Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 183


__ADS_3

Sesampainya di markas Tomi, ternyata sudah ada Zanu, dan Darel. Arul sedang dalam perjalanan karena harus menuruti ngidamnya Anisa terlebih dahulu. Sedangkan Rohan, mungkin dia akan terlambat datangnya.


"Jack, cepat cari informasi mengenai kelompok itu! pastikan informasi yang kau peroleh sangat akurat dan terperinci!" perintah Darel kepada Jack.


"Siyap pak salju!" ucap Jack yang mendapat tatapan sinis dari Jack.


Jack tanpa pikir panjang segera memulai hal yang paling dia sukai. Dia terus fokus ke layar komputer mencoba mencari detail penting dari kelompok Nerezza dan Jo.


"Ajarkan anak ingusan itu, Tomi! kalau memanggilku itu yang sopan!" dengus Darel sambil melipat tangannya ke depan.


"Jangankan kau, aku saja dia panggil pak tua!" ucap Tomi.


"Ya jangan salahkan Jack lah, orang kalian berdua kan dingin dan tua!" sanggah Arul yang baru saja datang.


Semua mata tertuju kepada Arul terutama Darel dan Tomi yang menatapnya tajam.


"Maksudmu!!" tanya Darel dan Tomi bersamaan dengan nada penuh penekanan.


"Ya Darel kan dingin, jarang tersenyum. Hanya akhir-akhir ini saja dia lebih hangat setelah mengenal Mentari. Dan kau Tomi, kau itu sudah tua! makanya aku menyarankanmu untuk secepatnya menikah." jelas Arul yang semakin membuatnya terintimidasi oleh mata Darel dan Tomi.


"Lihat tuh Zanu, dia baru saja bertunangan dan sebentar lagi akan menikah. Kita ini sudah tidak muda lagi, sudah waktunya mempunyai penerus kan?" ucap Arul lagi.


"Ya....ya....yang lagi sibuk menuruti ngidamnya sang istri tercinta! gimana calon penerus? merepotkan mu tidak?" ledek Tomi.


Seperti biasa Zanu menjadi penonton perang argumen mereka. Jika ada Bagas dan Rohan mungkin mereka bertiga akan sama-sama menonton perang yang tiada ujungnya ini.


"Yah, sebenarnya lelah juga sih. Harus beli ini, melakukan itu, membuat ini, pergi kesana, haihhh pusing akuuu!" ucap Arul stress.


"Sabar bro, nikmati saja masa kehamilan istrimu. Itu cara buat wanita agar bisa menyusahkan suaminya!" ucap Tomi sembari merangkul pundak Arul.


"Hei, kau berbicara seolah-olah kau ahlinya saja. Kau bahkan belum menikah bagaimana aku bisa percaya kata-kata mu itu!" ucap Arul meragukan perkataan Tomi.


"Hei para tuan muda lihat ini!" panggil Jack yang masih fokus menatap ke layar komputer.


Darel langsung berlari mendekati Jack disusul yang lain.


"Apa? apa yang kau temukan!" Tanya Tomi.

__ADS_1


"Lihat ini! selama ini mereka tidak musnah namun membentuk kelompok yang lebih besar secara diam-diam. Dan pemimpin mereka yang semula bernama John Kert telah berganti kepada Jayden Xaquile Kert, yang merupakan anak dari John Kert." jelas Jack membacakan apa yang dia temukan.


"Sudah aku duga! kelompok besar seperti mereka tidak akan pernah bisa dimusnahkan dengan begitu mudah!" ucap Darel.


"Benar Dwi, menghilangnya kelompok ini beberapa tahun yang lalu memang sangat mencurigakan. Bahkan setelah mereka menghilang dari dunia mafia, masih banyak anak-anak yang hilang bahkan or*an dalam anak-anak kecil bisa ditemukan di situs ilegal." jelas Zanu.


"Dan lihat tuan! dia mengincar seorang wanita yang telah berani memasuki dunia mereka dengan sembunyi-sembunyi dan mencuri data penting mereka." jelas Jack yang membaca kembali informasi dilayar komputer.


"Apa? siapa wanita itu! mungkin kita bisa mengorek informasi darinya jika kita menemukannya lebih dulu!" ucap Tomi.


"Tunggu sebentar.." mengunduh foto yang merupakan wanita incaran kelompok Nerezza.


Beberapa saat kemudian layar komputer memperlihatkan foto seorang wanita cantik incaran kelompok Nerezza.


"Suli?!" teriak semua orang.


"Jangan bilang wanita itu adalah Suli? wanita yang sama yang kau ceritakan waktu di pulau itu?" selidik Arul.


Otaknya basuh belum bisa mencerna sepenuhnya. Seperti tengah loading yang cukup lama sekarang.


"Benar tuan, dan sepertinya kita memang harus mencari tahu dimana keberadaan Suli secepatnya!" usul Jack.


"Bagaimana lagi. Kau tidak mungkin membawanya bersamamu kan? itu akan lebih membahayakan baginya!" ucap Tomi.


"Tapi....tapi...." hendak memulai drama.


"Sudahlah, nanti biar aku meminta Mentari untuk menjaganya selagi kita mengusut masalah ini." ucap Darel mengerti kegundahan Arul.


"Aku juga akan meminta Daniar menemaninya, kau tenang saja!" ucap Zanu.


"Memangnya Daniar sudah tahu kalau kau ini juga termasuk seorang mafia, Zen?" tanya Arul penasaran.


"Sudah! sebelum kami bertunangan aku sudah menceritakan semuanya. Siapa aku dan Daniar menerima aku apa adanya. Dia malah bersyukur karena aku memberitahunya sebelum dia tahu dari orang lain!" ucap Zanu.


Tomi yang mendengar ucapan Zanu terlihat sedikit melamun. Dia memikirkan Shiren. Tomi belum memberitahu Shiren kalau dia sebenarnya seorang ketua kelompok mafia. Jati dirinya yang sebenarnya masih berusaha dia sembunyikan dari sang kekasih.


Aku takut kalau aku memberitahumu siapa aku sebenarnya, kau bisa meninggalkanku Shiren! dan aku tidak mau hak itu terjadi! kau adalah duniaku dan aku akan hancur jika duniaku meninggalkan ku! batin Tomi.

__ADS_1


"Tomi, apa yang kau pikirkan?" tanya Zanu.


"Ah tidak apa-apa!" berusaha menyembunyikan perasaannya.


Darel tahu kalau Tomi belum jujur kepada kekasihnya. Terlihat gelagatnya mirip seperti dia dulu sebelum mengatakan siapa dia kepada Mentari. Mungkin alasan yang sama seperti dia dulu, takut orang yang paling kita sayangi meninggalkan kita setelah tahu kebenarannya.


"Tomi, tidak semua wanita seperti yang kamu pikirkan. Dulu aku juga berpikir kalau Mentari akan meninggalkanku setelah tahu yang sebenarnya. Tapi lihatlah, sekarang dia tetap ada disampingku. Begitu juga Zen, dan Arul. Kau harus mulai terbuka kepadanya, jika jati dirimu saja dia tidak tahu bagaimana dia bisa menerima dirimu?" jelas Darel.


"Benar Tomi, dulu kau selalu mendesak Darel untuk jujur kepada Mentari dan itu juga berlaku untukmu juga!" tambah Arul.


"Yah, sekarang aku baru merasakan ketakutan yang Darel alami!" ucap Tomi lesu.


"Tenang saja! percayalah kepada wanita itu, bicarakan semuanya secara baik-baik biar dia mengerti dan paham. Mungkin dia akan sedikit syok tapi percayalah semuanya akan baik-baik saja!" ucap Darel mencoba mencairkan suasana hati Tomi yang kalut.


"Emm, baiklah jadi kapan kita akan berangkat? setidaknya biarkan aku bicara dengan Anisa lebih dulu!" tanya Arul.


"Baiklah bagaimana kalau besok? aku juga akan membicarakan hal ini kepada Rohan kapan dia bisa meluangkan waktunya untuk masalah ini, terlebih dia sedang ada kasus yang masih harus dia tangani. Semakin cepat semakin baik pula untuk kita bukan?" usul Zanu.


"Hem, setuju! kita harus mempertimbangkan Rohan juga Bagas. Mungkin Bagas akan berguna jika kita ada apa-apa nantinya!" usul Arul.


"Baiklah! Zen, kau atur waktu Rohan juga Bagas setelah itu beritahu kami kapan mereka senggang dan kita akan berangkat kesana setelah itu, bagaimana?" ucap Darel.


"Setuju!!!" ucap semuanya.


"Jack! sebelum itu cari informasi mengenai lokasi terakhir Suli mengerti?" perintah Darel.


"Siap tuan salju!"


"Dasar bocah iniii!" mendengus pasrah.


"Hehehe, jangan marah tuan nanti nona Mentari tidak mau dekat-dekat lagi loh!" ledek Jack.


"Kau mau aku penggal kepalamu sekarang, Jack?" geram Darel.


"Sudahlah, man! dia memang seperti itu!" menepuk pundak Darel pelan.


"Huhhh, serah!" berlalu pergi.

__ADS_1


Mereka semua ikut pergi dari markas Tomi. Darel yang semula hendak bercinta dengan Mentari mendadak gagal karena telepon dari Tomi yang mengharuskan mereka berkumpul di markas Tomi.


Kembalinya mereka pasti akan membawa bencana yang besar! batin Darel ketika dalam perjalanan pulang.


__ADS_2