikan wajahmu begitu!! wajah secantik ini harusnya itu diperlihatkan bukan disembunyikan!" ucap Tomi sembari mendongakkan kepala Shiren memperlihatkan wajah ayu kekasihnya.
Mereka pun melanjutkan makan malam romantis ini dengan perasaan yang bahagia terutama Tomi. Namun dihatinya ada sedikit keraguan. Sedari awal Shiren hanya mengenal dirinya sebagai pria kaya dan sahabat dari Darel Sanjaya. Tapi Shiren tidak tahu bahwa Tomi juga termasuk kedalam pemimpin mafia.
Haruskah aku mengatakan hal ini kepadanya? lalu jika dia tidak bisa menerima kebenarannya bagaimana? batin Tomi bingung.
********
Zanu baru saja mengantar Daniar pulang. Mereka tadi mampir dulu ke restoran untuk makan malam. Persahabatan Zanu dengan Darel juga sudah mulai membaik setelah Mentari membujuk Darel untuk melupakan kesalahpahaman di masalalu. Meskipun masih agak canggung, tapi hanya berbaikan dengan Darel saja sudah membuat Zanu sangat senang. Terlebih sekarang dia sudah menemukan wanita idamannya dan yang paling dia cintai, Daniar.
"Hahhh, kalau ada didekatnya rasanya aku ingin cepat-cepat menikahinya! wanita seperti Daniar tidak akan bisa aku temukan lagi di hidupku bukan?" Zanu bergumam sendiri.
Zanu kembali ke rumahnya, mandi lalu terlelap di heningnya malam yang dingin.
Beberapa minggu sudah berlalu, hari pernikahan Anisa dan Arul pun dilaksanakan.. Semua keluarga dan sahabat Arul dan Anita juga sudah mulai berdatangan menyaksikan pernikahan mereka berdua.
Semalam sudah dilangsungkan acara akad. Semua saksi sudah berkumpul pukul delapan malam. Ijab qobul pun berjalan dengan lancar. Wajah Anisa terlihat sangat cantik dan Arul terlihat sangat tampan.
"Hei, ini kado pernikahan dariku dan juga Shiren yaa! doakan kami untuk secepatnya menyusul!" celetuk Tomi membuat Shiren mencubit pinggang Tomi karena malu.
__ADS_1
"Terimakasih sobat! tentu saja kalian harus secepatnya menyusul, benarkan Darel?" menatap kearah Darel yang tengah bermesraan dengan Mentari.
"Cih dasar!! ini kan pestaku kenapa kau yang terlihat lebih romantis?!!" kesal Arul.
Melihat tangan Darel yang merangkul mesra pinggang Mentari membuat Arul iri. Tidak mau kalah, Arul pun langsung membawa Anisa ke dekatnya dan merangkulnya dari belakang.
"Hei, apa yang kau lakukan? malu tau dilihat banyak orangg!!" ucap Anisa lirih sembari berusaha melepaskan kaitan tangan Arul di perutnya.
"Tiiidakk!! aku tidak akan melepaskanmu! lagian aku ini sudah sah menjadi suamimu loo!" ucap Arul.
Darel berdecak lirih kemudian membawa Mentari ke dekat Arul dan Anisa untuk memberikan kado pernikahan mereka.
"Arul, ini hadiah dariku dan Mentari!" memberikan kado itu.
"Hei apa-apa ini? kau serius? kau memberikanku tiket ke sebuah pulau romantis untuk berbulan madu yaa??" ucap Arul senang ketika melihat isi kado dari Darel.
"Eh, enak saja! bukan cuma kalian berdua saja yang pergi! tapi kami semua ikut pergi!" ucap Tomi menyambar perkataan Arul.
"Ap...apa??? heiii, ini tidak adill!!" merengek kearah Darel.
Darel mengangkat bahunya sekejap lalu tersenyum penuh kemenangan.
"Heii, jangan panggil dia kakak ipar yaa!!! dia bukan kakak muu!" ucap Darel memperingati.
"Sayanggg!!" hendak mengadu kepada Anisa.
"Sudahlah Arul, lagian berlibur bersama kan lebih menyenangkan!" ucap Anisa tersenyum.
"Hahahaha, kasiannn!!! istrimu saja ingin kami ikut kenapa kau yang keberatann!!!" ledek Tomi.
"Sudahlah, kasihanilah sahabat kita yang baru menikah ini!!" ucap Rohan.
"Hah, kau memang sahabat sejati ku Rohann!!" memeluk Rohan.
"Sudah-sudah, ini kado untukmu!" memberikan sebuah kado.
"Arul, Anisa, ini kado dariku dan Daniar yaa!" memberikan sebuah kado.
"Hei, Zen! kapan kau dan Daniar menyusul kami? jangan sampai kalian keduluan sama Tomi yaa!" goda Arul.
__ADS_1
"Mau aku atau Tomi, atau bahkan Rohan yang lebih dulu menyusul itu sama saja bukan?" jawab Zanu.
"Eh, Rohan! apa kau belum menemukan wanita idamanmu?" tanya Tomi.
"Entahlah, aku masih belum sempat memikirkan hal lain selain pekerjaan ku." jawab Rohan.
"Emm, tuan Rohan!" panggil Daniar.
"Rohan saja! panggil aku Rohan!" ucap Rohan.
"Emm, iya Rohan! bagaimana kabar senior Wanda?" tanya Daniar ragu.
"Yah dia sudah ditangani dengan baik. Dia ditempatkan bersama para tahanan yang lain." jelas Rohan.
"Apa dia tidak menyesal?" tanya Zanu geram.
"Aku rasa dia seperti itu karena ada sebabnya. Saat ini aku tengah menyelidiki kasus kematian kedua orang tuanya yang dilakukan oleh ibu tirinya. Huftttt kasusnya cukup rumit karena tidak ada bukti yang memadai, terlebih lagi itu sudah terjadi belasan tahun dan pastinya barang bukti itu sudah hilang kan!" jelas Rohan.
"Kasus kematian?" tanya Daniar.
"Iya! tapi aku rasa dia orang yang baik, hanya saja kisah buruk dimasa lalu membuatnya menjadi seperti ini! dia hanya kehilangan arah saja!" jelas Rohan lagi.
"Woww....woww...woww...tunggu sebentar!! jangan bilang kau mulai ada rasa pada wanita itu?" selidik Tomi.
"M...mana mu...mungkin aku mencintai dia!" ucap Rohan berkilah.
"Cinta itu datang tiba-tiba Rohan, mungkin sekarang mulutmu mengatakan tidak! Tapi siapa tahu kalau hatimu yang mengatakan iya?!" ucap Arul.
"Ahh, sudahlah! inikan pernikahan Arul kenapa jadi aku yang diinterogasi sih!" mengalihkan pembicaraan.
"Ah iya benar juga! ayo-ayo kita nikmati hidangan disini! pokoknya kalian tidak boleh pulang kalau belum kenyang, hahaha!" ucap Arul.
Arul dan sahabatnya beserta pasangan masing-masing menuju meja prasmanan untuk mengambil makanan. Arul yang tengah berbahagia bisa menyanding wanita idamannya terlihat enggan jauh-jauh dari istri barunya. Pengantin baru itu terlihat sangat mesra dan penuh cinta.
Darel yang sudah lama menikah pun juga tidak mau kalah. Bak pengantin baru, Darel terus menempel kepada Mentari seolah tidak mengijinkan Mentari menjauh darinya walau hanya satu jengkal. Sedangkan Tomi, Zanu, dan terutama Rohan hanya bergumam lirih melihat pasangan suami-istri ini yang terlihat tengah pamer kemesraan dihadapan mereka yang belum menikah.
Dasar tukang pamer!! lihat saja aku akan menyusul mu secepatnya!! batin Tomi.
Melihat kemesraan Darel dan Arul membuatku ingin cepat-cepat menikahinya!! batin Zanu sembari menatap wajah Daniar disampingnya.
__ADS_1