Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 175


__ADS_3

Galih terlihat celingukan. Sosok Daniar tidak kelihatan hadir bersama kedua orangtuanya.


"Daniar sedang berlibur dengan Mentari dan sahabatnya Darel termasuk Zanu!" ucap mama Daniar.


"Oh!" sedih.


"Ah iya, ini tadi mama masak rendang, kamu cobain ya?" membuka rantang yang dibawanya dari rumah.


"Iya mah, Galih kangen banget sama masakan mama!" ucap Galih lalu duduk dihadapan orang tuanya.


Papa Daniar masih berdiam tidak menanggapi percakapan istri dan anak sulungnya. Emosi yang memuncak, mungkin itulah penyebab diamnya pria itu.


"Emmm, enak banget mah!" ucap Galih dengan lahap menyantap masakan mamanya dengan berlinang air mata.


"Hikss.... maafkan Galih ya ma, pa! Galih tau ini salah, Galih khilaf! Galih tidak bermaksud membuat Mentari keguguran....hiks....hiks...hiksss!!!" mengusap air matanya yang terus menerus jatuh dipipinya.


"Bagus kalau kamu sadar apa yang sudah kami lakukan itu salah, Galih!" menatap tajam anak yang selalu dia banggakan.


"Paa! udah ya, nggak baik ribut disini!" lerai mama Daniar.


"Kenapa? dia ada disini kan juga karena kebodohannya?! dia memang pantas mendapatkan karma ini!" teriak papa Daniar.


Galih terdiam, selera makannya juga sudah hilang sekarang. Papanya benar, ini semua salahnya.


"Apa sih yang ada di otak kamu? kamu sudah menjadi pembunuh calon keponakan kamu sendiri, Galih!!!! DIMANA OTAK KAMU, HAAA!!????" geram papa Daniar.


"Pa, sudah pa, sudah!" ucap mama Daniar mencoba menenangkan suaminya.


"Jika bukan karena mu, Mentari sekarang pasti sudah sangat bahagia dengan kehamilannya! kenapa kau merusak kebahagian wanita malang itu, haa???!!!"


" Kau tahu dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini! anak itu....anak itu adalah harapannya Galih, HARAPANNYA!!!! dan kau!!?? bukan hanya harapan Mentari yang kau lenyapkan Galih. Tapi impianku terhadapnya agar terus bahagia juga lenyap bersama anak itu!"


Papa Daniar tidak kuasa menahan air matanya lagi. Sungguh, dia benar-benar kecewa kepada Galih. Mama Daniar juga ikut menangis mendengar perkataan suaminya. Terasa sekali betapa sayang suaminya ini terhadap Mentari.


"Selama ini, papa tidak pernah sekecewa ini terhadapmu, Galih! tapi kali ini...." terhenti.


Papa Daniar tidak bisa melanjutkan kata-katanya, tenggorokannya tercekat karena menahan tangisnya.


"Kau....kau benar-benar membuatku kecewa, Galih! Aku, berbicara bukan sebagai ayahmu! tidak, aku bukan ayahmu saat ini! aku berbicara kepadamu sebagai ayah dari seorang putri yang karena mu dia kehilangan calon anaknya! sampai kapanpun, ayah ini tidak akan memaafkanmu!!!" ucap papa Daniar dengan penuh penekanan pada kalimat terakhirnya.


Papa Daniar langsung keluar dari ruangan itu. Mama Daniar yang bingung langsung menenangkan Galih.


"Nak, jangan dimasukkan hati perkataan papamu barusan! dia hanya sedang kecewa kepadamu! emm, makanan ini kamu makan saja nanti ya! jaga diri kamu baik-baik, ya!" mengelus pipi Galih dengan lembut.


"Ma...!?"

__ADS_1


Galih menangis sembari memeluk mamanya. Menyesal! hanya itu kata yang mewakilinya sekarang. Namun apa boleh buat, semuanya sudah terjadi. Bak nasi sudah menjadi bubur. Andai waktu bisa Galih putar kembali, dia akan memilih untuk mengikhlaskan Mentari bersama Darel dan bahagia bersama calon anak mereka.


"Sudah-sudah! jangan menangis lagi ya! mama pulang dulu, kamu hati-hati disini!" ucap mama Daniar dengan berlinang air mata.


"Jam berkunjung sudah habis!" ucap polisi yang mengawal Galih.


Galih dibawa kedalam selnya lagi sementara mama Daniar keluar kantor polisi menghampiri suaminya yang sudah menunggu didalam mobil.


"Pa?" ucap mama Daniar ketika sudah duduk didalam mobil.


"Papa gagal, ma!"


Deg...


Satu kalimat yang mampu merobohkan pertahanan mama Daniar.


"Tidak, pa! papa tidak gagal!"


"Papa sudah gagal mendidik Galih! papa gagal sebagai orang tua! papa sudah gagal, maaa!!!" tangis papa Daniar.


"Tidak pa, jangan katakan itu! Galih hanya salah jalan saja pa, dan dia sudah menyadarinya! papa jangan berkata seperti itu, pa!!" ikut menangis.


"Aaaa....maa!!! aaakhhhh!!!" teriak papa Daniar kesakitan sembari memegang dadanya.


"Pa? pa? papa kenapa, pa? papa!!!" teriak mama Daniar panik.


"Tolongggg!!!! tolongggg!!!!!! paa, bangun paaa!!! tolongggg, hiks....hiks....hiks....pa, jangan seperti ini, jangan tinggalkan mama, paaa!!!" mengguncang-guncangkan tubuh suaminya.


Beberapa polisi yang mendengar teriakan mama Daniar langsung berlari menuju mobil mereka. Dengan cepat papa Daniar dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan.


********


Sementara itu, Suli tengah menyantap makan siangnya. Nasi goreng dengan acar mentimun dan wortel diatasnya buatan salah satu chef baru di dapur.


"Bagaimana rasanya?"


"Enak banget kak, lezattt!!!" ucap pelayan yang lain.


"Ratna, kok diam saja? enak tidak?" tanyanya lagi.


"Enak kok kak, enak!" terus menyantap makanannya hingga habis.


Di dapur ini, Suli melepas penutup wajahnya karena dia yakin tidak ada satupun dari mereka yang mengenali wajahnya. Jadi selama bersama rekan-rekannya dia bebas memperlihatkan wajahnya.


"Ratna, kamu tinggal dimana?" tanya salah satu seniornya di bagian dapur.

__ADS_1


"Emmm, aku.....aku.....aku.....tinggal ditempat kumuh, kak! makanya aku sangat bersemangat saat mendengar disini membutuhkan tenaga tambahan!" kilah Suli.


"Oh, maaf ya Ratna! aku tidak bermaksud!" prihatin.


"Tidak apa kok kak!" ucap Ratna tersenyum getir.


Disisi lain, Daniar mendapat telepon dari mamanya ketika film masih diputar.


"APA??!!!" teriak Daniar.


Tubuh Daniar seolah menjadi lemas tidak berdaya. Air matanya jatuh begitu saja. Zanu yang mendengar teriakan Daniar langsung menghampirinya. Untung saja Zanu sigap dan langsung menangkap tubuh Daniar yang terlihat syok itu hingga membuatnya kehilangan keseimbangan tubuh.


"Niar!!! Niar, ada apa? siapa yang telepon?" tanya Zanu khawatir.


"Niar, ada apa? apa terjadi sesuatu dengan papa dan mama?" tanya Mentari khawatir.


"P....p....pa....papaa....." ucap Daniar terbata tidak bisa melanjutkan perkataannya.


Zanu yang penasaran langsung mengambil alih ponsel dari tangan Daniar.


"Hallo, tante, ini saya Zanu. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Zanu penasaran.


"Iya nak Zanu, ini papanya Daniar lagi dirawat di rumah sakit hiks....hiks....hiks....tante bingung, tante harus apa???" isak tangis mama Daniar.


"Dirumah sakit? sakit apa tante? baik kalau gitu Zanu dan Daniar akan kesana ya, tante tenang saja! semuanya akan baik-baik saja, Zanu janji!" ucap Zanu menenangkan calon mertuanya itu.


"Ada apa Zen?" tanya yang lain.


"Papanya Daniar dia masuk rumah sakit! aku dan Daniar akan kesana sekarang! maaf ya jika kami tidak bisa meneruskan liburan ini!" ucap Zanu.


"Sayang aku juga mau ikut! kita ikut yaaa, aku mohonnn!" pinta Mentari.


Papa Daniar sudah Mentari anggap sebagai ayahnya sendiri. Sosok yang sangat amat Mentari rindukan, setidaknya dengan kehadiran papa Daniar rindunya tidak terlalu terasa.


"Bagaimana kalau liburan kali ini kita tunda sementara, tidak bagus juga kalau tidak ada Zanu dan Darel kan?" usul Arul.


"Aku setuju! tumben kamu bisa berpikir dewasa, Rul?!" goda Tomi.


"Husstt, Tomi, ini bukan saatnya untuk bercanda!" ucap Rohan.


"Upss, maaf!" ucap Tomi.


"Baiklah kalian segera berkemas. Kita akan kembali ke kota sekarang juga!" ucap Zanu.


Mereka segera menuju kamar masing-masing lalu memasukkan kembali baju-baju yang baru saja mereka tata tadi. Begitu selesai mengemas baju, mereka langsung berpamitan kepada pengurus utama rumah ini karena harus pergi mendadak. Namun para pelayan yang sudah diterima akan tetap bekerja selama satu minggu ditempat itu sesuai perjanjian dengan gaji yang sama.

__ADS_1


Mereka kembali dengan cepat menggunakan pesawat pribadi milik Zanu.


__ADS_2