Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 68


__ADS_3

Mentari, nyonya Ardi, dan Randita membantu memasak didapur. Hal ini sangat jarang terjadi dirumah besar mengingat nyonya Ardi yang memang jarang berada didapur. Selebihnya mengenai tugas dapur dia serahkan pada kepala pelayan disana.


Hari itu entah mengapa mereka bertiga sangat kompak untuk membuat makan malam bersama. Randita yang sebenarnya letih pun ikut membantu dan bercengkrama pada mama dan calon adik iparnya, Mentari.


"Wah...wah...wah, ada angin apa ini kok spesial sekali kelihatannya, sampai mama, Randita, dan Mentari kompak masak didapur?" tanya tuan Ardi yang baru saja keluar dari kamar dan langsung menuju dapur.


"Ah, papa ini nggak ada hari spesial kok. Cuma perayaan kecil-kecilan aja buat menyambut adik iparku ini!" goda Randita pada Mentari sambil menyiku lengan Mentari pelan.


Mentari yang mendapatkan godaan seperti itupun entah mengapa menjadi sangat malu. Wajahnya mulai memerah saking malunya.


"Hahahaha, lihat wajah menantumu ini ma, sudah seperti tomat yang siap dipetik saja!" tambah tuan Ardi yang juga ikut menggoda Mentari.


"Papa, Randita sudah dong jangan goda menantuku lagi, lihat tuh gara-gara ulah kalian masakannya hampir gosong!" ucap nyonya Ardi mengarahkan pandangannya kepada ayam yang digoreng Randita yang hampir gosong.


"Eh, ya ampun! saking senangnya menggoda adik ipar jadi tidak fokus memasak kan!" ucap Randita yang langsung mengangkat ayam gorengnya yang sudah hampir gosong.


"Untung masih bisa dimakan!" ucap Randita lagi.


Nyonya Ardi hanya menggelengkan kepalanya.


"Sudah-sudah, papa lebih baik menunggu dimeja makan saja, mengacau kalau disini terus!" ketus nyonya Ardi.


"Kok jadi mama sih yang lebih galak?" omel tuan Ardi.


Tuan Ardi pun memutuskan untuk menuju meja makan setelah mendapatkan tatapan tajam dari istrinya. Yah, diluar sana tuan Ardi memang sang penguasa dunia bawah dan dunia pengusaha namun jika didalam rumah dia tetap suami yang menuruti perintah istrinya.


Tidak berselang lama, makanan pun sudah tersusun rapi dimeja makan. Darel, Rangga, Juna, Frans, dan Arya juga sudah duduk dimeja makan. Mereka pun makan bersama dengan lauk yang beragam.


"Wah, siapa yang membuat sup ayam ini?" ucap tuan Ardi.


"Sa...saya pa, apa sup nya tidak enak? kalau tidak enak saya buatkan yang baru saja ya!" ucap Mentari hendak mengambil mangkuk yang berisi sup buatannya.


"Oh tidak-tidak Mentari, sup ini rasanya sangat enak, bahkan jauh lebih enak dibandingkan dengan sup buatan chef disini!" puji tuan Ardi sambil terus menyendok sup buatan Mentari yang ada dipiringnya lalu memakannya.


"Yang benar pa? papa tidak bohong kan?" tanya Mentari memastikan.


"Iya loh sayang, sup buatan kamu ini enak banget! mama aja belum pernah makan sup seenak ini!" puji nyonya Ardi setelah mencoba sup buatan Mentari.


Semua yang ada dimeja makan juga ikut memuji sup buatan Mentari. Bahkan Arya sangat suka dengan sup itu hingga menghabiskan banyak sup.


Darel yang penasaran seperti apa rasa sup itu pun ikut mencoba. Saat sendokan pertama masuk kemulutnya....

__ADS_1


"Wahhh, ini enak banget!" teriak Darel spontan.


Semua mata langsung mengarah pada Darel yang berteriak ditengah makannya, tidak seperti biasanya.


"Heh, bahkan Darel saja yang tidak pernah memuji orang sekarang memuji masakan mi dengan sangat lantang!" sindir tuan Ardi sambil melirik kearah Darel.


Darel yang mendengar sindiran papanya itu pun langsung terlihat canggung.


"Ehemm, siapa yang bilang enak, orang aku muji masakan mama kok!" ucap Darel berbohong.


"Hahaha, iya-iya masakan mama emang enak, tapi sepertinya bakal dikalahkan deh sama masakan Mentari!" goda Randita pada adiknya ini.


"Benar tuh kak, disini aja bilang nggak enak. Tapi nanti kalau udah satu rumah masakan yang lain jadi nggak enak pasti, aku jamin deh!" goda Juna yang sedari tadi hanya tertawa sambil mendengarkan yang lain.


"Hahaha kau benar Jun, pasti nih nanti kalau udah nikah sama kakak ipar behhh, pasti deh tuh masakan yang lain kalah deh!" timpal Frans.


Darel yang merasa dipojokkan itu pun hanya diam, sedangkan Mentari juga diam bingung mau bicara apa.


Mentari pun memutuskan untuk melahap makanannya dan hanya sebagai pendengar saja.


Belum apa-apa saja sudah jadi bahan ejekan begini! aduhhh, malu banget deh aku! eh Iwang gimana ya kabarnya? dia bilang neneknya sakit, apa aku jenguk aja ya? tapi kan aku nggak tahu rumahnya! batin Mentari.


Darel yang tidak sengaja melihat kearah Mentari pun terheran-heran.


Meja makan hari ini terlihat begitu hangat dan ramai. Banyak orang yang makan bersama terlepas biasanya hanya tuan dan nyonya Ardi saja yang makan dimeja itu. Namun juga tidak jarang Darel datang berkunjung dan makan bersama orang tuannya.


Suara keceriaan menyelimuti meja makan. Tawa mereka seakan tidak ada habisnya. Setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk menuju ruang keluarga ditemani cemilan buatan Chef dan beberapa potong buah-buahan sambil menonton televisi.


Mentari sangat dekat dengan Arya, bahkan saat menonton televisi pun Arya minta dipangku oleh Mentari. Mentari yang notabene orang yang ramah dan suka anak-anak pun dengan senang hati memangku calon keponakannya tersebut.


"Kakak, kakak kok cantik banget sih! nggak cocok sama Om Darel!" celoteh Arya.


Hal itu membuat seluruh keluarga tertawa geli.


"Kalau tante Mentari tidak boleh menikah sama om Darel, terus bolehnya sama siapa dong!" timpal Rangga.


"Ya sama aku dong! aku kan lebih ganteng dari om Darel, dan lebih imut!" jawab Arya sambil menempelkan kedua telunjuknya dipipi kanan dan kirinya serta memanyunkan bibirnya.


"Hahahaha, hayoh loh Darel jangan Arya saja bisa menilai Mentari itu cantik, masa kamu nggak sadar-sadar juga! hahahaha!" ucap Randita disambut tawa oleh semua orang.


"Ish, kalian ini kesini untuk pernikahanku atau untuk mengejekku sebenarnya?" dengus Darel.

__ADS_1


Ya kali Mentari mau nikah sama bocil berusia 5 tahun! batin Darel.


Mentari dan yang lainnya hanya dibuat tertawa melihat sikap Darel itu.


Semoga kau segera menyadari bahwa yang kau dapatkan sekarang bukan hanya emas, tapi berlian! batin tuan Ardi.


Darel hanya menunjukkan wajah masamnya melihat keluarganya lebih sayang dan memuji-muji Mentari ketimbang dirinya.


********


Disisi lain....


"Hai ambilkan satu botol wine lagi!" teriak Ozan yang sudah setengah tepar.


Ozan, Erik, dan beberapa anak buah mereka mabuk bersama dibar xxx. Ozan dan Erik bahkan sudah menghabiskan banyak wine namun masih belum tepar sepenuhnya.


"Aku dengar markas si breng*es itu dibobol orang!" ucap Erik pada Ozan.


"Hahaha tentu saja, aku yang beritahu mereka tentang markas rahasia Darel itu, hahahaha!" ucap Ozan bangga.


"Heek, apa kau juga yang beritahu mengenai tawanan Darel?" tanya Erik sambil sendawa.


"Tentu saja, siapa lagi kalau bukan aku!" ucap Ozan sambil menenggak habis satu botol wine yang baru diantar pelayan.


Ozan pun sudah tertidur pulas, diikuti Erik yang memang juga sudah menghabiskan banyak wine.


********


Dimarkas besar Drago Mark....


"Bagaimana keadaan kalian?" tanya bos besar pada pembuat onar diperusahaan Darel.


"Sudah lebih baik tuan! terimakasih karena sudah menyelamatkan kami dari bajingan Darel itu!" ucap Banu.


Ya, Banu adalah otak dari penyebaran berita hoaks itu.Aziz dan Fikri yang merupakan saingan perusahaan Darel juga ikut membantu Banu yang memang notabene adalah orang yang iri dengki pada kesuksesan perusahaan Darel. Meskipun Banu juga termasuk kedalam salah satu investor diperusahaan Darel, namun tidak membuat rasa iri tersebut hilang dari dalam dirinya.


"Hahaha, kau tidak perlu berterimakasih dengan cara ini!" ucap bos besar.


"Lalu dengan apa kami harus berterimakasih tuan?" tanya Aziz.


Bos besar Drago Mark membalas dengan senyuman yang penuh arti.

__ADS_1


"Kalian tunggu saja nanti!" ucapnya lalu pergi meninggalkan ruangan ketiga pembuat onar itu.


Apa yang di rencanakan orang itu sebenarnya? apa dia ada kaitannya dengan Darel? dan siapa Darel itu sebenarnya? batin Banu.


__ADS_2