
Dorrr.....
Darel menoleh ke sampingnya. Terlihat anak buah Jo yang hendak menyerangnya ambruk akibat tembakan dari Bagas.
"Heh, terimakasih!" ucap Darel.
"Sama-sama!" jawab Bagas.
Pertarungan mereka terlihat sengit dan menarik. Jo dan juga pria bertopeng menikmati pertarungan itu seolah tengah menonton film action.
Hampir satu jam lamanya, ratusan anak buah Jo sudah dihabisi semua oleh Darel dan sahabatnya.
"Hah....segini doang?" tanya Arul sombong.
Tidak terlihat sama sekali lelah di wajah mereka berlima, yang ada malah senyum puas mereka yang merekah di bibir.
"Ohhh kau sombong yaaa!" ucap pria misterius itu berdiri dari duduknya.
"Coba kita lihat apakah kalian bisa sombong lagi setelah ini!" ucap pria misterius.
"Hah, apa maksudnya?" tanya Arul tidak mengerti.
"Serang merekaaaa!!!!" teriak pria misterius.
Darel dan yang lain celingukan mendengar teriakan pria misterius.
Bommmmm.......
"Akhhh!!!!!!" teriak Darel dan yang lain.
Sebuah bom kecil dilemparkan tepat berada di belakang mereka berlima membuat mereka terpental cukup jauh akibat letusan bom tersebut.
"Darelll!!!!" teriak Mentari.
"Akhh...." rintih Darel kesakitan.
"Hahahaha.....bagaimana Darel? apa rasanya sakit?" tanya pria misterius.
"Siapa kau ini?" tanya Darel.
Saat ini Bagas, Arul, dan Zanu terkapar tidak sadarkan diri. Beberapa luka juga mereka dapatkan akibat bom tadi.
"Hahahaha siapa akuu? kau lupa padakuu?" tanya pria misterius.
"Kalian semua, tahan mereka!" perintah Jo kepada anak buahnya.
Ternyata, masih ada banyak anak buah Jo namun mereka bersembunyi terlebih dahulu. Mungkin strategi mereka adalah membuat Darel dan yang lain kelelahan dahulu baru mereka menyerang secara besar-besaran.
Anak buah Jo mulai mengikat tangan dan kaki Darel dan yang lain. Bagas, Arul, dan Zanu yang masih tidak sadarkan diri diikat menjadi satu.
"Apa yang kau mau!!!" teriak Rohan hendak melepaskan diri.
"Yang aku mauu??? apa yaaa!" ucap pria misterius lalu mengarahkan jari telunjuknya ke dagu seolah tengah berpikir.
"Kematian kalian semuaaa, hahahahaa!!" ucap pria misterius.
"Kau tidak bisa membunuhku dengan mudah pria bertopeng!" ucap Darel menyunggingkan bibirnya.
"Ohh, begitu yaa!! hemm..."
__ADS_1
"Aku mungkin tidak bisa membunuh fisikmu! tapi.... aku akan membunuh batinmu!" ucap pria misterius mengarahkan pedangnya hendak menusuk Mentari.
"Tidakk!!!!" teriak Darel.
"Berhentiii!!!!!"
Mereka semua menoleh ke sumber suara. Tomi dan pasukan besar Darel sudah tiba disana. Bahkan ketua kelompok bawahan Darel juga ada disana.
"Haha bantuan sudah tiba!" ucap Rohan lega.
Mata Jo terfokus kepada wanita yang tengah dibonceng oleh Tomi. Jo merasa sesuatu yang aneh saat melihat wanita itu.
"Sa...sayang....aku....takut!" ucap Shiren lirih.
Dia bersembunyi dibalik punggung kekasihnya saat kedua maniknya bertemu dengan kedua manik milik Jo.
"Jangan takut, dia adalah kakakmu!" ucap Tomi.
"Dia? seorang pembunuh itu kakakku?" tanya Shiren terkejut.
"Hei, siapa dia!" tanya Jo menunjuk kearah Shiren.
"Dia adalah adikmu yang hilang belasan tahun yang lalu!" ucap Tomi lantang.
Deg.....
"Adikku? benarkah adikku? Sharina? apa....itu dia?" tanya Jo berkaca-kaca.
"Sharina?" tanya Shiren dan Tomi.
"B...boleh aku melihat tanda di punggungmu?" tanya Jo hendak memastikan kebenarannya.
Shiren menatap kearah Tomi dan dibalas anggukan kecil oleh pria itu. Shiren pun turun dari motor dan mendekat kearah Jo yang juga mendekat ke arahnya. Shiren lalu memperlihatkan tanda bulan sabit di punggungnya. Tanda yang selalu Jo ingat yang tidak lain adalah milik adik kecil yang selama ini dia cari.
Jo hendak menyentuhkan telapak tangannya ke wajah Shiren namun Shiren malah memundurkan tubuhnya kebelakang.
"Aku adalah kakakmu!! kau adikku!!! ayah, andai kau masih hidup, aku sudah menemukan tuan putri kita, dia tumbuh menjadi wanita yang cantik!" ucap Jo berlinang air mata.
Belasan tahun dia dan sang ayah mencari keberadaan Sharina hingga sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya pun dia meminta Jo untuk terus mencari keberadaan sang adik.
"Boleh.....bolehkah aku memelukmu?" tanya Jo.
Shiren menoleh kebelakang, seolah meminta ijin kepada Tomi yang dibalas anggukan lagi oleh Tomi. Shiren mendekati Jo yang sudah merentangkan tangannya sedari tadi hendak memeluknya.
"Oh adikku!!!! kau kemana saja selama ini??? kami mencari mu kemana-mana!!!" ucap Jo menumpahkan segala kerinduannya kepada sang adik.
Shiren masih diam, dia bingung harus berucap atau berekspresi seperti apa. Hal baru ini benar-benar sangat canggung baginya.
"Kak.." ucap Shiren ragu.
"Kau....kau panggil aku apa tadi?" tanya Jo ingin Shiren mengulangi ucapannya tadi.
"Kak?!" tanya Shiren.
"Yah, aku adalah kakamu! aku kakakmu!!!" ucap Jo kembali memeluk Shiren dengan sangat erat.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Shiren ragu.
"Tentu! apapun yang kau mau akan aku berikan! emas? berlian? rumah mewah?" tanya Jo namun dibalas dengan gelengan kepala oleh Shiren.
__ADS_1
"Lepaskan mereka semua! mereka adalah temanku! jika kakak menahan mereka, maka sama artinya dengan menahan ku juga!" ucap Shiren pelan.
"Tapi...." ucap Jo ragu.
"Tidak bisa!!!" teriak pria misterius itu membuat mereka menoleh kearahnya.
"Kau sudah berjanji padaku! kau tidak bisa mundur sekarang!" ucap pria misterius itu terlihat marah.
"Maafkan kakak, Sharina! kakak sudah terlanjur berjanji kepada pria bertopeng itu untuk membalaskan dendamnya kepada Darel!" ucap Jo tidak bisa berkutik.
"Tapi....kakak...." terhenti.
"Kau tidak bisa menjilat air liur mu dlse diri setelah kau buang, Jo! aku sudah menepati janjiku dengan membawa Suli padamu! dan aku menagih janjiku padamu!" ucap pria misterius mengingatkan Jo akan janjinya.
"Maafkan aku!" ucap Jo pasrah.
"Sudah! aku bisa membalaskan dendam ku sendirian!" ucap pria hendak menebaskan pedangnya.
Prang....
"Jangan kau coba-coba mendekati wanita sahabatku! atau kau rasakan akibatnya!!!" ucap Tomi menahan tebasan pedang pria misterius dengan pedangnya.
"Dasar pria pengganggu!!! mati saja lah kauu!!!" ucap pria misterius menyerang Tomi.
"Sayang.... hati-hati!!!" teriak Shiren khawatir.
Prang....prang....prang....
Kedua pedang mereka beradu diudara membuat suara yang memekakkan telinga.
"Kau sudah cukup bermain-mainnya!! sekarang tunjukkan wajahmu itu!!!" ucap Ti mengeratkan pegangan pedangnya lalu menyerang pria misterius.
Topeng yang digunakan pria misterius itu terbelah menjadi dua. Baik Tomi dan semua orang disana seolah berhenti bernafas ketika melihat topeng itu berceceran ditanah.
"Dendi?!!" ucap Darel ketika pria misterius itu memperlihatkan wajahnya.
Wajah yang setengah terbakar itu terlihat sangat mengerikan.
"Yah, ini aku!! selamat bertemu kembali Darel!" ucap Dendi.
"Dia?! bagaimana dia bisa hidup lagi setelah kita habisi bersama kelompok Drago Mark yang lain dulu?" tanya Tomi bingung.
"Hahaha, aku tidak bisa dengan mudah kau habisi bocah tengik!" ucap Dendi.
"Aku bisa kabur dari tempat itu melalui jendela sebelum kalian meledakkan tempat itu." ucap Dendi.
"Hiss!!! seharusnya aku menurut kata Jack untuk memblokir semua akses jendela dan pintu waktu itu!" gerutu Tomi merutuki kebodohannya.
"Itulah tuan! makanya kalau saya kasih saran tuh didengerin!" teriak Jack yang mengeluarkan kepalanya sedangkan badannya masih berada didalam mobil.
"Hisss!!! diamlah kau!!" hardik Tomi membuat Jack kembali memasuki mobil.
"Sudah dibilang kita lihat saja! ngeyel sih! kena omel kan!" ucap Adi sambil bersidekap dada.
"Kan memang bener tuan Tomi yang salah kok!" ucap Jack tidak mau kalah.
"Heh gitu-gitu juga bosmu! mau kau dihajar sampai menuju tak terbatas dan melampauinyaa!!" ejek Adi sambil memperagakan salah satu karakter di animasi anak.
"Dih, sok iyee!" gerutu Jack.
__ADS_1
"Apa kau bilanggggg!!!!" ucap Adi menatap Jack tajam.
"Hehehe, tidak tuan!! damaiii....damaii!!!" ucap Jack cengengesan sambil mengacungkan dua jarinya.