
Keesokan harinya, Mentari baru bangun tidur saat matahari sudah tinggi. Semalaman penuh Darel terus menghujaninya dengan kenikmatan. Baru menjelang subuh mereka menghentikan kegiatan panas tersebut. Itupun juga karena Darel harus ke kantor pagi harinya. Berkali-kali pelepasan sudah mereka raih malam tadi.
Serrr....
Saat Mentari hendak berdiri dari tidurnya, cairan kenikmatannya yang bercampur dengan milik Darel keluar dari area intimnya. Mentari mengedarkan pandangannya ke sprei yang dipenuhi oleh bekas cairan mereka berceceran dimana-mana.
"Huhh, capeknyaa!" keluh Mentari sambil merentangkan tangannya ke atas.
Mentari bergegas menuju kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar segar.
Selesai mandi, Mentari memakai baju yang ada di lemari. Baju-baju baru terlihat di sana. Mentari mengambil sebuah baju berwarna merah muda dengan kerah sabrina berlengan panjang. Dress dengan panjang diatas lutut itu terlihat sangat pas di tubuh Mentari.
"Eh, non, mau sarapan?" tanya mbok Tini yang melihat kehadiran Mentari di dapur.
"Emm, mbok, boleh minta tolong tunjukkan dimana letak mesin cuci? aku mau cuci ini?" tanya Mentari malu.
"Loh, kok nona bawa kesini sih? kan nanti juga ada pelayan yang bakal ngambil nona! nona nggak usah repot-repot!" ucap mbok Tini bergegas mengambil sprei itu dari tangan Mentari.
"Tapi mbok...itu...."
"Iya mbok tau kok! nggak usah malu-malu gitu non, mbok juga pernah muda kok!" ucap mbok Tini yang seolah mengerti pikiran Mentari.
"Non, ke meja makan saja nanti mbok bawakan sarapan buat non! nona mau sarapan pakai apa?" tanya mbok Tini.
"Emm, kayaknya ayam bakar enak deh mbok!" ucap Mentari berlalu dari dapur.
"Baik non! mbok siapin ayam bakar ya, non tunggu didepan aja!" ucap mbok Tini.
Mentari mengangguk patuh lalu berjalan menuju meja makan. Tidak lama berselang sebuah hidangan ayam bakar dengan sambal yang tidak terlalu pedas tersaji di atas meja.
Dengan lahap Mentari mulai menyantap sarapannya pagi ini.
"Tari....sayanggg!!!!" panggil nyonya Ardi yang baru saja datang bersama Randita.
"Ma? kak? kalian kok datang sepagi ini? semuanya baik-baik saja kan?" tanya Mentari menghentikan makannya.
"Kami khawatir sama kamu! kamu apa kabar?" tanya nyonya Ardi yang langsung memeluk Mentari dengan erat.
"Aku baik kok mah! oh ya kalian sudah sarapan? kita sarapan bareng yuk!" ajak Mentari.
"Kamu baru mau sarapan jam sepuluh siang, Tari?" tanya Randita bingung.
__ADS_1
"Hehehee, tadi bangunnya kesiangan kak. Jadi baru bisa saran Jan segini!" ucap Mentari.
"Ini pasti ulah Darel yaa?! berapa kali ronde kalian bermain semalam?" tanya Randita blak-blakan.
"Emm, sampai pagi kak!" ucap Mentari malu.
"Tuh kann!"
"Nggak apa-apa dong, Dita! itung-itung biar mereka bisa berikan mama cucu lagi. Kamu juga harusnya gitu, Arya itu udah harusnya punya adek lagi." ucap nyonya Ardi.
"Nanti dulu lah ma!" ucap Randita.
"Oh ya kamu sambung lagi makannya, mama mau ajak kamu untuk belanja!" ucap nyonya Ardi.
"Tapi bajuku udah banyak ma, nggak usah lah!" ucap Mentari.
Memang benar baju Mentari sudah banyak. Bahkan satu lemari besar isinya baju Mentari semua. Mulai dari baju sehari-hari sampai baju dinasnya dimalam hari lengkap semua.
"Nanti malam kan ada acara di rumahnya kolega papa, jadi kamu harus tampil cantik sayang!" ucap nyonya Ardi.
"Tunggu, jangan bilang Darel belum ngomong sama kamu?" tanya Randita penuh selidik.
Mentari menggelengkan kepalanya karena memang Darel belum mengatakan apapun kepadanya tentang pesta itu.
"Pasti! tapi setelah kita belanja!" ucap nyonya Ardi.
Mau tidak mau Mentari pun ikut mama dan kakak iparnya berbelanja. Setelah sepuluh menit Mentari akhirnya selesai menghabiskan sarapannya. Mereka bertiga bergegas menuju butik langganan nyonya Ardi.
Mereka memilih baju yang akan mereka pakai di pesta tersebut. Setelah selesai memilih baju, mereka menuju mall untuk membeli aksesoris dan yang lainnya.
Hampir tiga jam mereka berkeliling membeli barang-barang mewah, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sebelum itu, mereka berhenti di sebuah restoran untuk makan siang.
********
"Kamu dari mana aja?" tanya Darel yang ternyata sudah ada dirumah dari tadi.
"Habis diajak belanja sama kak Randita sama mama." jawab Mentari meletakkan tas belanjaannya.
"Kok kamu nggak bilang sih kalau kita diundang ke pesta kolega papa? kamu sengaja ya, biar aku nggak ikut? kamu malu punya istri aku? makanya kamu nggak bilang?" tanya Mentari.
Darel mengerutkan keningnya, bingung dengan sikap Mentari yang sensitif.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih? siapa yang malu? justru aku tuh beruntung banget punya istri kayak kamu!" ucap Darel romantis.
"Bohong! buktinya kamu nggak bilang! aku malah tau dari mama sama kakak tau!" ucap Mentari.
"Iya, maaf! aku lupa tadi mau bilang soalnya kan kamu masih tidur! ku nggak tega banguninnya." ucap Darel mengecup kening Mentari lembut.
"Udah yuk siap-siap!" ucap Darel dengan tatapan genitnya.
"Ishh, jangan mulai lagi deh!" ucap Mentari.
"Loh kenapa? kamu kan suka!" goda Darel.
"Kan semalaman kita udah begitu, masa belum puas sih?!" ucap Mentari yang dibalas anggukan cepat oleh Darel.
"Nggak! nggak bakal puas kalau buat begituan! salah sendiri punya kamu enak! kan aku jadi ketagihan!"
Darel terus saja menggoda Mentari dengan kata-kata.
"Dah lah, aku mau siap-siap aja! kamu mandi di kamar lain!" ucap Mentari mengambil tas belanjaannya lalu membawanya ke atas.
"Loh, kok gitu sih, sayang! sayangg!!" teriak Darel.
"Bodo!" ucap Mentari mengacuhkan Darel.
Darel terus memandangi Mentari yang tengah menaiki tangga hingga hilang dari pandangannya.
"Kenapa sih dia, aneh banget deh!" ucap Darel bingung.
Mau tidak mau Darel harus mandi di kamar bawah.
********
Pukul tujuh malam Darel dan Mentari sudah bersiap untuk pergi. Pesta kali ini ditujukan untuk launcing produk baru dari perusahaan Darel juga untuk meresmikan acara pertunangan putri kolega tuan Ardi dengan kekasihnya.
Mentari tampil cantik mengenakan dress berwarna merah menyala dengan belahan samping sampai ke lutut. Rambutnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai indah. Heels berwarna hitam dan tas tangan berwarna hitam dengan merk ternama dengan kisaran harga mencapai milyaran rupiah menambah kesan elegan wanita itu. Tidak lupa juga satu set perhiasan menyempurnakan penampilan Mentari malam itu.
Darel juga tidak kalah tampan dengan mengenakan kemeja putih dibalut jas berwarna merah dan celana berwarna senada dengan tiga buah kancing atas yang sengaja tidak dikaitkan menambah kesan sexy pria itu.
"Wahhh, mereka seperti raja dan ratu ya!" celetuk Harri saat melihat tuannya datang.
"Hustt, jangan bicara sembarangan! udah ayo masuk!" ucap Adi.
__ADS_1
Adi membukakan pintu untuk mereka berdua. Setelah memastikan semuanya siap, mobil mewah Darel pun mulai meninggalkan rumah.