
Seperti yang dijanjikan, Iwang dan juga Mentari dibawa Darel ke suatu tempat. Mereka berangkat pukul tujuh pagi sehabis sarapan karena perjalanan nanti memakan waktu dua jam. Pukul sembilan pagi, mereka sampai di pemakaman umum.
"Sayang, kenapa kita kesini?" tanya Mentari bingung.
"Sudah ikut saja!" ucap Darel.
Darel menggandeng tangan istri dan anaknya menuju dua nisan yang saling bersebelahan.
"Ini....ini kuburan siapa?" tanya Mentari.
Dadanya terus bergemuruh melihat nama di baru nisan itu seperti nama ayah dan ibunya. Di batu nisan itu tertulis nama Mario Wicaksono dan disebelahnya tertulis nama Maya Putri Warasyati.
"Ap...apa....ini...." tanya Mentari terhenti.
"Makam kedua orang tua mu, sayang!" ucap Darel lirih.
Darel mengeratkan pelukannya untuk menopang tubuh istrinya yang terlihat lemah. Air mata Mentari luruh juga akhirnya. Setelah sekian lama akhirnya Mentari mengetahui letak kuburan orang tuanya. Rasa sakit karena tidak bisa melihat kedua orang tuanya di sisa-sisa hidup mereka, bayangan-bayangan ketika mereka bertiga diusir dari desa, dan bayangan menyedihkan Mentari saat masih kecil kembali terlintas di pikirannya.
"Ayahh!!!! ibuuu!!!! hiks....hiks..." Mentari bersimpuh diantara dua nisan itu lalu memeluk dua bagi nisan seolah sedang memeluk orang tuanya.
"Maafkan, Tari karena baru mengunjungi kalian!! maafkan Tari!!! Tari rindu sama kalian!! Tari ingin kita bisa berkumpul lagi seperti dulu, bercanda, bermain seperti dulu! Mentari masih ingin dipeluk oleh ibu, Mentari masih ingin dikuatkan oleh ayah" ucap Mentari tersedu.
Iwang dan Darel hanya menatap Mentari yang tengah menumpahkan segala kerinduannya kepada kedua orang tuanya meski mereka sudah tiada.
"Aku sudah menikah dengan teman ayah! ayah pasti sangat senang kan? aku sudah memiliki satu putra bernama Iwang dan tengah mengandung anak ke 2. Usia kandunganku baru berjalan dua bulan! ayah dan ibu doakan agar kehamilanku lancar yaa!" ucap Mentari seolah bercerita kepada orang tuanya.
Cukup lama mereka disana hingga akhirnya susah menjelang makan siang. Mereka mencari warung didekat sana karena jarak restoran dari tempat itu lumayan jauh dan Mentari harus makan tepat waktu.
"Kalian bukan dari sini ya?" tanya ibu penjual warung saat mengantarkan pesanan mereka.
"Iyaa, bu. Kami dari Jakarta!" sahut Mentari ramah.
"Ohh, mengunjungi kuburan siapa?" tanya ibu itu.
"Pak Mario dan bu Maya."
__ADS_1
"Hah?! kalian siapanya mereka?" tanya ibu penjual warung itu terkejut.
Darel dan Mentari bingung dengan reaksi ibu itu yang terlihat sangat terkejut karena mereka mengunjungi makam kedua orang tua Mentari.
"Saya menantunya, dan istri saya ini adalah anak kandung mereka. Kami baru tahu makam mereka ada disini makanya baru bisa datang." sahut Darel.
"Loh?! bukannya anak almarhum dan almarhumah sudah tiada ya?" tanya penjual itu lagi.
"Apa?!" tanya Darel terkejut sedangkan Mentari kehabisan kata-kata untuk berbicara.
"Iya! tunggu sebentar!" ucap ibu itu lalu masuk ke dalam warung.
Tidak lama berselang, ibu tadi keluar sambil menarik tangan seorang bapak yang mungkin adalah suaminya.
"Nah, ini!" ucap ibu itu saat sudah didepan Darel dan Mentari.
"Apa sih buk, narik-narik bapak begitu? bapak lagi potong kayu bakar juga!" ucap suami ibu itu.
"Ini loh pak, mas sama mbak ini baru aja mengunjungi makam pak Mario dan bu Maya."
"Mereka bilang mereka ini anaknya pak Mario dan bu Maya." ucap ibu tadi.
"Loh?! beneran mas, mbak? kalian anak dari pak Mario dan bu Maya?"
"Iya pak! istri saya ini anak kandung mereka. Memang ada apa ya pak?" tanya Darel penasaran.
"Begini mas, saya ini penggali makam didesa ini. Seingat saya dulu ada seseorang yang bilang kalau kedua jenazah anaknya sudah tiada."
"Emm, kapan bapak menguburkan jenazah mereka?" tanya Darel.
"Kapan yaa, saya lupa! soalnya sudah lama sekali. Tapi yang saya ingat ada bapak-bapak yang membawa dua jenazah ini untuk dikuburkan disini. Dia bilang dua jenazah ini sebatang kara. Saya tanya kenapa seperti habis dipukuli begini, karena memang kondisi badan keduanya babak belur, mas, mbak." jelas suami pemilik warung.
"Lalu, dimana pria itu sekarang pak? apa bapak tahu siapa dan dimana dia tinggal?" tanya Mentari setelah sedari tadi diam.
"Kalau itu saya kurang tahu, mas, mbak! tapi bisanya tiap akhir atau awal bulan dia selalu datang kesini membawa bunga yang sangat banyak sekali untuk ditaburkan di makam mereka." ucap bapak tadi.
__ADS_1
"Begini, saya minta nomor bapak kalau misal pria itu datang langsung kabari saya bagaimana?" tanya Darel.
"Baik, mas! boleh! saya ambil ponsel dulu!" ucap bapak tadi.
Bapak itu pun masuk ke dalam warung untuk mengambil ponselnya. Sepeninggal suaminya, ibu pemilik warung duduk di tempat duduk suaminya tadi.
"Jadi, kalian ini benar anaknya mereka?" tanya ibu pemilik warung sekali lagi.
"Benar bu! kami baru saja dapat info kalau ayah dan ibu saya dimakamkan disini. Makanya kami langsung kesini?" jawab Mentari.
"Duhh, kasian sekali mbak almarhum dan almarhumah saat meninggal waktu itu. Tubuhnya penuh luka." ucap ibu pemilik warung.
Mentari tahu kenapa di tubuh orang tuanya banyak luka. Pasti karena terkena lemparan batu dari warna didesanya dulu. Apalagi batu yang mereka gunakan adalah batu yang cukup besar hingga bila mengenai kepala bisa langsung berdarah. Mentari ngilu membayangkan sakitnya orang tuanya saat menemui ajal mereka.
"Ini, mas, nomor ponsel saya!" ucap bapak itu yang telah datang dengan membawa secarik kertas berisi nomor ponsel.
"Baiklah kalau begitu terimakasih yaa! nanti kalau pria itu datang langsung kabari saya!" ucap Darel.
Mereka pun menyantap makan siang mereka meski rasanya sudah tidak terlalu berselera lagi. Siapa pria misterius yang membawa kedua orang tua Mentari untuk dimakamkan kesini? apa pria yang sama yang memfitnah kedua orang tua Mentari hingga terjadi salah paham antara mereka dengan penduduk desa tempat tinggal Mentari dulu? apa hubungan pria itu dengan ayah atau ibu Mentari? pertanyaan itu terus saja berputar-putar diotak Darel juga Mentari.
Setelah membayar makanan ditambah uang lebih karena pemilik warung sudah memberikan informasi penting untuk mereka, Darel dan Mentari pun kembali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan Mentari hanya tertidur. Mungkin bawaan hamilnya membuatnya cepat lelah.
"Hallo, bagaimana? apa kalian menemukan jawabannya?" tanya Darel dengan airpods di telinganya.
"Sudah tuan! tapi kami belum menemukannya seratus persen. Mungkin ini bisa membantu kita memecahkan siapa sebenarnya nona Mentari itu." ucap Adi dari sebrang telepon.
"Baiklah, kami dalam perjalanan pulang dari kuburan ayah dan ibu mertuaku. Ada hal penting juga yang harus aku bicarakan pada kalian!" ucap Darel masih fokus menyetir.
"Baik tuan, kami akan menunggu kepulangan anda!" jawab Adi.
Darel meletakkan airpods nya lalu menatap Mentari yang tertidur di sampingnya kemudian menatap Iwang yang juga tertidur dari spion diatasnya.
Aku akan menjagamu dan anak-anak kita. Aku janji itu! bahaya apapun yang mendekati kalian, harus berhadapan dulu denganku! akan ku buka identitas aslimu yang mungkin kau sendiri tidak mengetahuinya, sayang!
Cup....
__ADS_1
Kecupan singkat mendarat di kening Mentari. Darel menatap sekilas istrinya yang seolah terganggu dengan kecupannya hingga membuat Mentari merubah posisi tidurnya. Sungguh menggemaskan dimata Darel hingga tanpa sadar dia tertawa perlahan. Bersama Mentari, Darel tahu apa artinya perasaan. Mentari jugalah yang mengajarkan dirinya apa arti cinta yang sesungguhnya. Cinta tulus dari hati bukan dari materi. Bersama Mentari membuat hidup Darel semuanya terasa jauh lebih indah. Tidak bisa Darel bayangkan jika hidupnya tanpa Mentari. Apa kadinya jika ayahnya tidak menjodohkannya dengan Mentari? pasti Darel akan tetap menjadi pria tanpa perasaan seperti dulu-dulu.