
*Flashback on*
"Adi, kau tolong belikan aku kopi capuccino. Gulanya sedikit saja ya!" ucap Darel ketika turun dari mobil.
"Baik tuan, saya akan belikan." jawab Adi kemudian melajukan mobilnya ke caffe yang tidak jauh dari rumah sakit.
Darel memasuki rumah sakit menuju ruangan Mentari. Sesampainya diruangan Mentari.
"Dimana Harri?" tanyanya langsung memasuki kamar.
"T..tuan, anda?" tanya Angel takut.
Harri dimana kamu, tuan sudah datang dan kau belum datang. Aku menjadi takut. batin dokter Angel.
"Dimana Harri?" tanya Darel mengulangi pertanyaannya.
"Dia...dia sedang keluar tuan. Sata menyuruhnya untuk mengantarkan Laila ke toko saya. Tolong anda jangan marah, tuan." ucap Mentari melihat wajah tidak suka Darel.
Bagas datang dan melihat kehadiran Darel.
"Apa Harri membawa mobilmu? mobilmu tidak ada diparkiran tadi?" tanya Darel menatap Bagas.
"Iya, tadi dia meminjamnya untuk mengantar Laila. Jadi aku meminjamkannya. Kenapa?" balik bertanya.
"Tidak, hanya saja aku punya rencana yang bagus. Kau sembunyikan dibalik sini, dan aku akan pura-pura marah pada Harri, dan kalian berdua, berektinglah seperti ketakutan dan membela Harri, oke?" menyunggingkan bibirnya.
Apa yang akan kau lakukan sebenarnya?" batin Bagas.
*Flashback off*
"Jadi begitu ceritanya, sekarang aku paham kenapa kau menyuruhku bersembunyi dan merekamnya, hahahaha!" ucap Bagas tidak bisa menahan tawanya lagi.
Angel, dan Mentari juga tertawa geli melihat ekspresi Harri yang seolah-olah ingin menangis. Darel hanya terseyum sedikit, puas karena sudah berhasil menjahili anak buahnya yang cengeng itu. Sedangkan Adi yang baru saja mengerti akan apa yang terjadi pun ikut tertawa.
"Hahahaha, kalau saja tuan Darel memberitahu rencananya dari awal, aku pasti akan bermain-main dulu denganmu! kau lihat ekspresi mu tadi, aku sungguh kasihan melihatnya, hahahaha!" ucap Adi menepuk pundak Harri.
Mereka semua tertawa bersama, kecuali Laila dan Daniar. Mereka masih bingung dengan apa yang terjadi.
Sebenarnya mereka ini siapa sih? kalau mereka temannya Mentari, tapi kok Mentari tidak pernah cerita padaku? dan bagaimana bisa Mentari dirawat diruangan ini? ruangan yang begitu besar, ckckckck bahkan kamarku saja jauh lebih kecil dari ini! batin Daniar.
Mentari tersadar akan seseorang disamping Laila, berdiri diam kebingungan.
"Daniar? kau? bagaimana bisa kau kemari?" tanya Mentari.
Kini semua mata tertuju pada seseorang yang bernama Daniar.
"Hei, harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau bisa ada dirumah sakit? kenapa kau tidak memberitahuku? kau sakit apa? dan siapa mereka semua ini? bagaimana bisa kau dirawat diruangan yang besar ini?" tanya Daniar penasaran.
__ADS_1
"Dan siapa mereka semua ini?" ucapan Daniar masih terdengar jelas ditelinga Darel.
Apa mereka ini tidak pernah nonton tv? wajahku yang tampan dan sempurna ini sudah sangat sering masuk tv. Tapi mereka tidak mengenalku sama sekali? gumam Darel.
Melihat ekspresi Darel, Bagas hanya menghela nafas panjang.
Aku rasa dia sedang menyombongkan ketampanannya!
"Mereka ini sudah menolongku, Niar. Kalau tidak ada mereka mungkin aku sudah habis dihajar pencopet tadi. Oh ya, bagaimana dengan pencopetnya?" tanya Mentari yang tersadar dengan para pencopet.
"Mereka sudah aman,nona. Tidak perlu diingat lagi!" ucap Adi datar.
Yang dimaksud aman adalah aman dari amukan Darel.
Darel yang menyadari perkataan Adi barusan langsung menatapnya tidak suka.
"Oh begitu, terimakasih ya sudah menolong sahabatku. Oh ya pertanyaanku masih belum kau jawab semua!" menatap Mentari.
"Heih kau ini. Ini rumah sakit tuan Darel, karena itu dia membawaku kemari, dan dirawat disini." ucap Mentari sambil melihat kearah Darel.
Kenapa aku senang kalau dia menatapku begitu?
Derttt...dert.......dert......
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Darel.
"Kau dimana? ada hal yang ingin papa bicarakan, kau segera pulang! jangan banyak alasan!" menutup panggilan.
Apa-apaan papa ini, menelpon hanya untuk mengatakan itu saja? cihh...! mendengus kesal.
"Ada apa tuan?" tanya Adi.
Harri masih diam, sedikit merasa malu karena tingkahnya yang barusan.
"Adi, Harri antarkan aku kerumah utama, dan kalian bisa menjaganya bukan?" menatap kearah Laila dan Daniar.
"Bisa!" jawab keduanya serempak.
"Hem, bagus!"
Mereka bertiga pergi dari rumah sakit menuju rumah utama, rumah papa dan mama Darel.
Hal penting apa sampai papa menyuruhku untuk segera datang?
Hampir 45 menit perjalanan, mereka akhirnya tiba dirumah utama.
"Selamat siang tuan!" sapa pak Joni, kepala pengawal dirumah utama.
__ADS_1
Pak Joni menang sudah berumur. Umurnya hampir 50 tahun, selisih 5 tahun dari papa Darel. Pak Joni menjadi salah satu pelayan senior dirumah itu, bahkan anaknya, Lukas juga mengabdikan diri menjadi pelayanan keluarga Ardi Sanjaya, namun dia bekerja untuk Darel.
"Hem, siang,pak!" balasnya datar.
Pak Joni tidak tersinggung dengan perlakuan Darel padanya. Dia sudah tahu benar sifat anak dari tuannya itu.
Aku berdoa semoga kau bisa menemukan wanita yang bisa merubah sifat buasmu itu, tuan Darel! batin pak Joni.
********
Didalam rumah megah, tuan dan nyonya Ardi sedang duduk disofa ruang keluarga. Mereka sedang menunggu kedatangan Darel.
"ehem, ma? pa?" Darel berjalan mendekati mamanya.
"Sayang, kamu apa kabar? mama kangen sekali sama kamu." memeluk anaknya dengan kasih sayang.
"Ini dia bocah bau kencur! apa kau tidak bisa mengunjungi mama mu ini setiap pekan? kau selalu saja merepotkan!" ucap pak Ardi kesal.
"Yah, bagaimana lagi, pa. Kan aku harus meneruskan bisnis papa. Dibawah dan diatas!" jawaban singkat Darel membuat pak Ardi semakin geram.
Namun apa yang dikatakan Darel memang benar, dia mewariskan perusahaan utamanya pada Darel, dan juga menyuruhnya untuk mengatur kelompok mafia Dendley.
Pak Ardi masih memiliki beberapa kelompok besar yang masih setia padanya, sedangkan hampir seperempat anak buahnya dulu dibagi untuk masuk ke kelompok Dendley, pimpinan Darel.
Sekarang kelompok Dendley sudah berkembang sangat pesat, bukan hanya anak buahnya yang tangguh-tangguh tapi juga banyak kelompok yang bergabung bersamanya. Bahkan ada 2 kelompok besar yang dipimpin oleh seorang wanita, yaitu Rose yang diketuai Sandra dan Argreta yang diketuai Maretha.
"Hem, jadi papa menyuruhku untuk cepat-cepat datang hanya untuk temu kangen?" ledek Darel pada sang papa.
Plakkk.....
mama Darel memukul pundak Darel.
"Kau ini, apa kau akan kesini jika dipanggil saja? kau sudah besar makanya kau melupakan kami, benarkan?" ucap mamanya sedih.
"Oh, jangan mulai lagi! iya-iya aku akan sering-sering main kesini." Darel mengalah.
"Sebenarnya papa ingin kamu datang kemari untuk membicarakan hal penting." ucap papa Darel serius.
Darel menatap papa nya serius.
"Papa ingin menjodohkan kamu dengan anak teman papa!" ucapnya santai tapi serius.
"Apaaa?? bagaimana papa bisa mengambil keputusan begitu? aku tidak mengenal gadis itu dan...dan papa ingin menjodohkan kami?" Darel tidak setuju.
"Darel!!! ini yang terbaik buat kamu dan gadis itu! papa tidak mau tahu, kamu harus menikah dengannya! keputusan papa sudah final!" sedikit berteriak.
"Ma?" menatap mamanya.
__ADS_1
"Sayang, papa punya janji hutang Budi pada temannya itu, karena papa, dia harus menjalani kehidupan yang keras ini sendirian. Jadi tolong ya, kamu mau dijodohin dengan dia, demi mama." ucap mama Darel memohon.