Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 312


__ADS_3

"Darel!! kamu berani membentak saya?!!!" teriak Sandra murka.


"Kenapa?! anda pikir saya tidak berani dengan anda?! jangan lupa, anda bukan siapa-siapa tanpa bantuan saya!!" ucap Darel.


Sial!! anak ini sudah berani melawanku!! ini semua gara-gara wanita kampungan ini!!! batin Sandra.


"Sayang, jangan melawan orang yang lebih tua! mau bagaimana pun dia tetap nenek kamu!" bisik Mentari menenangkan suaminya yang terlampau emosi itu.


"Kalau nggak suka sama saya, ngomong langsung!!! jangan bisik-bisik begitu, kayak nggak diajarin etika aja!" bentak Sandra.


"Dia itu cuma mau menenangkan saya! apa sih masalah anda sebenarnya?! oh, apa anda mau perusahaan anda yang tidak lebih besar dari perusahaan saya itu saya gusur dan saya ratakan dengan tanah?!" ancam Darel.


Sandra tidak banyak berkutik, apalagi saat Darel mengancam akan meratakan perusahaannya. Hampir delapan puluh persen saham diperusahaannya adalah dari perusahaan Darel, tentu saja Sandra takut mengingat cucu kakaknya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Karena kalah telak, Sandra tidak kehabisan akal. Dia menatap ke arah Iwang, dan tadi juga dilihatnya perut Mentari yang tengah hamil besar.


"Dia anak mu?!" tanya Sandra menatap ke arah Iwang yang duduk di samping Mentari.


"Ya! dia anak kami!" ucap Darel ketus.


Mentari menyikut perut Darel hingga membuat Darel menatap istrinya. Bak api yang bertemu air kemudian padam, begitu pulalah yang terjadi dengan Darel. Mentari ibarat obat mujarab bagi semua masalahnya. Ketika dia marah, Mentari bisa menjadi es yang mampu mendinginkan emosinya.


"Berapa usia pernikahan kalian?" tanya Sandra.


"Baru mau empat tahun!" jawab Darel singkat.


"Empat tahun?! tapi kenapa dia terlihat seperti anak 10 tahun?!" tanya Sandra bingung menatap ke arah Iwang.


"Dia anak yang diangkat oleh Darel dan Mentari karena Iwang sebatang kara setelah ditinggal neneknya meninggal." ucap Rumi.


"Jadi dia itu bukan darah daging kalian?! kenapa mau-maunya sih mengadopsi anak?! kayak nggak bisa buat sendiri aja!" sindir Sandra.


"Cukup ya, nek!!!! saya diam loh dari tadi, tapi bukan berarti nenek bisa seenaknya menjelek-jelekan saya!! saya masih punya harga diri!! dan kalau saya juga Darel memutuskan untuk mengadopsi Iwang, lalu apa urusannya dengan nenek?! toh kami tidak meminta-minta sama nenek!!!" bentak Mentari.


"Woww, wanita yang terlihat kalem ini telah menunjukkan sifat aslinya rupanya!!!" ucap Sandra tersenyum mengejek.


"Kita pulang saja!" ajak Darel.


Iwang yang sepertinya tidak diterima oleh nenek Darel itu seketika menundukkan kepalanya. Dia terlihat sangat sedih, bahkan terlihat murung. Tanpa ba bi bu lagi, Darel menggandeng istri dan anaknya untuk pulang ke rumahnya. Selama perjalanan pulang, Iwang hanya diam saja sambil menunduk. Mentari dan Darel sampai takut kalau-kalau Iwang terpengaruh kata-kata neneknya tadi.


"Iwang! Iwang kenapa, nak? kok diam saja dari tadi?" tanya Mentari lembut.


Iwang menggelengkan kepalanya namun masih dalam posisi yang menunduk. Mentari memposisikan wajah anaknya itu agar menatapnya.


"Iwang memikirkan omongan nenek tadi?" tanya Mentari.


Iwang diam saja.


"Dengar sini! walaupun Iwang bukan anak kandung ibu, tapi ibu akan tetap menyayangi Iwang seperti anak ibu sendiri. Ayah juga gitu kok. Nggak akan ada yang berubah walaupun nanti ibu sudah mempunyai anak sendiri. Iwang percaya kan sama ibu?" tanya Mentari.


"Ibu!" panggil Iwang lirih.


"Iya, nak? ada apa?" tanya Mentari.


"Kenapa ibu baik sekali sama Iwang? benar ucapan nenek tadi, Iwang bukan anak kandung ibu, ibu kan juga sudah mengandung dede bayi, apa nanti kalau Dede bayi sudah lahir ibu akan melupakan Iwang?" tanya Iwang dengan tatapan sendu menatap ibunya.


Hari Mentari sangat sakit kala mendengar Iwang mengatakan hal itu. Walaupun Iwang bukan putra kandungnya sendiri, tapi kasih sayang Mentari pada Iwang sungguhan. Dia sudah menganggap Iwang adalah anaknya sendiri yang lahir dari rahimnya.

__ADS_1


"Sayang, dengarkan ibu baik-baik! apapun kata dunia, kamu akan tetap menjadi putra pertama ibu. Selamanya! Iwang akan menjadi anak pertama ibu dan ayah." ucap Mentari memberi pengertian pada putranya.


"Benar kata ibumu, Iwang! selamanya kamu akan menjadi putra sulung kami! jangan pedulikan kata mereka, ya! bisa saja mereka iri pada nasibmu yang bertemu dengan ibu yang sebaik ibumu!" ucap Darel.


Mendengar kata Mentari dan Darel, wajah Iwang lebih ceria dari pada tadi. Ayahnya itu benar, Iwang bernasib baik karena bertemu dengan ibu dan ayahnya. Orang-orang baik hati yang mau menolongnya bahkan mengangkatnya sebagai seorang anak. Iwang yang rindu akan kasih sayang sosok orang tua begitu bahagia ketika Darel dan Mentari mengangkatnya menjadi putra mereka. Dia dilimpahkan oleh kasih sayang yang amat sangat dia rindukan.


"Makasih yah, bu!" ucap Iwang merangkul pinggang Mentari.


Setitik air mata keluar dari mata bocah itu. Mentari yang terharu pun ikut memeluk Iwang begitu juga dengan Darel. Hal itu sontak membuat Adi dan Harri yang berada di kursi depan merasa senang sekaligus terharu. Mungkin saja saat ini mereka bisa menangis saking terharunya.


Berbahagialah terus, tuan, nona! batin Adi yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arah kaca di atasnya.


********


Di rumah Darel. Mereka baru saja tiba dirumahnya, rasanya hari ini begitu melelahkan. Darel, Mentari, Iwang dan yang lain memutuskan untuk menuju kamar mereka untuk mandi karena tubuh mereka sangat lengket oleh keringat pasca berkeliling mall tadi. Lukas masih mengantarkan Amira ke panti, sehingga dia tidak ikut rombongan Darel pulang dulu.


Dertt.....dertt....dertt....


Sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel Darel. Darel yang saat itu tengah bersantai sambil memainkan perut istrinya yang kian membesar itu pun merasa kesal karena terganggu.


"Sayang kok nggak diangkat sih? siapa tahu penting loh!" ucap Mentari yang tengah membaca buku panduan menjadi seorang ibu yang baik dan benar.


"Biarin ajalah! males aku nanggapin, palingan juga nggak penting! biarin lahh!" ucap Darel yang masih asyik dengan perut Mentari.


Panggilan itu pun berhenti, namun tidak lama kemudian kembali berdering membuat Mentari terganggu.


"Sayang itu angkat dongg!! berisik lohh! siapa tahu penting!" ucap Mentari.


"Ishhh, iya-iya!!!" ucap Darel dengan terpaksa mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa peneleponnya.


"Hallo, Darel! ini kak Rangga!" ucap Rangga dari sebrang telepon.


"Kak Rangga?!" Darel menjauhkan ponselnya dari telinganya untuk melihat siapa yang menelepon.


Dan benar saja, tertulis nama Kakak Ipar Rangga disana.


"Hallo, Darel! kamu masih ada disana nggak?" tanya Rangga karena Darel tidak bersuara.


"Eh, iya kak! ada apa? tumben telpon." ucap Darel berubah kembali berwibawa.


"Jadi gini, perusahaan kita kan sedang membangun cabang di kota Swiss, nah, tidak ada yang menghandle pembangunan disana. Aku sudah meminta Juna untuk kesana tapi dia bilang cabang di Jepang juga lagi ada ada kendala dengan pesaing disana. Sedangkan aku sendiri juga tengah sibuk dengan peluncuran produk baru disini jadi aku juga tidak bisa kesana." ucap Rangga panjang lebar di telepon.


Sejenak, Darel mengerti maksud kakak iparnya itu.


"Jadi, kakak mau aku yang kesana?" tanya Darel.


"Huftt, gimana lagi. Mau tidak mau Darel! kakak juga sebenarnya tidak ingin mengganggumu disana, terlebih Mentari sedang hamil sebesar itu walaupun masih usia kandungan tujuh bulan. Tapi karena ada tiga janin dalam kandungannya, itu terlihat seolah sudah usia sembilan bulan." ucap Rangga.


"Lalu, bagaimana kak?" tanya Darel.


"Ya mau bagaimana lagi, kau harus kesana sendirian. Lagian duduk berlama-lama di dalam pesawat juga tidak baik bagi Mentari." ucap Rangga dengan nada terpaksa.


Sebenarnya Rangga tidak ingin Darel yang pergi, tapi mau bagaimana lagi. Karena dirinya dan juga Juna tengah sangat sibuk saat ini sehingga tidak ada yang bisa menghandle proyek pembangunan cabang baru itu.


"Berapa lama kak?" tanya Darel.

__ADS_1


"Dua bulan." ucap Rangga.


"Dua bulan?!" tanya Darel terkejut.


"Iya, itu pun kalau cepat selesai, kalau tidak yaa bisa lebih. Maka dari itu kakak bertanya dulu padamu, apakah kamu mau kesana?" tanya Rangga.


Darel terlihat menimbang-nimbang keputusannya. Ini sangat berat baginya, terlebih saat ini istrinya tengah hamil trimester akhir dan pastinya akan sangat membutuhkan dirinya. Tapi jika dia tidak pergi, tidak ada yang menghandle proyek di Swiss seperti yang dikatakan oleh kakak iparnya itu.


"Bisa kak! Darel bisa kesana!" sahut Mentari.


Rupanya sedari tadi Mentari mendengarkan pembicaraan Darel dengan Rangga. Darel yang mendengar istrinya itu menyetujui begitu saja melotot tidak percaya.


"Kak, bisakah aku memikirkannya dahulu?" tanya Darel.


"Tentu saja. Jika kau tidak bisa maka aku akan meminta orang lain!" ucap Rangga.


"Baiklah, secepatnya akan aku beritahu keputusanku." ucap Darel.


Panggilan pun terputus. Darel menatap lekat kedua mata istrinya itu. Mentari yang ditatap sedemikian rupa malah tersenyum dengan sangat manis membuat Darel semakin enggan pergi meninggalkan istri tersayangannya itu.


"Aaaa....kok kamu bolehin aku pergi sihhh?!!! kan itu jauhhh, lama juga perginyaaa!!! kamu ngusir aku yaaa?!! kamu nggak sayang aku lagi yaaaa?!!!" rengek Darel memeluk pinggang Mentari.


Melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil itu membuat Mentari terkekeh geli.


"Aaaa, aku nggak mau pergi!!! pokoknya nggak mauuu!!!! nggak mau jauh-jauh dari kamuuuu!!!" rengek Darel lagi semakin membuat Mentari gemas.


"Sayang jangan gitu dong!! kamu harus profesional. Perusahaan lagi butuhin kamu loh, jangan khawatirin aku sama anak-anak kita. Kami akan baik-baik saja kok! ada banyak orang yang akan menjaga kami selama kamu pergi." ucap Mentari mengelus lembut rambut suaminya.


"Tapi ini lama lohhh, dua bulannn!!" ucap Darel mendongakkan kepalanya menatap wajah teduh istrinya.


"Kami akan baik-baik saja!" ucap Mentari.


"Kok kamu gitu sihh?!" kesal Darel.


Darel yang semula memeluk pinggang Mentari langsung terduduk menatap kesal istrinya itu yang seolah menyuruhnya untuk pergi.


"Kamu nggak sayang ya sama aku?! kok aku disuruh pergi jauh!! aku mana betah satu detik aja nggak lihat kamuuuu!!" rajuk Darel.


"Nggak gitu!! aku sayang banget sama kamu, maka dari itu aku suruh kamu pergi. Ini kan juga demi perusahaan, sayang! Juna sama kak Rangga kan juga lagi sibuk. Cuma kamu yang bisa mereka harapkan sekarang." ucap Mentari memberi pengertian engerian pada suaminya itu.


"Tapi lamaaaaa!!!" rengek Darel kembali.


"Cuma dua bulan aja kokk! kan kita bisa video call kalau kangen." ucap Mentari.


"Beneran yaaa!" ucap Darel.


"Iyaaa!" ucap Mentari.


"Yaudahh dehh, aku pergii!! tapi kasih jatah dulu sebelum aku pergi buat bekal aku." ucap Darel memanyunkan bibirnya.


"Duh yaa, modusnya adaa ajaa!" ucap Mentari terkekeh geli.


"Biarin!" ucap Darel.


"Yaudah sinii!" ucap Mentari merentangkan tangannya.

__ADS_1


Darel memeluk istrinya itu dengan sangat lembut. Penyatuan kedua insan itu kembali terjadi. Darel menuntaskan seluruh hasratnya pada Mentari. Beberapa kali peleburan itu terjadi, namu. Darel tetap melakukannya dalam tempo yang pelan agar tidak menyakiti tiga janin yang ada didalam perut istrinya.


__ADS_2