
Di ruang rahasia dirumah Zanu.
"Jadi, apa yang bisa aku bantu untuk kalian?" tanya Suli langsung pada intinya.
"Kami dengar kau mencuri file penting milik kelompok Nerezza, apa itu benar?" tanya Darel tanpa basa-basi.
"Bukan file yang terlalu penting juga sih!" ucap Suli.
"Apa? tapi menurut data yang aku peroleh, file itu sangatlah penting makanya kelompok Nerezza mengejarmu?!" bantah Jack dengan nada sedikit berteriak.
"Hahaha, kau sudah tertipu!" ucap Suli.
Suli merogok tas selempang kecil yang selalu dia pakai kemana-mana seperti tengah mencari sesuatu.
"Ini!" ucap Suli menunjukkan sebuah flashdisk miliknya.
"Apa kau punya komputer atau laptop?" tanya Suli kepada Jack.
Semenjak bertemu dengan Jack, Suli sudah tahu kalau dia seorang peretas makanya Suli bertanya hal itu kepada Jack.
"Ada!" ucap Jack masih cemberut tidak puas dengan ucapan Suli tadi.
"Nih!" menyodorkan laptop miliknya.
Suli memasangkan flashdisk itu pada tempatnya lalu mulai mengoperasikan laptop mencari sesuatu yang dia dapatkan dari kelompok Nerezza dulu.
"Ini, lihatlah sendiri!" ucap Suli memutar laptop sehingga layar laptop itu mengarah kepada Darel dan yang lain.
"Apa ini?" tanya Tomi dengan ekspresi menyepelekan.
"Inilah file penting itu!" ucap Suli bersedekap dada.
"Ini file yang katanya penting itu? sebuah foto anak kecil?" tanya Arul juga tidak percaya.
"Kau yakin itu file penting yang kau maksud?" tanya Darel juga kurang yakin.
"Yups!"
"Tapi kenapa ini sangat penting?! woy, come on! apa yang spesial dengan foto inii?!!!" tanya Arul sangat tidak mengerti.
"Baiklah aku jelaskan!" ucap Suli meletakkan kedua tangan diatas meja dengan ekspresi serius.
"Dia adalah anak kedua dari John Kert, sekaligus adik kandung dari Jayden Kert yang hilang saat usianya menginjak satu tahun." ucap Suli mulai menjelaskan.
"Lalu?!" tanya Tomi masih tidak paham.
__ADS_1
"Menurut pengamatan ku dulu saat masih menyamar, juga perkataan dari banyak anak buah serta orang kepercayaan John sifatnya berubah menjadi ganas ketika putri kecil ini hilang/diculik. Dan kalian pasti pernah mendengar kehancuran kelompok ini bukan?" tanya Suli.
Semua pria disana menganggukkan kepala.
"Itu hanya bentuk dari strategi untuk mencari nona kecil ini." ucap Suli.
"Jadi, kunci dari kelompok ini adalah anak kecil ini?" tanya Darel.
"Benar sekali. Kekacauan yang mereka buat, pen*ulikan, dan yang lain itu karena mereka ingin mencarinya karena tidak menemukan titik terang akhirnya mereka merampas semua anak kecil yang tidak berdosa itu. Karena belum juga menemukan anak yang mereka cari, mereka pun frustasi dan memerintahkan untuk menjual or*an mereka. Dan juga penculikan itu sebenarnya adalah motif untuk mencari anak kecil ini, namun anak lain yang menjadi sasarannya." jelas Suli panjang lebar.
"Tunggu....tunggu! jadi kita harus mencari anak ini jika ingin menaklukkan kelompok itu?" tanya Bagas.
"Iya lah, mau bagaimana lagi?" tanya Suli.
"Tapi kejadian penculikan itu sudah terjadi dulu sekali. Dan kita hanya punya foto masa kecil anak ini, bisa saja kan wajah saat dia dewasa berbeda dari masa kecilnya?!" ucap Rohan.
Meskipun tidak mengerti seratus persen, namun ada beberapa hal yang Rohan pahami.
"Kau benar! tapi kalian jangan lupa, kita punya sang ahli peretas disini!" ucap Darel menatap kearah Jack yang berdiri disamping belakangnya.
"A...aku?" tanya Jack kaget.
"Kenapa? kau memang ahli meretas bukan?" ucap Darel.
"Oh iya benar! aku lupa!" ucap Jack menepuk jidatnya sambil cengengesan.
"Terimakasih atas informasinya!" ucap Zanu.
"Bukan masalah, kalian juga sudah membantuku!" ucap Suli.
Kruyukkk..... kruyukkk....kruyukkk.....
"Hehehe, maaf itu tadi suara perutku! dari pagi kami belum makan!" ucap Suli cengengesan.
"Ah, iya sudah waktunya makan siang! sebaiknya kita makan siang saja dulu sambil menunggu Jack meretas anak itu!" ucap Zanu.
"Ide yang bagus! aku juga sudah kelaparan dari tadi!" ucap Tomi memegangi perutnya.
Mereka pun keluar dari ruangan itu menuju meja makan. Jack masih terus meretas bahkan saat ada di meja makan, dia masih tetap fokus kepada laptopnya sambil menunggu makan siang siap di sajikan.
Makan siang kali ini sedikit terlambat sehingga mereka memilih untuk makan buah terlebih dahulu untuk mengganjal perut mereka sebelum makanan inti.
********
Siang itu Daniar dan yang lain tengah asik menyantap makan siang mereka. Pie mangga buatan papanya sudah habis dimakan tadi.
__ADS_1
"Eh, kalian habis ini kita nonton yuk! ada film yang baru tayang loh! judulnya KKN di Desa Penari!" usul Daniar di sela makan.
"Nggak ah, pasti film horor! nanti kita nggak bisa tidur lagi Niar, kayak yang waktu itu!" ucap Mentari menolak.
"Ihh, ini tuh nggak sehoror yang dulu! ayolah aku penasaran banget nih sama film nya. Dari komenan sih kayak mistis gitu!" ucap Daniar berusaha membujuk.
"Itu bukannya film yang diadaptasi dari kisah nyata ya? temanku juga udah pada nonton sih katanya bagus banget!" ucap Anisa.
"Nah, kan! ayolah Tari sekalian kita belanja-belanja!" ucap Daniar masih berusaha membujuk.
"Emm, ya bolehlah kalau gitu!" ucap Mentari.
"Yes! aku pesenan dulu tiketnya sekarang takut nggak kebagian kalau nunggu beli disana!" ucap Daniar mengeluarkan ponselnya.
"Niar kalau makan jangan sambil mainan ponsel!" tegur mama Daniar.
"Ihh, bentar aja kok ma! cuma pesan tiket aja biar nanti nggak kehabisan!" ucap Daniar.
"Niarr!!!" panggil papa Daniar datar.
"Iya ma!" meletakkan kembali ponselnya.
"Hahaha, udah makan aja dulu! kamu kayak nggak tau papa sama mama aja!" ucap Mentari tertawa kecil.
"Iya tuh Tari, Daniar ini suka lupa kalau dimeja makan nggak boleh main hp! haihhh mesti diingetin terus nih anak!" ucap mama Daniar.
"Mama nih sebenarnya anak kandungnya siapa sih? aku atau Tari? kok aku terus yang disalahin!" rengek Daniar berdrama.
"Sudah-sudah, cepat habiskan! oh ya Anisa makan yang banyak ya! ibu hamil itu harus banyak makan karena buat menutrisi dua tubuh!" ucap mama Daniar.
"Iya ma, tapi nanti kalau banyak makan aku jadi gemuk!" ucap Anisa sedikit minder.
"Wanita gemuk saat hamil itu wajar! yang nggak wajar itu tetap kurus meskipun sudah hamil besar. Kelihatan nggak keurus sama suami!" ucap mama Daniar dengan berbisik saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Tuh dengerin Anisa! kalau kamu gemuk itu tandanya Arul ngurus kamu. Dia juga sayang sama kamu makanya saat kamu ngidam dia langsung nurutin!" ucap Daniar.
"Haha, iya juga ya!" ucap Anisa.
Anisa kembali bersemangat menyantap makanan dipiringnya.
********
Di apartemen Pretty.
"Hallo, iya kita jadi kok ke mall! setelah ini ya! nanti kamu jemput aku aja di apartemen!" ucap Pretty berbicara dengan temannya lewat telepon.
__ADS_1
"Oke-oke see you!" ucap Pretty mengakhiri obrolan mereka.
Pretty melangkah menuju kamar mandi. Acaranya hari ini adalah shopping bersama temannya di mall. Seperti biasa dia akan mengatakannya dulu kepada Aqis karena jika tidak pria itu akan marah seperti hari kemarin saat dia terlambat pulang. Padahal kan cuma makan makani, tapi dia marah seolah-olah Pretty mencoba kabur dari sana.