
Wanda mulai menitihkan air matanya membuat Rohan membuang mukanya dengan kesal.
"Daniar sudah berbaik hati memperhatikan dirimu tentang kebusukan Broto. Bukannya berterimakasih dan menjauhi Broto, kau justru malah mendukung Broto menculik Daniar!!! kau ini perempuan bukan sih??? kalau perempuan kenapa sekejam itu ke sesama perempuan!!!" mulai emosi.
Abu yang melihat atasannya naik pitam itu tidak berani mendekat atau dia yang akan menjadi sasarannya nanti.
"A....aku....aku....aku pikir....Daniar mengatakan itu karena dia tidak suka padaku....tidak suka melihatku bahagia...jadi....jadi...aku tidak mendengarkan peringatannya...!!!" mulai menangis.
"KEBAHAGIAAN?" berteriak sembari menekan kata itu.
"Mana ada wanita yang mau menjadi simpanan suami orang? mana ada wanita yang tega merusak rumah tangga wanita lain? mana ada wanita yang mau merusak kebahagiaan wanita lain demi kepuasan dirinya sendiri? mana ada wanita yang berhati iblis sepertimu!!??? iblis saja enggan mendekatimu apalagi pria baik-baik!!!!" meluapkan semua kekesalannya.
Rohan kesal seperti ini bukan tanpa sebab. Dia merasa gagal melindungi Daniar akibat penculikan yang dilakukan Broto kemarin. Meskipun mereka akhirnya bisa menyelematkan Daniar tepat waktu, namun rasa bersalah itu tetap menggerogoti pikiran Rohan.
Bagaimana jika mereka tidak datang tepat waktu, apa yang akan terjadi dengan Daniar? apa yang akan Rohan katakan kepada Zanu jika Daniar tidak bisa dibebaskan tepat pada waktunya? bagaimana Rohan bisa menatap wajah suram Zanu saat kehilangan Daniar akibat dari rencananya yang gagal? pertanyaan-pertanyaan itu terus menerus ada dipikiran Rohan hingga dia merasa gagal sebagai seorang polisi yang profesional.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan Rohan tadi membuat Wanda berdiri dan menatap lekat pria dengan seragam dan lencana yang memenuhi pakaiannya.
"Aku juga tidak ingin seperti inii!!! masa kecilku dihabiskan dengan air mata dan penuh dengan kesengsaraan. Jika ayahku tidak menikah lagi dengan wanita berbisa itu tentu aku tidak akan tumbuh liar seperti ini!! dimana kalian para penegak hukum??? dimana mata kalian ketika seorang gadis cilik dengan penuh luka datang meminta keadilan kepada kalian...dimanaaa???" Wanda mulai mengenang masa buruknya.
Kisah kelam yang dialami Wanda, hingga membuatnya tidak bisa mempercayai siapapun bahkan dia juga berniat menghancurkan rumah tangga wanita lain agar mereka bisa merasakan kesedihan dan luka yang Wanda rasakan dulu.
"Maksudmu?" tidak mengerti.
"Dulu aku pernah datang kesini! rumahku tidak jauh dari sini. Aku datang sendiri, gadis cilik dengan pakaian yang compang-camping, tubuh penuh memar, air mataku bahkan terus mengalir ke pipi." Wanda terduduk kembali ke kursinya, mulai menceritakan kisah kelam hidupnya semasa kecil.
__ADS_1
Tenggorokannya mulai tercekal, nafasnya mulai berat, air matanya tidak kuasa mengalir deras dipipinya meskipun berulang kali dia menyekanya.
"Seorang polisi datang menanyaiku dimana orang tuamu? tapi aku tidak datang untuk itu, aku datang untuk meminta perlindungan atas diriku dari ibu tiriku." menyeka kembali air matanya.
Rohan dan Abu terdiam mendengarkan penuturan Wanda. Entah mengapa Rohan ikut tersentuh mendengarnya.
"Aku sudah menceritakan semua kejahatan ibu tiriku, tapi apa yang para polisi itu katakan???" menatap tajam Rohan dan Abu secara bergantian.
"Mereka...mereka mengatakan kalau aku hanya membual, mereka berpikir aku berkelahi dengan anak lain dan datang mendongeng di kantor polisi ini. Dan kau tahu apa yang mereka lakukan setelah itu?? mereka membawaku kembali ke rumahku!!!! tempat dimana aku disiksa!!! dengan susah payah aku keluar dari sana kalian tahu ituuu....hiks...hiks...hikss....!!!" menangis sesenggukan.
"Setelah para polisi itu pergi dari rumahku, aku dihajar habis-habisan oleh nenek lampir itu. Jika aku tidak membuatnya pingsan waktu itu dengan memukulkan vas bunga ke kepalanya mungkin aku tidak akan hidup saat ini!!!!"
Kembali menatap Rohan dengan lekat.
Mendengar hal itu, Rohan langsung duduk kembali ke kursinya, memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan Wanda.
"Aku tidak membenarkan kelakuan ibu tirimu, dan aku juga tidak membenarkan kelakuanmu! kau akan tetap aku tahan, sembari menunggu keputusan pengadilan kau bisa membuat laporan kepada ibu tirimu agar dia juga mendapatkan karma atas apa yang dia lakukan selama ini!" jawab Rohan setelah cukup lama berpikir.
"Kau bilang ibu tirimu yang membunuh orang tua kandungmu? bagaimana kau tahu?" tanya Rohan.
Rohan berniat membuka kasus atas ibu tiri Wanda.
"Aku tahu saat tanpa sengaja aku melihat ayah mengeluarkan busa sesaat setelah meminum kopi buatannya. Dia juga menguburkan ayahku dibelakang rumah. Awalnya aku tidak tahu, tapi karena penasaran aku menggali kembali gundukan tanah yang baru saja dia buat dan saat aku menggali cukup dalam, aku melihat ayahku berbaring disana." kembali menitihkan air matanya.
"Aku ingin menangis saat itu, tapi aku tidak mungkin melakukannya terlebih lagi aku masih tinggal satu atap dengan nenek lampir itu."
__ADS_1
"Lalu ibumu?" tanya Abu penasaran.
"Ayah dan ibu dikuburkan dalam satu lubang. Ibu yang selama ini kami pikir hilang melarikan diri, ternyata dia....dia...dia sudah meninggal dan dikubur dibelakang rumah kamiiii!!!!"
"Baiklah, aku akan menyelidiki kasus ini! Abu!!" mengisyaratkan kepada Abu.
Abu mengerti maksud Rohan, segera Abu memanggil seorang polisi wanita dan membawa Wanda menuju sel tahanan.
"Pak, sepertinya ini kasus yang sulit!" ucap Abu setelah Wanda pergi.
"Kejadian itu terjadi sudah belasan tahun! dan bagaimana kita bisa menangkap ibu tiri wanita itu jika barang bukti yang diperlukan tidak cukup? jika hanya mengandalkan kuburan yang ditemukan wanita tadi, tentu saja itu tidak membuktikan kalau ibu tirinya lah yang membunuh kedua orang tuanya kann? dia pasti bisa berkilah dan menyalahkan orang lain!!" ucap Abu panjang lebar.
"Aku tahu!!!" jawab Rohan singkat.
"Pakk, ayolahh!! ku kan sudah bicara panjang lebar begitu sama kau hanya menjawab singkat seperti itu!!!" kesal.
"Siapa yang menyuruhmu berbicara panjang lebar, aku tidak menyuruhmu kann!" menggoda Abu.
"Kau pergi ke alamat ini dan awasi rumah itu. Jika ada pergerakan yang mencurigakan langsung hubungi aku!" perintah Rohan.
"Siap pak!!" ucap Abu kemudian berjalan pergi meninggalkan Rohan sendirian.
Pantas saja dia bersikap acuh seperti itu!! kehidupan yang terlalu keras membuatnya menjadi tidak punya hatii! batin Rohan.
Rohan membereskan file-file berisi data milik Wanda. Entah mengapa mendengar curhatan Wanda tentang masa kecilnya yang kurang bahagia membuat Rohan sedikit respect terhadapnya.
__ADS_1