Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 35


__ADS_3

Tenanglah Mentari, aku akan segera sampai!!! aku harap kau tidak kenapa-kenapa!!


Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi melewati tikungan dan perempatan, hingga sampai pada ujung jalan dipertigaan Harri melihat segerombolan pria.


"Tuan apa mungkin nona Mentari.....mereka...." ucap Harri menatap lurus kearah depan.


Darel melihat pusat arah pandangan Harri begitu juga Adi.


"Hentikan mobilnya!!" teriak Darel tidak sabar.


"Tapi tu...tuan!!" Adi ingin membantah.


"Aku bilang hentikan mobilnya, SEKARANGG!!!" Darel tambah emosi.


Harri pun menghentikan mobilnya dan Darel langsung turun dari mobil berlari menghampiri segerombolan pria itu.


Adi dan Harri mengikuti Darel dari belakang sambil menyelipkan sebuah pistol dibelakang punggung mereka untuk berjaga-jaga.


BUKKKKKK......BUKKKK.....BUKKKKK...


Beberapa pukulan melayang kewajah beberapa pria itu.


Segerombolan pria itu terkejut dengan kedatangan Darel, Adi dan Harri termasuk juga Mentari.


"Darelllll!!!!" teriak Mentari senang namun terus meneteskan air mata.


Darel melihat kondisi Mentari yang sudah compang-camping dan tidak beraturan membuat emosinya semakin meledak. Tangan Darel mengepal, bersiap untuk menghabisi pria kurang ajar itu.


"Mau jadi pahlawan lo, ha??!!" bentak Salah satu pria.


BUKKKK....


Darel meninju wajah pria itu hingga tersungkur kebawah dengan darah mengucur dari hidung dan mulutnya.


"Bang*at!!!" marah rekan pria itu melihat rekannya dipukul Darel.


Pria pembuat onar itu menghajar Darel bersamaan. Terjadi perang sengit diantara mereka. Adi dan Harri membantu tuannya melawan 8 orang itu.


BUKKK....BUKKK....BUKKK....DESSS......AAAKKKKHHHHH....


Terlihat persaingan tidak seimbang dari pertarungan itu. Dimana Darel saja sebenarnya bisa menghajar mereka dengan sekejap mata.


"Adi!!!" teriak Darel.


Adi mengerti maksud tuannya itu kemudian melemparkan sebuah pistol yang dia bawa tadi.


"Tangkap tuan!!" teriak Adi sambil melemparkan pistol kearah Darel. Darel menangkap pistol itu dan...


DORRR...DORRRR..DORRR...DORR....DORR....


Pria pembuat onar itu sudah terkapar jatuh dijalanan. Peluru Darel dengan tepat bersarang di dada pria-pria itu membuat mereka mati seketika.


Darel menjatuhkan pistolnya, mengedarkan pandangan mencari wanita yang membuatnya melawan pria jalanan itu.


Mentari yang ketakutan berdiri dipinggir jalan. Air mata masih mengalir deras kepipinya dengan nafas yang tersengal-sengal.


Darel menghampiri Mentari yang sangat ketakutan, merangkul tubuh Mentari memberikan rasa aman dalam pelukannya.

__ADS_1


"T...ter.....ima.....ka....sih....." ucap Mentari sesenggukan.


Darel mempererat pelukannya. Mentari pun membalas pelukan Darel.


Adi dan Harri tercengang melihat pemandangan aneh itu. Mereka saling menatap kemudian kembali menatap kearah Darel dan Mentari.


Sumpah demi apa? tuan Darel memeluk nona Mentari? jangan-jangan tuan sedang kesambet hantu jalan ini lagi, hiii serem!! batin Harri yang tidak percaya dengan matanya.


Apa benar dia tuan Darel? perasaan tadi marahan dengan nona Mentari dan sekarang..... sekarang malahhhh....


Adi dan Harri bertanya-tanya dengan pemandangan tidak biasa itu. Mereka bahkan beberapa kali mengusap matanya memastikan matanya tidak salah melihat, namun pemandangan itu tetap saja. Harri bahkan menampar wajahnya sendiri memastikan dia tidak sedang bermimpi.


"Apa kau gila? lebih baik menampar pohon tuh jauh lebih berguna untuk menjajal tanganmu keras atau tidak, jangan menampar wajahmu sendiri!" goda Adi.


Plakkkk...


Harri menampar wajah Adi.


"Kau mau aku bunuh, ha!! kenapa malah menamparku!!!" Adi emosi.


"Kau bilang jangan menampar wajahku sendiri, ya aku tampar wajahmu lah!! lalu apa salahku!!" ucap Harri polos.


"Kau ini!!" memegang pipinya yang panas.


Disisi lain...


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Darel lembut.


Mentari yang masih sesenggukan menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Darel sekarang melihat Mentari dari bawah sampai atas. Melihat baju yang dikenakan Mentari sudah sobek semua, wajahnya sembab dengan mata yang membengkak karena terus menangis, dan rambut yang sudah acak-acakan.


"Baiklah!" jawab Mentari.


Darel membawa Mentari masuk ke mobil kemudian mengambil jas miliknya yang ada di jok belakang mobil dan memakaikannya ketubuh Mentari untuk menutupi bajunya yang sudah robek.


"Kau tidur lah, nanti akan aku bangunkan kalau sudah sampai!" ucap Darel.


Mentari menganggukkan kepalanya mengikuti perintah Darel. Dia juga merasa sangat lelah dan akhirnya tertidur di pelukan Darel.


"Kita pulang ke rumah saja!"


"Tapi tuan bagaimana dengan nona Mentari?" tanya Harri penasaran.


"Dia akan menginap dirumahku!" jawab Darel santai.


"Apa?!!" teriak Adi dan Harri sambil menatap Darel.


"Apa? ini sudah malam, jarak rumah Mentari dari sini sangat jauh!! lebih dekat rumah kita kan. Lagian kalian tidak lihat dia? kalau dia pakaian begini ditambah diantar dengan pria asing apa kata tetangganya nanti!!??" Darel alasan.


Sebenarnya Darel sangat khawatir dengan kondisi Mentari namun dia gengsi untuk mengatakannya.


"Ah, baiklah tuan kalau begitu!" ucap Harri.


Mereka melajukan mobil kembali kerumah Darel.


Maafkan aku karena datang terlambat tadi! harusnya aku tidak membuat keributan saat kau bersamaku, harusnya aku menahan emosiku tadi! maafkan aku!! batin Darel menyesal.

__ADS_1


********


Disebuah bar.


"Apa kau yakin tuan Darel tidak akan menyadari aktivitas menyimpang kita? kau lupa saat pertemuan beberapa hari yang lalu, dia menyinggung soal ini kan!" ucap Erik takut.


" Maka dari itu kita harus bisa membentengi diri kita!" ucap Ozan.


"Maksudmu?" Erik tidak mengerti.


"Ini!" memberika sebuah logo.


"Drago Mark?" tanya Erik sambil mengernyitkan dahinya.


"Tentu saja!" ucap Ozan yakin.


"Apa kau bercanda?"


"Hanya kelompok ini yang sama kuat dan besar seperti kelompok Darel! dan kalau kita bisa meyakinkan ketua mereka untuk merekrut kita menjadi anak buahnya, gaji kita akan lebih besar dari yang diberikan Darel." jelas Ozan.


Ozan dan Erik adalah pimpinan dari kelompok pemberontak yang ada didalam kelompok Darel. Bukan hanya mereka berdua, namun juga ada beberapa bawahan mereka dan dari kelompok lain yang ikut menjadi pemberontak namun tidak terlalu menunjukkan ketidaksukaan mereka terhadap Darel.


"Hemm, bagaimana cara kita agar bisa masuk ke kelompok ini?"


"Kita harus bisa menarik perhatian mereka dengan memasuki dunia mereka."


"Maksud mu kita harus menjual obat-obatan terlarang, melakukan perdagangan gelap?!" ucap Erik terkejut.


"Nilai 100 untukmu, hahahaha!!" Ozan tertawa.


Tanpa mereka sadari dari setiap sudut bar itu terdapat CCTV dan beberapa mata-mata yang bekerja untuk Darel.


"Tuan, kami sudah mendapat rekamannya. Saya akan segera mengirimkannya pada anda!" ucap seorang pria dengan pakaian pelayan.


"Ikuti terus mereka! laporkan setiap gerak-gerik dan percakapan mereka!! aku akan memberitahu pada tuan Darel, biar tuan sendiri yang menentukan langkah selanjutnya!" ucap pria yang berada disebrang telepon.


"Baik tuan!"


Panggilan berakhir. Pria yang menyamar menjadi pelayan itu kembali beraktivitas seperti biasa supaya tidak dicurigai.


********


Didalam mobil Darel.


"Siapa Adi?" tanya Darel sambil menopang kelapa Mentari didadanya.


"Salah satu mata-mata kita tuan!" ucap Adi.


"Kita bicarakan itu nanti saja!" ucap Darel yang mengerti arah pembicaraan Adi.


Harri yang fokus menyetir hanya diam dan mendengarkan percakapan tuan dan rekannya itu.


Mereka sudah membuat Singa kelaparan terluka! aku akan lihat bagaimana reaksi mereka saat singa itu hendak 'memakan' mereka. Pasti akan seru, hehehe!! batin Harri.


"Fokus kedepan Harri!" bentak Darel yang melihat Harri tidak fokus menyetir.


"Hehehehe, maafkan saya tuan!" ucap Harri cengengesan.

__ADS_1


Dasar bocah!! batin Darel.


__ADS_2