Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 137


__ADS_3

Tomi membawa Shiren kembali ke tempat sahabat-sahabatnya. Ketika kembali, Arul langsung saja menyerbunya dengan berbagai pertanyaan.


"Kamu darimana? kok pergi nggak bilang-bilang? mana lama banget lagi, tuh si Jack nyariin takut ada apa-apa! dan...." menatap wanita yang berada dibelakang tubuh Tomi.


Zanu, Arul, dan Bagas juga kekasih masing-masing ikut memperhatikan wanita yang tampak lesu itu. Pakaiannya ada beberapa bagian yang robek, wajahnya penuh air mata yang masih setengah basah, rambutnya acak-acakan, dan terdapat banyak luka ditangan, kaki dan wajah wanita itu.


"Dia......siapa dia?" tanya Bagas menunjuk Shiren.


"Oh, dia.....siapa namamu?" tanya Tomi kepada Shiren.


"Shi.... Shiren!" ucap Shiren.


"Ah iya, Shiren! ya sudah ya kami balik dulu. Kalian lanjutin aja ngedate nya. Jack! kau nanti balik sendiri ya, aku sudah menyuruh orang mengantar mobil lagi kesini!" ucap Tomi kepada Jack dengan setengah berteriak.


"Loh, tuan kok gitu!!!!" ucap Jack.


Namun Tomi sudah membawa Shiren menuju mobilnya tanpa menghiraukan rengekan dari Jack.


"Eh Jack, kau kenal wanita tadi?" tanya Bagas begitu melihat mobil Tomi sudah melaju meninggalkan taman.


"Aku juga tidak tahu." ucap Jack.


Didalam mobil Tomi.


"Emm, aku Tomi!" ucap Tomi memulai percakapan.


"Aku Shiren!" jawab singkat.


"Apa pria tadi itu benar pacarmu?" dibalas dengan anggukan kecil.


"Apa dia juga yang membuat mu jadi seperti ini?" penasaran.


Shiren menatap kearah Tomi.


"Menyedihkan sekali ya?" tersenyum nanar.


"Aku dan Bram sudah berpacaran lama. Dulu dia tidak seperti itu saat masih pdkt, tapi setelah aku menerima cintanya dia jadi berubah over protective." mengambil nafas sebentar.


"Aku dilarang keluar rumah bahkan hanya untuk sekedar bertemu dengan sahabatku. Semua kontak cowok di ponselku juga dia hapus. Dia juga mulai mengatur hidupku dan bahkan tidak segan-segan memukulku dan melukaiku." matanya terasa panas mengingat semua itu.


"Kenapa tidak lapor polisi? ini sudah termasuk tindak kriminal loh!"


Shiren menggelengkan kepalanya cepat.


"Aku tidak bisa!"


"Kenapa?" semakin penasaran.


"Aku sudah pernah mencoba menghubungi polisi namun aku justru dipukul habis-habisan olehnya. Semua temanku bahkan tidak berani membantu karena takut terkena amarahnya."

__ADS_1


"Baiklah, mulai sekarang biarkan aku yang menolongmu!"


"Jangan! sebaiknya kau tidak membantuku. Kau tidak kenal Bram! dia bisa melakukan apapun bahkan tidak segan-segan melukaimu nanti!" ucap Shiren memperingatkan Tomi.


"Aku tidak akan mati hanya karena pria seperti itu! nyawaku itu ada banyak kau tahu." berusaha mencairkan suasana.


Shiren mulai tersenyum mendengar candaan Tomi.


********


Darel dan Mentari menghabiskan waktu setelah makan malam didalam kamar. Darel berada dibelakang dan Mentari bersandar ditubuh Darel. Dengan lembut Darel mengusap perut Mentari yang masih rata.


"Aku masih belum percaya kalau aku akan menjadi seorang ayah!" ucap Darel.


"Aku juga!" ucap Mentari ikut mengelus perutnya.


"Aku janji akan menjaga kalian berdua! tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti kalian!" ucap Darel.


"Aku percaya itu!" ucap Mentari.


"Emm, sepertinya kau melupakan sesuatu!" pancing Darel.


"Apa?" terbangun dari sandarannya.


"Janjimu tadi!" ucap Darel genit.


Sontak saja rona merah merebak memenuhi pipi Mentari. Darel yang melihat Mentari malu-malu kucing itu semakin menghempas jauh jarak diantara mereka. Kini mereka semakin dekat bahkan mereka bisa merasakan nafas satu sama lain.


********


Pagi itu, Galih yang tidak terima akan kehamilan Mentari semakin dendam dengan Darel karena bukan hanya sudah merebut wanita yang dia cintai namun Darel bahkan sudah menghamili wanitanya. Semalam dia mendapat kabar dari salah satu rekannya bahwa Darel akan menghadiri sebuah acara di salah satu mall terbesar di sana. Darel diundang secara resmi karena dia juga salah satu pemilik saham terbesar di mall tersebut.


Akan aku pastikan kau membayar semua yang kau lakukan Darel!! Mentari milikku, hanya milikku!! batin Galih.


Cinta buta dan obsesinya terhadap Mentari membuat Galih kehilangan akal sehatnya. Dia menginginkan Mentari menjadi miliknya bagaimanapun caranya. Bahkan jika dia harus membunuh Darel sekalipun dia pasti akan melakukannya.


Galih bergegas menuju mall yang akan didatangi Darel. Dia sudah bersiap dengan semua rencana yang terus memutarkan adegan-adegan untuk menjauhkan Darel dari Mentari.


Sedangkan ditempat lain, Darel dan Mentari yang kelelahan akhirnya terlambat bangun. Darel mandi di kamar lain karena kamar mandi dikamar yang semalam dia tiduri sedang digunakan oleh Mentari. Dua orang pelayan memasuki kamar mereka semalam karena mengantar sarapan untuk Mentari sesuai pesanan Darel tadi.


Pelayan yang melihat kamar tampak begitu acak-acakan tersenyum geli memikirkan hal apa saja yang sudah tuan dan nona mudanya ini lakukan. Bahkan ketika mereka keluar dari ruangan itu dan berpapasan dengan Adi dan Harri, pelayan itu tidak henti-hentinya memancarkan rona yang entah bagaimana mengartikannya.


"Hei, tunggu dulu!" panggil Harri penasaran.


"I...iya tuan?" gugup, berbalik menghadap kaki tangan Darel ini.


"Apa terjadi sesuatu yang dahsyat didalam sana hingga wajah kalian seperti ini?" bicara sambil berbisik namun masih didengar oleh Adi yang lumayan jauh dari mereka.


Cih, dasar biang kepo! sudah tukang kepo, tukang gosip pula, kayak emak-emak aja! batin Adi.

__ADS_1


"Anda benar sekali tuan! sepertinya malam dahsyat baru saja terjadi semalam!" ucap salah satu pelayan sembari cekikikan.


"Apa...apa?" semakin penasaran.


Kedua pelayan itu berbisik disamping telinga Harri. Begitu pelayan selesai mengatakan hal yang mereka lihat, Harri terlihat sangat senang bahkan mendekati Adi sembari loncat-loncat.


"Kau sudah gila apa!!! kau bisa dipecat tau!!!" ucap Adi.


"Kau tahu apa yang pelayan tadi katakan padaku?" ucap Harri memancing.


Namun sepertinya Adi tidak berniat mengetahui apapun yang baru saja diketahui Harri.


"Yah, kau ini sama sekali tidak asik, Adi!" cemberut seperti anak kecil.


"Kau ini orang kepercayaan tuan Darel, seharusnya bersikaplah seperti itu. Bukan malah bergosip seperti tadi dengan pelayan!" ucap Adi.


"Aku kan hanya penasaran!"


"Penasaran apa?" tanya Darel yang entah muncul dari mana tiba-tiba saja sudah berada dibelakang mereka.


"Eh, t.....tuan! tidak...tidak tuan, tidak apa-apa!" ucap Harri gugup.


Harri dan Adi melihat rambut Darel yang masih belum kering, pikiran kotor mulai menggerogoti otak Harri. Tidak lama kemudian Mentari juga keluar dengan ujung rambut yang masih agak basah. Sontak saja pikiran Adi dan Harri dibuat traveling oleh mereka.


"Apa nona ikut juga tuan?" tanya Adi berusaha mengalihkan pikirannya dari hal-hal kotor.


Singkirkan pikiran kotor itu dari otakku!!!


"Ya, aku sudah membuat perjanjian semalam dan aku sudah mendapatkannya, jadi aku harus menepati janjiku!" ucap Darel santai.


"Tapi tuan, disana akan ramai orang. Apa tidak sebaiknya nona dirumah saja?" tanya Adi.


Darel melihat kearah Mentari yang saat ini menampilkan raut wajah sedih seperti hendak menangis.


"Sudahlah, biarkan dia ikut! lagi pula ada kalian berdua kan yang akan menjaganya nanti! bawa beberapa anak buah juga untuk berjaga-jaga!" ucap Darel.


Mereka pun memasuki mobil dan bersiap untuk menuju acara mall. Mentari sangat bahagia karena keinginannya terpenuhi.


"Tuan..." terpotong.


"Nanti saja Harri!" seolah mengatakan "jangan disini, disini masih ada Mentari!"


Darel seperti tahu apa yang akan dikatakan Harri. Berita kembalinya wanita ular dihidupnya itu sudah Darel dapatkan dari Merish. Merish mengatakan bahwa Darel jangan kembali dulu ke Indonesia, namun Darel menolaknya karena dengan kondisi Mentari pasti akan lebih nyaman ketika bersama keluarganya di Indonesia. Entah bersama keluarga Daniar atau keluarga Darel sendiri.


"Ada apa?" tanya Mentari yang menangkap kekhawatiran di wajah Darel.


"Tidak apa-apa kok!" ucap Darel mencoba berbohong.


Mentari tahu kalau Darel menutupi sesuatu darinya, namun dia memilih diam dan tidak mempermasalahkan hal itu. Toh jika Darel merasa sudah waktu yang tepat bagi Mentari mengetahui hal itu, Darel pasti akan bercerita.

__ADS_1


Mentari memilih kembali fokus pada perjalanan. Melihat kiri dan kanan jalan, sungguh membuat Mentari merasa senang.


__ADS_2