
Sesampainya mereka ke alamat yang di tuju, Mentari dengan tidak sabaran langsung turun dari mobil. Matanya langsung mengarah pada sekelompok pria berbaju hitam lengan pendek yang dia yakini juga bawahan Darel. Mentari pun mendekati kumpulan pria itu sedangkan yang lain menyusulnya karena khawatir terjadi sesuatu terhadap Mentari yang saat ini tengah dilanda amarah.
"Dimana Aqis??!!!" tanya Mentari tiba-tiba pada sekumpulan pria itu.
Pria-pria itu menatap aneh kearah Mentari. Mungkin mereka belum mengenali Mentari, itu yang dibaca Mentari lewat raut wajah mereka.
"Maaf nona, anda ini siapa? kenapa mencari tuan Aqis?" tanya salah satu pria disana.
"Tidak penting! jawab pertanyaanku sekarang, dimana Aqis!!!??" tanya Mentari semakin dibuat kesal.
"Maaf nona, kalau anda tidak punya kepentingan harap meninggalkan tempat ini!" ucap pria lain mengusir Mentari.
Daniar dan yang lain baru saja datang dan menenangkan Mentari agar tidak emosi.
"Dokter Angel? anda disini?" tanya pria yang mengusir Mentari karena mengenal Angel.
"Iyaa, kami sedang mencari Aqis. Apa kalian tahu dimana dia?" tanya Angel.
"Ada kepentingan apa ya dokter? dan siapa nona ini?" tanya pria lain.
"Wahhh, kau mengenal Angel tapi kau tidak mengenal istri tuanmu sendiri?!!!" ucap Mentari emosi.
"Tari udah tenang dulu! jangan pakai emosi kalau bicara! sabarrr!!!" ucap Shiren menenangkan.
"Gimana bisa sabar! lah anak buah Darel saja tidak kenal aku! Darel sendiri juga selingkuh! gimana bisa tenangggg!!!!" ucap Mentari semakin marah.
"A...anda....anda nona Mentari? istri tuan muda Darel?" tanya pria disana gugup.
Pria-pria yang lain langsung berdiri dari duduknya tatkala mendengar nama Darel disebutkan.
"Hah, istri tuan muda sampai disini?" bisik yang lain.
"Iya kenapa mencari tuan Aqis ya?!" bisik yang lain lagi.
"Maafkan saya nona, saya tidak mengenali anda?" ucap pria yang mengusir Mentari sambil menunduk takut.
Dari dalam apartemen. Aqis yang mendengar kegaduhan dari luar apartemennya memutuskan untuk keluar dan melihat apa yang terjadi.
"Nona Mentari? kenapa dia ada disini? raut wajahnya terlihat sangat marah!" ucap Aqis dari kejauhan.
Aqis melihat ada Mentari dari kejauhan. Tentu saja otaknya bertanya-tanya mengenai kehadiran Mentari ke apartemennya apalagi dia terlihat marah.
"Nona Mentari, kenapa anda disini?" tanya Aqis yang sudah mendekati Mentari.
"Oh jadi kau Aqis?" tanya Mentari.
__ADS_1
"Benar nona, apa ada masalah?" tanya Aqis.
Apa nona Mentari sudah tahu masalah tuan Darel membelikan apartemen untuk Pretty ya?! batin Aqis.
"Jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa Darel membelikan apartemen untuk Pretty? apa kau yang menjaga apartemen itu atas perintah Darel? apa benar dia memberikan kartu kredit kepada Pretty? JAWAB AKUUUU!!!!!" teriak Mentari.
Benarkan dugaanku! nona sudah tahu semuanya! tapi, darimana dia tahu semua itu? batin Aqis.
"JAWAB AKU AQIS!!! APA DIA YANG MELAKUKAN SEMUA ITU DEMI PRETTY!!!!" tanya Mentari semakin marah.
Duh Tari kalau udah marah serem banget deh! ibarat kucing kalau marah berubah jadi singa buas! batin Daniar.
"Nona, sebenarnya...."
"YA ATAU TIDAK!!!!" tanya Mentari menekankan setiap katanya.
Aqis menghela nafas berat. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan yang menjebak ini? kalau dia bicara Mentari akan salah paham dan Darel akan memarahinya. Kalau dia tidak bicara, bisa habis dia dimangsa Mentari yang terlihat sangat marah.
"Ya, nona! tapi..." terpotong.
# MENTARI POV#
Aku sangat marah saat Pretty mengatakan Darel membelikannya apartemen juga memberikannya kartu kredit. Kurang apa aku selama ini kepada Darel?
"Ya, nona! tapi..."
Jantungku serasa ingin berhenti. Ya Tuhan! kenapa sungguh berat cobaan yang kau berikan padaku? apa belum cukup orangtuaku yang sudah meninggalkanku? sekarang kau juga memisahkanku dengan suamiku? astaghfirullah hal'adzim, tidak Mentari! jangan berburuk sangka. Dia lebih tahu apa yang terbaik untukmu daripada dirimu sendiri.
"Cukup!" aku mengangkat tanganku menghentikan Aqis yang ingin berbicara.
Aku yakin apapun yang Aqis ucapkan sekarang adalah bentuk pembelaannya kepada Darel, tuannya.
"Katakan sekali lagi, apa itu benar?" tanyaku lagi masih belum percaya Darel berbuat seperti itu kepadaku.
"Maaf nona!" ucap Aqis menunduk.
Satu kalimat itu sudah mewakili jika Indra pendengaran ku masih normal dan berfungsi dengan baik. Ya Tuhan, aku tidak kuat! air mata ini jatuh begitu saja ke pipiku. Runtuh sudah impianku hidup bahagia bersamanya. Jika memang dia bukan yang terbaik untukku, aku ikhlas melepaskannya pergi. Tapi biarkan aku tetap pada hatiku untuknya.
Aku berjalan melewati semua orang dengan tatapan kosong. Entah apa yang aku pikirkan saat ini. Tiba-tiba dunia terasa hening, tidak ada sesiapapun yang ada disekelilingku. Aku sendiri. Dengan lesu tertatih aku meninggalkan tempat itu. Air mataku terus jatuh tanpa permisi membanjiri pipiku. Sakitt....sakit sekali hati ini.
********
#AUTHOR POV#
Daniar menyusul Mentari yang berjalan meninggalkan mereka disusul yang Lain. Aqis juga terlihat sangat tidak berdaya, raut wajahnya menunjukkan penyesalan karena sudah berkata jujur. Tapi mau bagaimana lagi nasi sudah jadi bubur. Dia diam pun Mentari tetap merasakan kesakitan itu.
__ADS_1
"Tari, kau baik-baik saja?" tanya Daniar menghentikan langkah Mentari.
Melihat wajah sendu Mentari membuat batin Daniar mengutuk Darel. Tidak tega rasanya melihat sahabatnya seperti itu. Merasakan kepahitan dunia berkali-kali. Daniar memeluk Mentari, tanpa sadar dia juga ikut menangis.
"Maaf tari, aku tidak bisa melindungi mu!! hiks...hiks...maafkan akuu!" ucap Daniar terisak.
"Aku mau pulang!" satu kalimat itu yang diucapkan Mentari masih dengan tatapan kosong.
"Iya, kita pulang ya! kita pulang sekarang!" ucap Daniar mengusap air matanya juga air mata Mentari.
Mereka semua memasuki mobil untuk pulang. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam saja.
Tuan, nona Mentari sudah mengetahui semuanya!
Sebuah pesan melalui aplikasi hijau dia kirimkan ke nomor Darel. Aqis sangat menyesal. Berulang kali dia menarik nafas, mengatur suasana hatinya.
"Dimana wanita itu?!" tanya Aqis pada anak buahnya.
"Dia sedang ijin keluar tadi tuan. Ada tiga orang kami yang mengikutinya." ucap bawahan Aqis.
"Aku akan kesana! kalian tunggu saja disini!" ucap Aqis.
Satu orang yang Aqis curigai dalang dari semua hal ini, yaitu Pretty. Hanya wanita itu yang kemungkinan besar penyebab kegaduhan ini.
Sesampainya di depan kamar apartemen Pretty, Aqis menekan bel pintu. Berulang kali dia menekan namun tetap tidak ada jawaban dari dalam. Tiba-tiba....
"Tuan, tolong!!!" panggil seseorang.
Aqis menoleh ke samping. Pretty tengah di gotong oleh dua orang anak buahnya. Keadaannya penuh luka dan cakaran.
"Apa yang terjadi?" tanya Aqis.
"Wanita.....wanita itu yang melakukannya!!!" ucap Pretty lemah.
"Wanita? wanita siapa?" tanya Aqis tidak mengerti.
"Nona muda tuan! tadi mereka bertemu di mall!" ucap anak buah Aqis.
Mereka menceritakan semua kejadiannya kepada Aqis. Raut wajah Aqis seketika berubah menjadi marah.
Plakkkk.......
Aqis menampar wajah Pretty hingga dia terjatuh dengan keras dilantai.
"Kau menamparku?!!! berani sekali kau?! kau tahu aku ini kekasih Darel, aku bisa bilang pada Darel untuk memecatmu!!!" teriak Pretty menahan sakit bekas tamparan Aqis.
__ADS_1
"Kau cari mati yaa!!! berani sekali kau mengadu seperti itu kepada nona!!!! apa kau mau merasakan amarah tuan Darelll???!!!"