
# Abdulah POV #
Aku baru saja sampai dirumah. Motorku diparkirkan di depan rumah. Dengan penuh semangat aku memikul sekarung makanan yang aku ambil dari tempatku bekerja dua hari yang lalu. Ini sangat menguntungkan bagiku, meskipun gajiku dikurangi tapi dengan adanya sistem pengambilan barang reject ini aku yakin bisa menghasilkan banyak uang lebih dari si Ucup. Lah Ucup saja yang gajinya hanya tiga juta lima ratus bisa beli rumah mewah, mobil, dan bahkan bisa memberangkatkan orang tuanya umroh bulan depan, masa aku yang gajinya empat juta tidak bisa?
"Assalamualaikum!! dekk!! mas pulangg!!" teriakku kala memasuki rumah.
Ku letakkan dengan hati-hati karung itu lalu aku duduk bersandar di sofa karena lelah bekerja. Tidak lama kemudian ku dengar suara langkah kaki tergesa-gesa menuju ke arahku. Aku yakin itu adalah istriku karena aku hafal betul bagaimana cara dia berjalan.
"Apa ini, mas? sampah yaa? kok malah bawa sampah pulang sih, mas? harusnya tuh bawa pulang uang, atau perhiasan, atau apalah gitu! besok biar aku temuin lagi si Tari itu biar kamu dapat banyak barang mewah! enak aja dia senang-senang dengan kemewahannya, lah kita sengsara begini!" dengus Surti.
"Sudahlah! kamu jangan pernah temuin si Tari lagi kalau mau aku tetap bekerja! kamu sudah tahu kan aku terikat kontrak dengan pak Darel dan disalah satu kontrak itu tertulis kalau kamu terlihat menemui Mentari untuk mengusiknya maka aku akan dipecat! dan bukan hanya itu saja, namaku akan masuk dalam daftar hitam baik diperusahaan besar maupun kecil! paham itu?!!" sentakku kesal.
Ku lihat Surti menatapku dengan tatapan sendu. Memang tidak pernah aku semarah ini padanya. Ini juga demi kelangsungan hidup keluarga kami! kalau aku sampai dipecat dari perusahaan ini, bukan hanya aku akan kehilangan pekerjaan saja, tapi juga kenikmatan dan impian-impian yang sudah ada diotakku kala aku sudah punya uang nantinya.
"Sudah! kamu bawa masuk dan tata ituu! aku mau mandi dulu, gerah!" ucapku melangkah meninggalkan istriku.
Sungguh, bukan maksudku membentaknya tadi. Tapi harusnya dia mikir kalau aku sampai di berhentikan dari pekerjaan ini, mau makan pakai apa kita? terlebih istri dan anakku itu terbilang boros. Pernah dulu karena tidak mau kalah saing dengan bu Sudar, dia berani mengambil uang dapur sebesar tiga juta rupiah untuk membeli sebuah gelang saja. Aku tak marah kala itu, hanya mengancam dengan mengatakan bahwa selama satu bulan kedepan kami hanya akan makan olahan sayuran dari kebun belakang dengan sangat tenang. Tentu dia tidak mau. Lah setiap hari saja selalu ada ikan kalau tidak ayam. Mana mau dia makan sayur saja! huh dasar!
Suami bu Sudar adalah seorang sopir truk. Rumahnya mungkin tidak terlalu besar dari rumahku, namun barang-barang didalamnya termasuk mahal-mahal. Pernah aku lihat saat selamatan dulu, ada sebuah guci antik. Ketika kutanyakan dia bilang peninggalan Mbah buyutnya, ini hiasan khusus dan kalau dijual bisa sampai puluhan juta. Ukirannya hanya terdiri dari pepohonan dan juga beberapa binatang saja. Sepertinya mengambil latar hutan.
Aku awalnya tidak yakin kalau harganya bisa sampai semahal itu. Lalu diam-diam aku memotret guci itu kemudian memperlihatkan foto itu kepada salah satu teman lamaku yang merupakan kolektor barang antik. Dan benar saja! dia bilang guci itu sangat langka dan dicari para kolektor barang antik. Harganya sekarang bisa sampai lima puluh juta rupiah karena ukirannya yang sangat detail. Aku sangat syok mendengarnya.
Istriku memang menganggap bu Sudar adalah saingannya. Apapun yang dia miliki oleh bu Sudar, istriku harus punya bahkan kalau bisa jauh lebih bagus dari yang dimiliki bu Sudar. Bahkan istriku sering kali ki dengar menjelek-jelekkan profesi suami bu Sudar yang hanya seorang sopir itu sedangkan aku bekerja di perusahaan besar dan berseragam meski hanya seorang satpam.
********
__ADS_1
Selesai mandi, aku keluar kamar. Secangkir kopi juga sepiring pisang goreng sudah tergeletak didepan televisi yang sangat besar itu. Aku duduk dan mulai menyalakan televisi sambil menikmati hidangan sore ku.
"Mas, itu barang-barang dikarung kamu yang beli? dapat uang darimana? jangan-jangan kamu merampok yaa!!" tuduh istriku kala aku baru menghabiskan setengah pisang goreng.
"Astaghfirullah hal'adzim!! kamu ini jangan menuduh yang bukan-bukan yaa!!" ucap ku tersentak.
"Lalu semua itu dari mana? mana kamu taroh di karung begitu?!!"
"Aku itu kerja di cabang 5!" ucapku belum selesai berbicara.
"Terus?!"
"Dengarkan aku duluu!! belum selesai ngomong juga sudah dipotong!" ucapku geram.
Surti diam saja. Aku pun mulai melanjutkan ceritaku. Ku beritahu semuanya agar dia tidak menuduhku yang bukan-bukan. Selesai bercerita, ku lihat senyum mengembang di tiap sudut bibirnya.
"Awalnya juga aku mikir begitu! tapi rekan kerjaku bilang kalau masih ada tiga tanggal lagi dan biasanya di tanggal terakhir itu barangnya bagus-bagus dan enak-enak!" ucapku mengulangi perkataan Ucup tadi.
"Ohh, ya sudah kalau begitu! kamu gajian masih lama kan mas?" tanya Surti.
"Dua minggu lagi! tapi masih setengah gaji karena aku masuk kerja juga masih setengah bulan! tanggal gajian tetap ikut tanggal perusahaan!" ucapku.
"Kalau begitu nanti satu juta kirim ke Aziz yaa! beberapa barang itu aku mau kirim ke Aziz buat makan dia sehari-hari." usul Surti.
"Boleh! sekalian bilang sama dia! kalau aku cuma akan menjatah keperluan buat sekolahnya mulai hari ini. Semua kebutuhan makannya biar dikirim dari yang aku bawakan itu!" ucapku.
__ADS_1
"Loh, mas tapi kan..."
"Sudahlah! keputusanku sudah bulat! kalau dia tidak mau, suruh dia cari kerja sendiri!" ucapku kembali melahap pisang goreng.
Tak ku hiraukan Surti yang terus ngedumel di sampingku. Volume televisi semakin aku naikkan agar tidak mendengar ocehannya. Panas sekali rasanya telinga ini mendengar ocehannya. Kalau Aziz tidak mau mematuhi perintahku kali ini, biarlah dia mencari uang sendiri. Sekalian biar dia belajar susahnya mencari uang.
********
# Author POV #
Hari ini adalah hari bahagia bagi Tomi. Pasalnya dia sudah resmi menjadikan Shiren sebagai istrinya. Jo yang berdiri di dekat orang tua angkat Shiren beserta adiknya menatap ke arah Tomi dengan tatapan mata penuh haru.
Sebelum acara ini berlangsung, Jo secara diam-diam mendatangi ruangan Tomi yang kala itu tengah bersiap dengan jas putihnya.
"Tom!" panggil Jo memasuki ruangan calon adik iparnya ini.
"Ya?" jawab Tomi singkat.
Tomi berpikir kalau kedatangan Jo hanya untuk menjahilinya seperti biasanya.
"Tolong jaga adek gue yaa! gue yakin lo pasti mampu melindungi dia! tolong beri dia semua kasih sayang lo, yang mana belum bisa almarhum orang tua gue kasih ke dia. Titip dia yaa, jangan buat dia sakit hati. Kalau loe bosan sama dia, tolong kembalikan dia sama gue secara layak seperti lo meminta dia dari gue!" ucap Jo panjang lebar dengan isak tangis yang tertahan.
Jo tidak bisa menyembunyikan perasaan harunya kala melihat sang adik telah mendapatkan pendamping hidupnya. Tomi yang mendengar perkataan dari Jo pun ikut terharu. Dia memeluk calon kakak iparnya dengan sangat hangat. Baru kali ini mereka terlihat sangat akrab.
"Makasih udah merestui hubungan gue sama Shiren! gue nggak akan janji sama lo untuk semua yang lo katakan, tapi akan langsung gue buktiin ke elo kalau gue emang sungguh-sungguh mencintai adik lo! gue cuma mau lo percaya sama gue kalau gue bisa buat adek lo bahagia!" ucap Tomi.
__ADS_1
"Gue yakin lo pasti bisa melakukannya!" ucap Jo.