
Jam menunjukkan pukul 21.30, keluarga Sanjaya memutuskan untuk kembali kekamar mereka masing-masing untuk beristirahat.
Mentari yang hendak melewati kamar Darel tiba-tiba tangannya ditarik kedalam kamar tersebut.
"Apa yang sedang kau pikirkan tadi? jangan pikir karena keluargaku sudah membelamu kau jadi besar kepala ya!" ucap Darel datar.
"Ish, kau ini ya, kenapa sih selalu berpikiran negatif terus padaku? aku juga tidak memikirkan hal buruk tentang keluargaku!" ucap Mentari sambil melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Darel.
"Mereka itu keluargaku bukan keluargamu!" ucap Darel menahan emosi.
Mentari diam sesaat.
"Mereka itu juga keluargaku sekarang. Suka tidak suka, mau tidak mau, sekarang aku juga bagian dari keluargamu ini!" ucap Mentari menatap lekat mata Darel.
Sial, benar juga yang dikatakan wanita ini! batin Darel yang membenarkan perkataan Mentari.
"Kalau kau hanya ingin membicarakan itu saja, aku akan pergi!" ucap Mentari hendak memutar gagang pintu.
"Tunggu!" ucap Darel menghentikan tangan Mentari.
"Ada apa lagi?" tanya Mentari malas.
"Anak laki-laki yang tadi datang, bukankah dia yang ada ditokomu hari itu?" tanya Darel yang mengingat Iwang.
"Oh maksudmu Iwang? iya dia anak yatim piatu, dia tinggal hanya bersama neneknya saja. Aku kasihan padanya dan memberikan pekerjaan untuknya sebagai upahnya aku berikan uang dan beberapa kue dari tokoku!" jelas Mentari.
"Oh, kenapa kau tidak langsung memberinya uang saja kalau begitu?" tanya Darel penasaran.
"Ya karena dia terbiasa hidup dijalanan. Kehidupan yang tidak adil memaksanya untuk bekerja keras. Jika aku memberikan uang dengan cuma-cuma dia akan menolak karena dia merasa tidak melakukan pekerjaan apapun, makanya aku memberikan dia pekerjaan yang menurutku tidak memberatkan dia!" jelas Mentari.
"Hem, kenapa kau melakukan itu?" tanya Darel penuh selidik.
__ADS_1
Tentu saja Darel menanyakan hal itu. Dia tidak yakin Mentari melakukan itu karena hanya kasihan saja. Darel berpikir Mentari melakukan itu karena dia ingin mendapat pujian, entah dari siapapun itu.
"Karena...karena...karena aku juga pernah berada diposisinya!" ucap Mentari langsung menundukkan kepalanya.
Darel merasa bersalah dengan pertanyaan yang baru saja dia lontarkan itu.
Bukankah dia hidup dengan kecukupan? kenapa dia bilang pernah berada diposisi anak kecil itu? batin Darel.
"Aku belum bisa bercerita padamu! masalaluku terlalu pahit untukku kenang!" ucap Mentari mulai menitikkan air matanya.
Darel merasa kesedihan yang Mentari rasakan saat ini. Dia langsung merengkuh tubuh Mentari kedalam pelukannya.
"Menangis lah!" ucap Darel.
Mentari semakin terisak mendengar ucapan Darel. Setelah cukup tenang Mentari pun menjauhkan dirinya dari pelukan Darel.
"Terimakasih!" ucap Mentari.
Mentari pun memutuskan untuk kembali kekamarnya karena hari juga sudah larut.
Sepeninggal Mentari, Darel hanya terdiam disisi ranjangnya.
Apa masalalunya semengerikan itu sampai-sampai dia menangis saat mengingatnya? batin Darel.
Darel pun memutuskan untuk beristirahat. Dia sangat lelah hari ini.
********
Dirumah Daniar, Zanu kembali diundang untuk makan malam. Zanu dan Daniar memutuskan untuk duduk-duduk dihalaman depan.
"Kamu nyaman nggak disini?" tanya Daniar membuka obrolan.
__ADS_1
"Lumayan, kenapa?" tanya Zanu masih menatap bintang-bintang.
"Enggak kok cuma tanya aja!" ucap Daniar.
Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini hati Daniar sedang berbunga-bunga. Entah karena Zanu yang mau menghadiri acara makan malam mereka atau entah karena hal lainnya, yang jelas hari ini Daniar terlihat sangat bersemangat.
"Emm, sudah malam nih, aku pulang saja dulu!" ucap Zanu setelah melihat jam mewah yang melingkar ditangannya.
"Oh iya, nggak mau pamit sama mama sama papa dulu!" tawar Daniar.
"Boleh deh, sekalian ambil kunci mobil tadi ketinggalan didalam!" ucap Zanu sambil cengengesan.
Mereka pun masuk kedalam rumah. Setelah berpamitan, Zanu pun pulang dengan mengendarai mobilnya memecah jalanan yang sudah sangat sepi.
Zanu...zanuu...sungguh kamu membuatku gila! batin Daniar sambil terus menatap ke jalanan meskipun mobil Zanu sudah menghilang dari pandangannya sedari tadi.
"Niar kamu nggak mau masuk apa? udah malam nih nanti masuk angin loh!" teriak mama Daniar dari dalam rumah.
"Eh iya ma, bentar!" ucap Daniar yang tersadar dari lamunannya.
Daniar bergegas masuk kedalam rumah. Tidak lupa juga dia mengunci pintu rumah, kemudian bergegas masuk kekamarnya sebelum dicecar dengan berbagai pertanyaan dari orang tuannya yang dia yakini sudah menunggu dari tadi.
"Loh Niar, mama sama papa mau ngomong kok malah langsung masuk kekamar sih!" goda mama Daniar saat Daniar dengan cepat masuk kekamarnya.
"Hahaha, ya itulah anak mu ma, malu dia pasti kalau kita tanyakan soal Zanu!" ucap papa Daniar sedikit keras.
Yah mungkin papa Daniar memang sengaja mengeraskan volume suaranya agar Daniar mendengarkan perkataannya.
Sedangkan Daniar dari dalam kamar terlihat sangat gugup namun senyum dibibirnya tidak putus-putus.
Aku benar-benar gila dibuatnya! oh Tuhan kenapa kau siksa aku dengan cinta yang entah bisa berlabuh atau tidak ini! aku benar-benar tersiksa,huhuhu...! batin Daniar.
__ADS_1